Terharu Membaca Riwayat Kasim di Waemital

oleh -839 views
Terharu, Kasim Arifin, Riwayat Kasim Arifin, Waemital, Apendi Arsyad
Muhammad Kasim Arifin [File: Ngelmu via Green Network]

Oleh: Apendi Arsyad

Mengharukan membaca artikel diposting di medsos berjudul “The Legend (Atjeh)”. Cerita riwayat bang Kasim ketika menjadi mahasiswa tingkat akhir di IPB Bogor tahun 1969. Narasi ini.pernah saya baca di buku Hanna Rambe.

Walaupun pada tahun 1980 saya pernah ikut kuliah Sosiologi Perdesaan di TPB IPB dan cerita sukses Kasim sangar jelas di materi praktikum Matkul Sosiologi Perdesaan, dimana salah chapter bacaan “Seorang Lelaki di Waemetal” by Hanna Rambe, sangat mengasikan dan mengharukan hati pembacanya.

Cerita Lelaki di Waimital begitu sangat menginspirasi mahasiswa baru IPB termasuk saya AA diantaranya yang datang ke kota Bogor thn 1980, dari desa yang tak tampak di peta di daerah Kuansing Provinsi Riau.

Baca :  Silakda Orda Membawa Berkah: Gedung ICMI Bogor

Fenomena Kasim ini sangatlah langka ditemukan 2 – 3 dasawarsa terakhir di IPB University, apalagi di era millenial yang berbasis digital saat ini.

Pupuslah sudah anak muda, yang mau berkubang lumpur di kebun dan sawah seperti yang dialami mahasiswa Sosek IPB asal Atjeh, abang Kasim, yang telah mengabdi di desa Waimital, bertugas melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) versi sekarang di daerah Ambon pada thn 1970an.

Sungguh mengharukan jiwa kita, ketika kita membaca artikel The Legend (Atjeh)
Saran saya kepada kaum muda mahasiswa Indonesia. Bagus sekali membaca artikel tentang sepenggal riwayat hidup bapak Kasim yang bersahaja, dan sangat menginspirasi serta patut kita suritauladani jiwa dan semangat pengabdiannya.

Baca :  Dibalik Kesulitan Ada Kemudahan

Watak bang Kasim sangat peduli masyarakat, mendampingi petani untuk mentransfer (adopsi) inovasi teknologi pertanian, juga gemar membela nasib kaum tani miskin dan terbelakang di perdesaan di Waimital, yang memerlukan perhatian dan uluran tangan kaum cendekia.

Itulah sepenggal watak Kasim di Waimital begitu mulianya, mencerahkan dan menyadarkan kita.

 

Penulis adalah Alumni IPB, Dosen, kini mukim di daerah Ciawi, Kabupaten Bogor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *