LEAD.co.id | Bashar al-Assad terpilih kembali sebagai Presiden Suriah dengan perolehan 95,1 persen suara pada hari Rabu, 26 Mei 2021. Al-Assad menjadi Presiden empat periode dalam negeri yang dilanda konflik berkepanjangan.
Ketua parlemen Hammouda Sabbagh mengumumkan hasil pada konferensi pers pada hari Kamis (27/5/2021), mengatakan jumlah pemilih sekitar 78 persen, dengan lebih dari 14 juta warga Suriah mengambil bagian.
Dalam pemilihan presiden ini, dua orang kandidat menjadi lawan al-Assad, yaitu mantan wakil menteri kabinet Abdallah Salloum Abdallah yang mendapat 1,5 persen suara, dan Mahmud Ahmad Marei mendapat 3,3 persen suara.
Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia mengatakan pemungutan suara itu “tidak bebas atau adil”, dan oposisi yang terfragmentasi di Suriah menyebutnya sebagai “lelucon”.
Houwayda al-Nidal, seorang dokter berusia 52 tahun, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa kemenangan al-Assad “membawa dua pesan”.
Yang pertama adalah tentang seorang pemimpin yang telah memenangkan perang dan akan memimpin rekonstruksi, dan “yang kedua ditujukan bagi orang asing untuk menunjukkan siapa yang akan memimpin pembicaraan politik setelah pertempuran di lapangan berakhir.”
Layla, Mahasiswa yang berdemonstrasi di Damaskus mengatakan, banyak mahasiswa dipaksa untuk memilih pada hari pemungutan suara. “Beberapa universitas akan gagal atau bahkan mengeluarkan Anda jika Anda tidak memilih,” kata dia kepada Aljazeera.
Pemungutan suara itu diboikot oleh Dewan Demokratik Suriah, yang mengelola wilayah otonom kaya minyak di timur laut, serta di wilayah barat laut Idlib, tempat orang-orang mengecam pemilihan tersebut dalam protes besar pada hari pemilihan.
Reporter: Jhonie Arya
Editor: Aru Prayogi
Sumber: Aljazeera





