Brainstorming Agenda ICMI Lima Tahun Kedepan

oleh -334 views
Brainstorming, ICMI, Agenda ICMI, Apendi Arsyad
Dr. Apendi Arsyad saat brainstorming untuk Program ICMI 5 tahun kedepan, di ruang kerja Prof Arif Satria, pada Jumat 9 Desember 2021

Oleh: Apendi Arsyad

Tak henti-henti saya bersama kawan-kawan ICMI Orwil berstatus Khusus Bogor bersyukur kepada Allah SWT atas anugerahNya, terpilihnya mas Prof. Dr. Arif Satria, SP., MSi (Prof ASA) menjadi Ketua Tim Formatur/ Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) periode 2021-2026, secara demokratis, rukun dan damai dalam forum Muktamar ICMI VI, di Bandung, pada Sabtu-Senin, 4-6 Desember 2021, alhamdulillah.

Bahkan, selaku orang yang beriman dan bertaqwa, saya sebagai Koordinator Tim Sukses (Kortimses) ingat selalu akan firman Allah “nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan” (QS Ar Rahman).

Selanjutnya barang tentu kami tidak cepat berpuas diri, bahwa kami harus berpikir keras, ketika amanah itu didapat melalui perjuangan untuk menakhodai proses kepemimpinan ICMI 5 tahun, apa dan bagaimana yang seharusnya diperbuat dan dikerjakan?. Artinya agenda program dan kegiatan-kegiatan apa yang layak perlu dirumuskan, baik arah kebijakan, program dan kegiatan prioritas sesuai hasil-hasil keputusan Muktamar ICMI VII tersebut seperti konstitusi AD, ART, khittah ICMI, Rencana Program Nasional ICMI, Rekomendasi Muktamar baik internal maupun eksternal untuk disuarakan dan diperjuangkan.

Kemudian yang tak kalah urgen adalah visi dan misi Ketum ICMI periode 2021-2026, mas Prof ASA menjadi rujukan dan bagian yang tak terpisahkan yang harus dijabarkan dalam mempertajam rencana program dan kegiatan perioritas yang rialistik dan membumi serta berdampak perubahan yang mendasarkan untuk eksistensi ICMI selama 5 tahun ke depan.

Terima kasih, masukan dan saran dari seniorku Prof Didin S Damanhuri, yang selama ini sangat peduli dengan dinamika perjalanan ICMI sejak berdiri tgl 7 Desember 1990 hingga sekarang. Jika saya boleh menjawab konten WA japrinya, dapat saya katakan secara jujur, pola pikir (mindset) kita sama antara saya dengan Akang Didin.

Baca :  Prof Fuad Amsyari: Cendekiawan Muslim Sejati

Saya jujur dan berterus terang, bahwa saya dan kita semua tak rela dan tidak mau Prof ASA dibayangi-bayangi apalagi dikooptasi oleh para pendiri ICMI (gen oldest), apalagi politisi, karena watak ke-cendekiawanan itu diatas kepentingan politik. Politisi yang humanis dan cerdas harus diwarnai mindset dan perlakunya oleh kaum cerdik pandai (cendekiawan) muslim, yang peduli terhadap nasib masyarakat, bangsa dan negara, tanpa menghiraukan dia dapat apa dalam melontarkan pendapat dan opini publiknya, misalnya tahta, harta apalagi maaf rayuan “wanita”.

Jadi sayang ormas Islam yang berkarakter keislaman, ke-cendekiawanan Kebangsaan/ Keindonesiaan (NKRI), ditunggangi oleh kepentingan sesaat. Implikasi negatifnya jika para aktor aktivis politisi yang mengendalikan tata kelola ICMI, nanti Prof ASA susah bergerak, tidak lincah dalam mengimplementasikan visi, misi dan amanah Muktamar ICMI VII, yang kemungkinan berujung pada kegagalan.

Agenda ICMI lumayan banyak berdasarkan isu-isu strategisnya guna mengisi visi dan misi ICMI sebagaimana telah disampaikan dlm forum Muktamar ICMI VII di Bandung oleh Prof ASA. Menurut kami hal-hal yang menjadi bahan diskusi dan perdebatan awal (brainstorming) adalah agenda besar sbb:

1. Program dan kegiatan reflektif dan fraksis secara berkeseimbangan, ICMI sebagai sumber inovasi dan ipteks.

2. Kegiatan Reflektif oleh MPP/Wankar perumusan, kontrol dan kawal public policy termasuk RUU, PP dan Kepmen, ICMI pro aktif sebagai inisiator dan inspirator; sedangkan kegiatan Fraksis pemberdayaan ekonomi rakyat dan perluasan lapangan kerja realokasi, distribusi dan SDGs secara desentralisasi ke Orwil/Orda sesuai usulan bussenis plan berbasis local specifik yang prospektif dan ITC (era digital), terutama program ketahanan pangan dengan data desa presisi (DDP).

3. Hub antar Ormas, baik dengan organisasi kebangsaan (nonIslam) dan hub antar ormas ormas Islam berbasis ummat Islam, ICMI sebagai rumah besar bersama ummat dan bangsa.

Baca :  Silakwil ICMI Orwilsus Bogor Tahun 2022

4. Penguatan Hub ICMI dalam kanca internasional dan global, ICMI sebagai sumber imtaq dan iptek terpadu, melalui pengembangan jejaringan dan ormas yg sudah ada seperti ikatan saudagar Asean, Iftihar etc.

5. Rekonstruksi peran ICMI dalam pengembangan Badan Usaha dan Badan2 Otonom, memperjelas dan mempertegas asset dan saham ICMI Ummat spt Bank Muamalah, HU Republika, Yayasan Abdi Bangsa, Yayasan Orbit, Yayasan Mafakib, CIDES, Inkubator, Takaful, etc. Batom sebagai income generating dana ummat utk mendukung implementasi program aksi ICMI.

6. Penataan sistem administrasi dan Sekretariatan (perkantor) serta penggalangan pendanaan organisasi ICMI berbasis ITC, jejaringan digital yang menopang berbagai program dan kegiatan ICMI, dan

7. Fostur atau format kepengurusan MPP ICMI harus didominasi berwajah millenial, generasi zaman Now, yang berusia maximal lk 50 tahun kebawah pada pengurus inti (pengurus Harian) terutama untuk posisi Sekjen. Komposisi yang menarik 70 % minimal person-person MPP ICMI 2021-2026 generasi muda.

Dari sinilah kita bisa mengklaim proses regenerasi di ICMI telah berlangsung dengan baik, terbebas dari tekanan mazhab “konservatif”. Kita optimis ICMI periode 2021-2026 akan bisa dan sukses menampilkan peran dan fungsinya serta reposisinya sesuai kebutuhan umat, bangsa dan negara yang kini berada pada era disrupsi, akibat perubahan iklim global (climate change), masyarakat 4.0 dampak pesatnya kemajuan teknologi, terutama Information and technology communication (ITC) dan munculnya pandemi Covid-19 yang telah memporak-porandakan segala sendi-sendi kehidupan Indonesia bahkan dunia.

ICMI adalah mitra Pemerintah yang syah untuk bisa berkonstruksi dalam menanggulangi kemiskinan, keterbelakangan, pengangguran, ketidakadilan, masalah-masalah sosial, ancaman kehidupan bernegara, berbangsa, bermasyarakat dan keummatan (Penganut Islam, mayoritas di negeri ini), dan lainnya atas landasan UUD 1945 dan Pancasila.

Baca :  IKN Kontroversial dan Sikap ICMI

Di sinilah letak tantangan dan kebutuhan ummat dan bangsa Indonesia akan keberadaan organisasi cendekiawan ini, elite ICMI harus cerdas mencari titik masuk (entry point) sebagai pelopor (pioner), bukan pengekor (follower) yang selama 10 tahun belakangan tampak wajahnya demikian, dan ini harus kita koreksi bersama dengan menggeser beberapa paradigma baru sesuai tantangan zaman dan perubahan lingkungan strategis. Singkat kata meminjam istilah mas Prof.ASA, Ketum MPP ICMI, Rektor IPB University “Mindset Baru untuk Transformasi”, bukunya terbitan IPB Press, tahun 2021.

ICMI harus proaktif berperan sebagai solutioner, bukan pengamat apalagi penonton dari sengkarut permasalahan di Republik tercinta NKRI ini. ICMI harus menjadi bagian demand bangsa dan ummat Islam Indonesia, serta ikut berkontribusi menciptakan kehidupan dunia yang damai.

ICMI dalam dokumen khittahnya, merupakan organisasi dan kelembagaan sosial yang membawa rahmat bagi seluruh alam atas landasan Al Quran dan Assunah. Atas.dasar sistem nilai, norma dan kaidah-kaidah ayat-ayat Allah SWT kita bisa menjadi pemenang, bukan kaum marginal dan apalagi pecundang, nauzubillahi minzalik.

Demikian pokok-pokok pikiran sebagai bahan masukan dan materi “braindstorming” untuk merumuskan dan menetapkan program dan kegiatan perioritas ICMI 5 tahun ke depan, guna memperkaya pemikiran-pemikiran untuk disumbangkan kepada “the ruling party” ICMI yang telah mendapat amanah Muktamar ICMI VII yang sudah terpilih sebagai Tim Formatur secara demokratis dan penuh kedamaian yang diridhoi Allah SWT, insyaAllah.

 

Penulis adalah Dosen (Assosiate Profesor) dan Pendiri Universitas Djuanda Bogor, Konsultan K/L negara, Pegiat (aktivis NGO, Yayasan) dan Pengamat Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *