Tafakkur 62 tahun Usiaku

oleh -594 views
Apendi Arsyad, Kasih, Sayang, Ibu
Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, MSi (Pendiri-Dosen Assosiate Profesor pada Prodi Agribisnis UNIDA Bogor, Konsultan dan Aktivis Ormas di Bogor)

Dr. Apendi Arsyad

Alhamdulillah wasyukurillah, hari ini Jumat tetanggal 8 Oktober 2021, genap usiaku 62 tahun, sebab aku dilahirkan juga tepat pada hari Jumat 8 Oktober 1959, di sebuah Desa di pinggir sungai Kuantan, Desa Pulau Jambu namanya, yang terletak di seberang ibu kota Kecamatan Cerenti, Kelurahan Pasar Cerenti, kira2 berjarak 1-2 km, tinggal naik perahu atau berenang di badan sungai (itu doeloe), sekarang menyeberang naik kompang.

Kata ibuku (omakku) Alm. Hj. Daranah Djamin (wafat tgl 23/2-2021 diusia 106 thn), aku lahir, katanya diwaktu azhan sholat Jumat bergema di masjid-2 kampung halamanku. Mudah2an, insyaAllah saat-2 waktu, detik-2 kelahiran merupakan suatu pertanda baik bagi perjalanan hidupku, agar aku selalu ingat akan kebesaran Allah SWT, ..Allahu Akbar begitulah bunyi kalimat tauhid yang dikumandangkan muazin tersebut.

Seiring berjalannya waktu dan semakin bertambahnya umur memasuki 62 tahun saat ini.(2021), barang tentu yang selalu saya ingat paling tidak ada 2 (dua) hal yakni (1) Selalu Bersyukur atas nikmatNya, dan (2) Senantiasa Berzikir atas kebesaranNya, yang menuntun jalan kehidupan hambaNya untuk
keselamatan.

Bersyukur kepada Allah SWT atas rezeki dan nikmatNya yang begitu banyak aku terima, yang dianugerahi Allah SWT dan telah dinimati selama hidup ini, yang tak mungkin bisa diuraikan satu persatu dalam tulisan ini karena begitu banyaknya jenis dan items.

Apa-2 saja jenis dan items wujud kenikmatan itu, baik dalam bentuk benda dan nonbenda (material dan nomaterial spritual), sangatlah banyak. Jika diringkas, dikategorikan (cluster), merujuk pada pendapat para alim-ulama, ustadz/Khotib, yang sering disampaikan dalam setiap materi khotbah Jumatan di masjid, yakni ada 3 jenis kenikmatan: (1) nikmat iman dan taqwa kepada Allah SWT atas hidayahNya; percaya kepada Tuhan Allah SWT satu-2nya, bertauhid “Laillahaillah Muhammadarasullah; (2) nikmat kemerdekaan hanya diberikan kepada manusia, bebas memilih (free will), dan tidak diberikan kepada makhluk ciptaanNya kecuali manusia yang otak dan hati; dan (3) nikmat hidup bagi setiap makhluk hidup ciptaanNya di muka bumi ini, berkembang biak (reproduksi) karena bisa makan, minum dan pemenuhan kebutuhan lainnya baik primer maupun sekunder atas rezeki yang telah dianugerahi Allah (karuniaNya) kepada setiap makhlukNya teristimewa bagi manusia sebagai hambaNya dan pemimpinan di bumi (khalifah filard).

Baca :  Sebuah Pembelajaran untuk Para Politisi Indonesia dan Renungkan

Dari ketiga jenis kenikmatan ini ada diantara banyak manusia melupakan, meninggalkan dan mencampakan nikmat yang pertama Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT menjadi kafirun, fasikun, munafiqun dan musyrikun. Sedang manusia beriman, ungkapan ya aiyuhanaamanu dalam ayat-2 Al Quran sedikit sekali jika dikaitkan ungkapan “ya aiyuuhannas”. Artinya hanya segolong kecil, segelintir manusia saja yang hidup menjalani dan berada pada jalan yang lurus (sirotol mustaqiem, on the track), dengan selalu percaya, ingat (eling) dan senantiasa beribadah dengan taat dan teratur kepada Allah SWT semata, dengan menjalankan syariah agama Islam (Dinnulislam) berdasarkan Al Quran dan Sunnahrasul (QnS).

Menjadi mukmin dan mukminat sejati seharusnya diupayakan sekuat tenaga, sebab ini merupakan jalan keselamatan hidup manusia baik di dunia maupun akhirat. Sebagaimana firman Allah dalam Kitab suci Al Quran telah disebutkan bahwa orang mukmin (mukminat) itu adalah mereka-2 yang selalu beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, gemar berbuat kebajikan antar sesama dan percaya hari akhirats, kiamat dan yakin adanya kehidupan setelah mati, alam barzah dan padang mahsar etc.

Dalam Al Quran, Allah SWT pun berkata bahwa setiap makhluk yang.bernyawa pasti akan mengalami kematian, meninggalkan alam dunia yang fanah ini, dan jazadnya akan menghadap Sang Maha Pencipta dan Pemiliknya, Tuhan Allah SWT. Setiap manusia akan dihisap, ditimbang pahala dan dosanya di pengadilan (mizan) Allah di hari akhirat kelak. Nasib manusia terbagi 3 (tiga) golongan yakni (1) golongan kanan dari umat-2 terdahulu yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, (2) golongan kanan, beriman dan bertaqwa, ummat yang kemudian yaitu ummat Nabi Muhammad SAW; dan (3) golongan kiri. Jalan kehidupan akhirat dan nasib setiap makhluk manusia kelak, sebagaimana firmanNya akan menempuh dan masuk ke surga bagi golongan kanan, dan sebahagian masuk ke neraka bagi golongan kiri. Golongan kanan timbangan amal-kebaikan (pahalanya) lebih tinggi dari pada perbuatan dosa-2nya selama hidupnya di dunia (surplus pahala), golongan beruntung, wajahnya mereka berseri-seri, sebab akan memperoleh berbagai kenikmatan, kesenangan hidup dengan berbagai fasilitas mewah dan berbahagia karena sukses menjadi kekasih Allah SWT. Sedangkan golongan kiri, mereka yang bernasib malang, golongan yang merugi, timbangan perbuatan dosa-2nya selama hidupnya lebih tinggi dibandingkan amal-kebaikannya yang diperbuat selama hidupnya (defisit pahala, surplus dosa, terutama dosa besar yang tak terampuni misalnya perbuatan mempersekutukan Allah dgn makhluk lain ciptaanNya (musyrik).

Baca :  Pendapat, Kesan dan Pesan pada HUT 80 Tahun Usia Ongaku Edward Arfa

Apa yang diungkapkan dan dikiaskan dalam kandungan Al Quran seperti dinarasikan diatas, seharusnya menjadi pemantik bagi aku dan kita untuk selalu berzikir mengingat kebesaran dan kepemurahan Allah SWT, dengan menjalankan segala perintahNya (halalan toyibah), berbuat kemaslahatan untuk menambang pahala sebanyak-banyaknya, dan menjauhi atau meninggalkan segala sesuatu yang dilaranganNya (haram), perbuatan maksiat dan berdosa seperti tindakan korupsi, mencuri, merampok, menipu, berzina, berkhianat, berbuat zholim, menebar fitnah, berbohong (berita hoaks), dll.

Di usiaku yang ke 62 thn, tidak muda lagi, secara pelan dan pasti beberapa kenikmatan mulai berkurang terutama tingkat kesehatan dan kebugaran tubuh. Aku pun sudah tergolong “lansia” (usia lanjut), aku akan berikhtiar senantiasa banyak mengingat kebesaran dan kepemurahan Allah SWT terhadap diriku. Aku akan selalu berusaha (mau dan mampu) berzikir dalam arti luas, tidak saja mengucapkan kata-2 Maha besar Allah (bertakbir), Maha suci Allah (bertasbih), Maha terpujiNya Allah (bertahmid), dan bertahlil setelah menunaikan sholat fardhu 5 waktu dan sholat sunnat, untuk mengingat Allah baik di waktu pagi, siang/petang dan malam hari bahkan kita mau tidur pun sebaiknya berzikir dgn membaca surat2 pendek (juz ammah).

Memang benar firman Allah SWT, untuk mendapatkan ketenangan dan ketentraman (sakinah) hidup hanyalah banyak berzikir kepada Tuhan Maha pengasih dan penyayang, dengan banyak mengingat Allah SWT secara terus menerus. Hidup tenang dan hati yang tentram adalah sumber, modal utama dan kekuatan untuk membangun keluarga bahagia (the happiness), tenang dan berkasih sayang (sakinah mawaddah warohmah), yang menjadi idaman dan dambaan setiap manusia.

Bagaimana cara sebenarnya kita berzikir?. Dengan melakukan ibadah kepada Allah SWT sesuai syariah Islamiyah sebagaimana dicontohkan Nabi dan Rasulullah Muhammad SAW, seperti yang diamalkan sehari-hari beliau semasa hidupnya yakni 7 (tujuh) sunnah harian Rasullullah Muhammad SAW.

Ketujuh sunnah disebutkan diatas adalah rajin dan rutin melakukan ritual ibadah syariah : (1) sholat malam, sholat tahajut, (2) sholat dhuha di pagi hari menjelang waktu zuhur; (3) bertadarus, membaca kitab suci Al Quran, baca terjemahannya, pahami, hayati dan amalkan isi firman Allah dgn baik dan benar, (4) puasa (shaum) setiap Senin dan Kamis niat karena Allah; (5) bersedeqah, berinfaq dari harta halal dan toyib yang kita miliki, termasuk pula tenaga dan pikiran (iptek) yang disumbangkan untuk kemaslahatan ummat, (6) selalu dalam keadaan bersuci, dengan berwuduk, dan (7) selalu meminta ampunan Allah SWT atas segala dosa yang terlanjur berbuat khilaf dan salah serta maksiat, dengan selalu beristighfar, membaca kalimah “astaghfirullahalzim) kapan pun dan dimana pun. InsyaAllah dengan amalan Sunnah harian Rasullullah, insyaAllah saya san kita bisa meraih kehidupan yang diridhoi Allah SWT, hidup penuh berkah, hidup berhagia, hidup berkasih sayang (sakinah mawadah warohmah) di dalam keluarga dan berumah tangga, insyaAllah jika waktu ajalnya sudah tiba, sakaratul maut datang mendekat untuk mencabut nyawa manusia, maka aku dan kita pun telah bersiap diri dalam keimanan dan ketaqwaan hanya kepada Allah SWT, sehingga kita hambaNya bisa dalam keadaan mengakhiri kehidupan di dunia ini yang baik (husnul khotimah) Amiin-3 YRA.

Baca :  Spirit Wasatiyah Islam untuk Perdamaian Dunia

Inilah ikhtiar aku dan kita, ada target, ada orientasi sistem nilai dan norma Dinnulislam, ada tujuan hidup meraih ridho Allah (mardatillah), dan hendaknya menjadi cita-2 kita untuk sukses menjadi “manusia golongan kanan” sebagai calon penghuni Surga Jannatunnaim, tempat yang penuh kedamaian dan kesenangan; hendaknya bukan (janganlah) kita termasuk “manusia golongan kiri”, mereka-2 yang merugi, penghuni neraka jahanam yang penuh siksaan (azab) yang pedih, nauzubillahi minzaliq.

Demikian narasi singkat dalam rangka untuk mengingat (bertafaqur) kepada Allah SW atas maha pengasih dan penyayangNya, selama perjananan hidupku yang kini telah memasuki umur ke 62 tahun, Alhamdulillah.

Ya Allah Ya Rabb, anugerahi aku dan kita berupa Hidayah, Karunia dan RahmatMu dalam kehidupanku. Semoga Allah SWT selalu melindungi dan menolong hambaNya untuk menunjukan (hidayah) jalan keselamatan baik di dunia maupun akhirats dengan perilaku kesholehannya. Amiin3 YRA.
Syukron barakallah

Penulis adalah Dosen (Assosiate Profesor) dan Pendiri Universitas Djuanda Bogor, Tenaga Ahli/Konsultan P3PD Ditjen Bina Pemdes Kemendagri; Pendiri dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwilsus Bogor, Sekwanhat MD Kahmi Bogor, Ketua Mejelis Pakar Dekopinda Kabupaten Bogor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *