Oleh: Dr Apendi Arsyad
Syukron uda Erwin Syamsuar, begitu juga dari para Sahabat yg lain, dkk alumni SF IPB atas ucapan selamat, simpati, kiriman doa dan sarannya atas terpilihnya secara demokratis Prof Dr Arif Satria, SP MSi (Prof ASA) menjadi Ketua Umum ICMI Pusat untuk periode tahun 2021-2026.
Subhanallah dan alhamdulilah saya
sependapat dan setuju pandangan dan pendirian uda Erwin melihat kinerja MPP ICMI, dimana uda Erwin sebagai salah seorang Pengurus MPP ICMI yang kurang aktif, akibat fenomena kehidupan berorganisasi yang “tak sehat”, tidak sesuai harapan-harapan ummat. Hal ini saya akan menarasi secara singkat akan fenomena ini di dalam tulisan saya ini.
Alhamdulillah Profesor ASA for ICMI One.. sukses meraih apa yang kami usahakan dan perjuangkan. Selaku Koordinator timses, yang telah dibantu para adinda yakni antara lain Ir. Andi Irman, Dr Sofyan, Dr Doni, uda Ram, Dr (Cand) Gandi, Danang dan Badar serta ada beberapa pengurus Orda dan Orsat se Bogor membantu di forum dan gelanggang Muktamar VII.
Mereka telah bekerja profesional, penuh dedikasi dan solid, alhamdulilah kita ICMI Orwil Khusus Bogor, berkat pertolongan Allah SW, bisa mengungguli suara muktamirin Ilham Akbar Habibie terpaut hanya 5 suara saja. Dalam proses perhitungan suaranya kejar mengejar dan salib menyalip, yang membuat napas terengah-engah, dan tegang.
Saya sewaktu proses perhitungan suara sambil melihat layar juga tak henti-hentinya membaca ayat Quran surat Juz Ammah dan berdoa dengan khusuk semoga Prof ASA bisa memenangkan kompetisi dgn jumlah suara terbanyak. Alhamdulillah doanya dikabulkan Allah SWT, dan saya pun bersujud syukur di lantai dengan air mata pun berderai.
Kejadian ini menjadi salah satu kenangan manis (sweet memory) yang tak akan saya lupakan. Dalam Muktamar VII begitu banyak pelajaran (lesson learn) yang saya dapat, selain kesenangan dan kebahagiaan dari ikhtiar yang dilalukan bersama kawan-kawan se ideologis berjuang dan berkomitmen untuk suatu perubahan sosial baik internal dan eksternal orgsnisasi Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) yang kini berusia 31 tahun, milad ke 31 tgl 7 Desember 2021, lahir di kampus Universitas Brawijaya (UNBRA) Malang Jawa Timur yang diinisiasi 4-5 mahasiswa muslim UNBRA saat itu.
Proses demokrasi dalam Muktamar VII, begitu menegangkan, menguras tenaga dan pemikiran untuk tahap demi tahap persaingan untuk meraih kemenangan ASA for ICMI One. Kami dari Orwil ICMI berstatus khusus yang “smallest’ dari sisi jumlah Orda hanya punya 4, lk 21 Orsat, 2 Batom ICMI, alhamdulillah bisa melawan para raksasa, punggawa ICMI yang berkedudukan elite di negeri ini di luar Bogor.
Kami hanya menawarkan sosok dan vigur yang ilmuwan dan intelektual yang berkwalitas yakni Prof ASA. Kami sudah berkomitmen tinggi untuk tidak berbuat amoral misalnya transaksional jual beli suara (sogok menyogok), selain kami tak punya uang juga kami berpegang teguh pada moralitas agama dan keyakinan.
Kami pun meloby aktif para muktamirin, terutama yang menjadi sasaran kampanye adalah pimpinan Orwil yang pro perubahan, paham dan mengerti kebutuhan dan tantangan bangsa dan dunia 5 tahun ke depan. Kami pun bergerak cepat dan sigap mengumpulkan dukungan dari para peserta Muktamar ICMI VII yang besikap dan berperilaku “Good and Clean Governance”, melakukan identifikasi, memetakan dan mencatat dengan akurat peta kekuatan.
Kami rapat, meeting terbatas untuk menganalisis karakter dukungan, selanjutnya merumuskan langkah strategis dan taktis serta teknis apa dan bagaimana meraih dukuungan sejumlah delegasi, setelah dilakukan kegiatan Monev oleh Timses.
Kita sadah muak dan muntah dengan maraknya perbuatan korupsi yang merusak tatanan bernegara dan peradaban masyarakat dan bangsa yang socio relegius.
Alhamdulillah diujung niat yang ikhlas karena Allah, berikhtiar keras dan profesional di atas landasan ilmu, dan terus berdoa dan memasrahkan diri kepada Allah SWT, kami bisa mewujudkan ASA for ICMI One.
ICMI Orwilsus Bogor telah menyiapkan lk setahun yang lalu, untuk memperjuangkan kader terbaiknya untuk bisa bertarung di tingkat nasional. Karena kami juga melihat dan mengamati gusture MPP ICMI tidak sesuai dengan khittah ICMI dan aspirasi ummat Islam Indonesia. Singkat kata, gusturenya semakin jauh dari getaran hati nurani ummat dan bangsa. Untuk itu perlu ada reposisi dan rekontruksi peran dan fungsi ICMI menghadapi era disrupsi.
Kami sangat bersyukur kepada Allah SWT atas “kemenangan” ini, tanpa izin dan rezekiNya secara logika (rasional) tidak mungkin ASA menjadi Ketum ICMI periode 2021-2026.
Semua orang tahu pelaksanaan Muktamar ICMI di lapangan kondisi generasi Zaman Now (gen Z) head to head Generasi Zaman Old (generasi pendiri ICMI thn 1990). Saya menyimpulkan forum Muktamar VII thn 2021 tgl 4-6 Desember 2021 adalah arena kompetisi antara generasi yang ingin perubahan melawan kubu “konservatif” yang belum rela adanya regenerasi kepemimpinan yang diserahkan kepada generasi millenial (bukan pendiri).
Saya AA sebagai orang yang ditugaskan dan diberi kepercayaan oleh adinda ASA untuk mengelola kompetisi ini, alhamdulillah sangat paham atas fenomena sosial ini. Saya memiliki bukti dan pengalaman berinteraksi dengan berbagai pihak yang menguras tenaga dan pemikiran, tapi alhamdulillah tidak mengeluarkan money sepeser pun. Mesin politik kami bekerja atas landasan keikhlasan yang berupaya memegeng teguh etika, moral dan kaidah kaidah agama Islam yang bersumber QnS: Ahlaqulkarimah.
Apa yang saya katakan ini faktual dan rial terjadi di lapangan bahwa telah terjadi pertarungan “head to head” antara The ruling party ICMI zaman Old, yang selama ini merasa enak dan nyaman, berhadapan dengan Kepemimpinan Cendekia Millenial power.
Saya jujur berkata bahwa “kemenangan” kami raih, menempatkan ASA for ICMI One, bertarung di arena Muktamar VII yang baru usai, hasilnya bukanlah hasil “pemberian” dari para senior ICMI yang telah lama berkuasa. Tapi ini adalah pertolongan Allah SWT, dimana kami telah bekerja dengan niat mulia untuk menegakkah “amar makruf nahi mungkar”, disertai kekuatan ipteks.
Sebagai pertanggungjawaban kami selama satu tahun timses ini bekerja. Kami telah menjalan agenda dan kegiatan sosialisasi, promosi, kampanye, mendekati, meloby, dan mediasi para stakeholders, para simpatisan, bakal dan calon pendukung ASA for ICMI One, dilalukan secara persuasif, edukatif dan manusiawi, “human touch”.
Apa-apa yang telah kami kerjakan antara lain:
1. Forum2 diskusi untuk mengkoleksi isu2 strategis sbg materi promosi visi dan misi serta agenda aksi;
2. Sosialisasi vigur Kepemimpinan Millenial Cendekia yakni sosok Prof.ASA, seorang ilmuan (akademisi) dan pemimpin yang berhasil neraih prestasi dan penghargaan baik dalam dan luar negeri, melalui media forum yg didesain sedemikian rupa. Kunjungan silaturrahmi ASA ke beberapa Orwil-olwil dipandang strategis dan Batom ICMI dilakukan dengan baik.
Kami melaksanakan dua kali kegiatan webinar dgn tema ICMI untuk Indonesia yang menampilkan nara sumber utama Prof ASA dilengkapi pembahas dari Ketua/Sekretaris Orwil ICMI yang representasi wilayah, alhamdulillah dua forum yang diikuti peserta pimpinan Orwil, Orsat dan Batom se-Indonesia berdampak positif dan memberikan energi positif terhadap pemahaman tentang tantangan, kebutuhan dan permasalahan ICMI serta Kehidupan Ummat dan Bangsa kini dan masa depan. Muara dari ikhtiar ini gagasan ASA yang.genuin dapat dipahami para sahabat ICMI di wilayah dan daerah-daerah yang jauh dari pusat kekuasaan Jakarta.
Kemudian kami membuat artikel atau tulisan populer yang ringan yang dimuat di media sosial (WAG) forkom Orwil se Indonesia dan media cetak seperti Harian Umum Koran Republika, Media Indonesia, dll. Konten materi kampanye ASA for ICMI One dikemaskan dengan baik dengan bahasa yang mudah dimengerti khalayak (public) mengenai posisi, peran dan fungsi kekinian ICMI (ICMI zaman Now).
Dengan arti kata lain, hasil yang kami raih untuk mendapat posisi Ketum ICMI Pusat periode 2021-2026, bukanlah proses suksesi diberikan oleh para Senior, generasi pendiri ICMI. Akan tetapi ini adalah usaha keras kami, berkerja keras menggunakan otak dan hati serta bermunajat kepada Allah SWT untuk diberikan jalan keselamatan, dan berikutnya mampu membawa ICMI ke arah yang lebih baik sesuai Visi dan Misi ASA for ICMI, antara lain ICMI menjadi rumah besar Umnat Islam Indonesia, ICMI menjadi wadah aspirasi ummat bangsa dan umat manusia (global); ICMI menjadi perekat umat dan bangsa; ICMI menjadi bagian solusi dari kehidupan bermasyarakat, bangsa dan negara.
Paling tidak perannya ICMI bisa berkontribusi membantu merumuskan, mengawal dan mengontrol kebijakan publik dan regulasi yang dikeluarkan Pemerintah RI yang bertentangan sistem nilai QnS, Pancasila dan UUD 1945, yang selama ini hampir satu dasawarsa terakhir, MPP ICMI lemah dan alfa berperan dalam aspek dan ruang ini. Sehingga fakta yang terjadi banyak UU, PP dan Peraturan Menteri dan tindakan dibawahnya bertentangan dengan hati nurani rakyat dan bertentangan jiwa dan semangat UUD 1945 dan sila-sila Pancasila serta syariat agama Islam.
Sebagaimana yang pernah muncul UU HIP yang melecehkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (aqidah) dan syariah agama Islam, UU Minerba yang.memberikan ruang luas pada oligarky yang mengabaikan perusahaan negara (BUMN) dan BUM Koperasi, UU Cipta Kerja yang memberikan karpet merah kepada pemilik.modal (ologarky) yang menjadikan buruh pabrik sebagai alas kaki, jadi wajar kiranya UU Cipnaker ini diplesetkan oleh pakar hukum.menjadi UU “Cilaka”, juga UU pelemahan KPK memberikan napas bagi para koruptor yg merusak bangsa dan negara ini.
Kemudian lahir lagi RUU tentang perbuatan kekerasan keluarga yg ditunda pengesahan krn penolakan Ormas Islam. Setelah itu ber-metamorphosis menjadi Permendikbud RI nomor 30 tahun 2021 yang mengatur kehidupan kampus PT mencegah perbuatan pelecehan sexual tapi kenyataan peraturan ini “melegalkan” dan memberi ruang gerak perbuatan amoral perzinahan LGBT di kampus Universitas-universitas di tanah air diberi ruang, dan banyak lagi yang lain.
Kesemua RUU dan disyahkan menjadi UU, kenyataannya sangat lambat dan bahkan tidak direspon oleh MPP ICMI. Padahal kami di Orwil, Orda, Orsat dan masyarakat akar rumput sangat resah dan gelisah, menunggu sikap korektif sesuai watak 5K cendekiawan muslim, tidaklah muncul, tidak proaktif.
Sementara Ormas Islam lain seperti Muhammadyah, KAHMI, NU dll sudah bersikap menolak keras dan tegas dengan berbagai argumentasi yang imtaq dan ipteks. MPP ICMI zaman old, terutama Pimpinan Dewan Pakarnya diisi dan diperankan para politisi bahkan Ketum Parpol yang barang tentu berpotensi besar meninggalkan karakter ICMI sebagai wadah tempat berhimpunnya para Cendekiawan, para pakar dan para Ustadz serta ulama yang peduli dengan kondisi dan nasib rakyat dan umat Islam.
“Life style dan gusture” Kepemimpinan ICMI masa lalu saran dengan aroma dan kepentingan politik, pragmatisme ketimbang idealisme yang berlandaskan sistem nilai keislaman (imtaq), kecendekiawan (ipteks), dan keindonesia (nasionalisme religius), yang terlupakan.
Arus baru aspirasi eksponen ICMI dari sejumlah Orwil se Indonesia yang memilih Profesor Arif Satria, Rektor IPB Universuty dan Ketua ICMI Orwil Khusus Bogor, dipilih mereka dengan penuh harapan agar ICMI selamat memasuki dunia ketidakpastian (desrupsi) yang bercirikan VUCA, era millenial dan era digital saat ini. Adanya destrupsi akibat munculnya tantangan baru untuk beradaptasi dengan kehidupan sosial yabg baru “new normal socety” akibat adanya perubahan iklim global (climate change), masyarakat industri 4.0 sarat dengan ITC digital dan pandemi Covid 19.
Tantangan dan kebutuhan baru inilah memberikan jalan yang mengantarkan ASA menjadi Ketum ICMI periode 2021-2026 dengan kemenangan yang sangat tipis hanya 5 suara melalui proses demokrasi yang alot tersebut.
Di dalam tulisan ini saya ingin berkata dan menarasikan raihan Prof ASA menjadi ICMI One, bukan hasil pemberian, kerelaan atau “belas kasihan” dari generasi Old, kaum elite pendiri ICMI tahun 1990 di kota Malang, akan tetapi justru mereka kaum Old ikut berkompetisi dengan Prof ASA untuk menjadi Calon Ketum setelah tadinya lolos sebagai bakal calon. Hal ini membuktikan bahwa Prof ASA merupakan hasil perjuangan yang keras, usaha yang berkeringat, dengan melobi dan menyakinkan para pemilik suara Muktamirin yang berpikir rasional, objektif, paham kondisi permasalahan bangsa, negara dan daerah (Provinsi/Kabupaten-Kota) asal mereka, sehingga jatuh hati dan memilih Prof ASA sebagai Ketua Formatur Muktamar VII di Bandung ini.
Mereka para simpatisan dan pendukung Prof ASA tidaklah bersikap pragmatis di lapangan, justru ketika bertatap muka dengan Prof ASA, para delegasi menyampaikan gagasan pembangunan daerahnya (higt politic), sungguh menggembirakan mendengarnya seperti Orwil ICMI Maluku dan Banten. Kemudian calon tim formatur Prof ASA menjawabnya dengan baik, dan informasi itu sebagai masukan untuk pengembangan program yang bersifat desentralisasi di MPW ICMI, bukan lagi kegiatan terpusat semuanya di MPP ICMI (sentralisasi), lihat LPJ MPP ICMI periode lalu yang telah demisioner, yang belum menggambarkan perspektif sesuai khittah dan 5 K ICMI.
Kami memang telah berkampanye cerdas, persuasif untuk meraih dukungan suara dari wilayah dan daerah ICMI dengan komunitas ber ideologis, seperti Orwil Maluku, Orwil Banten,
Orwil Aceh, Orwil Sumbar, Orwil Kep. Riau, Orwil Riau, dll bersemangat untuk melakukan perubahan sosial dan mengkoreksi terhadap kinerja MPP ICMI selama ini, dan menolak serta-mengharamkan perbuatan transaksional dalam Muktamar ICMI seperti suap menyuap dan sogok menyogok (lihat dan baca artikel saya AA di media LEAD.co.id berjudul “Sebuah Harapan untuk Muktamar ICMI VII di Bandung”.
Mohon maaf jangan salah paham, saya tidak menuduh adanya transaksional kepada individu seseorang dan institusi tertentu di.Mutamar ICMi.baru-baru ini.Saya hanya sekedar mengingatkan janganlah sampai terjadi perbuatan melanggar kaidah hukum dan agama Islam tersebut masuk ke organ ICMI baik di pusat, regional dan daerah, nauzubilahiminzaliik.
Timses Prof ASA for ICMI One sebelum berangkat dari Kota Bogor ke gelanggang Muktamar ICMI VII di Bandung, sudah kami tegaskan dan berkomitmen menolak keras transaksional material, dan kami menawarkan dengan percaya diri toko akademisi dan pemimpin Perguruan Tinggi yang masih muda usianya dan energik sangat layak menggantikan kakanda senior Prof Jimly Assidiqie generasi pendiri yang harus diganti secara demokratis, tanpa ada proses musyawarah mufakat. Karena kami tak mampu melakukan dan meyakinkan proses musyawarah untuk mufakat untuk memilih Ketua Tim Formatur Muktamar ICMI VII itu. Hal ini akibat banyaknya para “punggawa” ICMI yang berumur 60 tahun ke atas masih mau ikut berlaga, mencalonkan diri dan menang sebagian besar diantarannya menjadi anggota Formatur/pembantu Ketum ICMI yang baru.
Alhamdulillah Allah SWT memberikan kesempatan kepada Prof ASA, anak muda millenial, meninggikan derajatnya untuk siap memimpin kaum “generasi Old” di tataran dan jajaran MPP ICMI periode yang akan berlangsung nanti. Kita berharap stamina elite ICMI dari generasi Old di eksekutif (waketum) bisa mengikuti irama kerja, stamina, pro aktif dan memiliki pola berpikir Pemimpin Muda Baru (a young and new leader) ICMI: Prof Dr Arif Satria, SP MSi ini. Saya berharap janganlah menjadi penghalang dalam dinamika perjalanan kepemimpinan 5 tahun ke depan, dan agar stamina terus membaik jangan lupa menjaga kesehatan dengan mengkonsumsi vitamin yang halalan-toyiban.
Tapi dalam proses pertarungan dan kompetisi Prof ASA diterpa isu negatif dan kompanye hitam tersebut itu, kami tidaklah berkecil hati, justru kami membalik isu negatif menjadi positif, dan kami bekerja keras untuk merawat para pendukung ASA bahwa Prof ASA bukanlah antek Jokowi sebagaimana yang dituduhkan, dan juga dituduhkan orang baru aktif di ICMI, itu jelas keliru dan menyesatkan, fitnah. Padahal adinda ASA sdh aktif di Batom MASIKA ICMI Orwil Khusus Bogor sejak tahum 1993, kemudian aktif di jajaran pengurus Orwil ICMI Bogor hingga sekarang.
Alhamdulillah isu itu bisa kami lawan (counter issue) di arena Muktamar ICMI VII dengan sabar, cerdas dan penuh kearifan. Dampak negatifnya luar biasa terhadap calon kami Prof ASA, yang tadi hasil observasi dukungan 65 – 75 % bergeser ke angka dukungan ASA 55 – 65 %, apalagi para penggawa ICMI Pusat yang bercokol, nampaknya belum selesai hidupnya dan berkuasa, masih berambisi mempertahankan kekuasaanya di MPP ICMI seperti para Waketum, Sekjen, bahkan Ketum dan Ketua dan Sekretaris Wankar ICMI yang notabenenya adanya diantaranya Ketum dan elite Parpol yang pro (koalisi) Pemerintahan RI saat ini.
Memang soal berusia tua tidak dilarang AD dan ART ICMI, tetapi vigur Ketum Parpol ditolak ART ICMI, tetapi tetap saja dilanggar. Sejarah melemahnya (fasipnya) fungsi dan.peran Wankar ICMI Pusat periode sebelumnya janganlah sampai terulang kembali, jika vigur Parpol masih bercokol di MPP dan Wankar ICMI Pusat. Kita harus intropeksi dan mawas diri agar tidak mengecewakan warga ICMI dan ummat Islam.
Mereka ikut berkompetisi menjadi kontestan yang berhadapan “head to head” dengan jago dari Orwil khusus Bogor yang sangat kecil secara kuantitas masa, tetapi unggul secara konsepsi dan ideologis. Dari fakta ini, saya ingin mengoreksi dan membantah, proses suksesi kepemimpinan ICMI tidak terjadi secara wajar, akan tetapi arus bawah dari Orwil-orwil ICMI begitu kuat keinginan mereka untuk melakukan secara konstitusional atas demokrasi power, ketika para elitenya belum mau dan tidak siap turun melepaskan hegemoni kekuasaannya dari generasi pendiri (generasi zaman Old). Ini menarik untuk dikaji dan dipelajari gejala sosial negatif, keluar dari jati dirinya, yang tak pantas dan tidak wajar terjadi di ormas Islam yang menyandang predikat cendekiawan muslim Indonesia.
Justru isu dan intrik ” negatif dan hitam” itu sangatlah keliru dan salah mempersepsikan individu ASA.dan memahami wataknya. Dan isu dan intrik ini telah kami koreksi, dan cepat kami luruskan informasinya. Pihak kompetitor bermanuper dan berencana merontokan dukungan terhadap calon kami: Prof.ASA for ICMI One, yang ketika itu semakin menguat dan membesar.
Mereka pihak sebelah bermanuver dan ingin merontokkan reputasi dan apresiasi terhadap Prof ASA dengan pembunuhan karakter. Faktanya, memang vigur dan sosok Prof ASA sebagai Rektor IPB University, sebuah PT yang exellence dgn karya inovasi terbanyak di negeri ini, konsekwensinya membuat Prof ASA tidak berjarak (not social distance) dengan RI Satu dan Dua, group of the ruling party, dan “tidak berlawan” arah dengan regim yang tengah berkuasa akibat kualitas kepakaran dan kecendikiawannya bisa membangun keseimbangan (ceck and balancing power) dan menjaga serta merawat harmoni. Itulah ferfomance Prof ASA yang relatif muda usia, energik, percaya diri dan cerdas serta memiliki jejaringan yang luas baik domestik dan global.
Prof ASA dalam perjalanan hidupnya berkarier, bukanlah seorang tokoh akademisi dan pakar yang dimiliki negeri yang mudah dikendalikan oleh “istana” sebagaimana yang dituduhkan pihak sebelah. ASA banyak juga proaktif mengkritisi, memberikan argumentasi solusi, jika ada kebijakan dan regulasi publik yang menyimpang secara prinsip ketika saluran tertutup, Prof ASA selaku Rektor IPB University pernah ikut demo ke DPR RI atas munculnya RUU pelemahan KPK.dll.
Beliau Prof ASA sering juga menulis dengan aneka gagasan inspiratif di media massa seperti penerbitan buku, artikel di koran, majalah dan wawancara media sosial WA, Podcast, dan Yoetube etc tentang menentang impor pangan. Bahkan Prof.ASA pernah menjadi salah seorang panelis yang ditunjuk KPU untuk dialog kandidat Presiden RI, ini sebagai bukti bahwa Prof ASA seorang indefenden, berwatak kuat, bersih dan tidak berafiliasi dengan konsten tertentu atau Parpol apa pun. Hal ini sdh kami clearkan dan bantah selaku Kortimses ASA for ICMI one waktu itu.
Para Menteri memang dan bahkan Presiden Jokowi sering diajak dan diminta pemikiran dalam menganalisis, bertukar pikiran dan mencari solusi terhadap permasalahan bangsa dan negara. Ini merupakan asset dan modal sosial bagi kelancaran pelaksanaan visi dan misi 5 K ICMI (peningkatan kualitas imtaq, pikir (ipteks), karya (inovasi), hidup (IPM, social walfare meningkat dan merata secara berkeadilan sosial) dan Keluarga Sakinah mawaddah warohmah. Inilah misi ICMI yang menjadi indikator keberhasilan, bukannya banyak agenda seremonial bertemu para petinggi negara dan pejabat negeri.
Keberhasilan implementasikan 5 K (K=Kualitas) ICMI menuntut lahirnya seorang pemimpin baru ICMI nasional yang genius, bersih dan punya akses ke RI Satu atas kekuatan modal sosial yg surplus (bukan defisit) dimilikinya, sehingga mampu menjembatani (breadging) berbagai kepentingan dan aspirasi, khususnya kepentingan ummat Islam dengan Pemerintah RI (the ruling party), agar tidak terjadi polarisasi karena distrust society akibat tidak adanya saluran komunikasi yang efisien dan efektif. Jika ini dibiarkan MPP ICMI lalu, maka berpotensi besar akan merugikan (lose and lose solution) bagi perjalanan dan dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara (NKRI). Di sini lah letak titik krusial yang terjadi, karena Ketum MPP ICMI selama ini “agak pasif”, bersikap ambigu, kurang bersuara lantang, lembek dan kurang keras dan tegas, bahkan “nyeleneh” terhadap kebijakan dan regulasi publik yang merugikan, meresahkan, membuat gaduh dan memancing emosi umat Islam Indonesia spt RUU HIP etc.
Harapannya untuk kepemimpinan ICMI yang baru harus mampu mengisi ruang opini publik, peran konstruktif, sehingga bisa mencegah terjadinya pola relasi disharmonis, ketegangan dan pertentang sosial secara diametral, froksi antara Ormas dan Lembaga Islam dgn Pemerintah RI yang syah, yang mendatangkan konflik sosial vertikal yang bisa berkepanjangan, membuat kehidupan umat mundur dan marginal, yang akhirnya bisa mengancam eksistensi NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
InsyaAllah Prof ASA bisa memahami gejala sosial dan mau serta mampu berbuat sesuai aspirasi ummat Islam dan bangsa Indonesia. Semoga Allah SWT memberkahi, Amiin3 YRA. syukron, barakallah.
Jayalah ICMI Kita, sehat dan tetap bersemangat..
Penulis adalah Pendiri dan Ketua Wankar ICMI Orwilsus Bogor juga diberi amanah Koordinator Timses Prof.ASA For ICMI One Muktamar VII; Pendiri dan Dosen Universitas Djuanda Bogor, Konsultan K/L negara kini TA P3PD Ditjen Bina. Pemdes Kemendagri; Pegiat (aktivis Ormas dan NGO) dan Pengamat Sosial





