Cadar dan Celana Cingkrang, Radikalisme?

79
0

Oleh : Ilbasit Taqiyah

Stigma masyarakat yang selalu mengaitkan pandangan negatif kepada pengguna cadar dan celana cingkrang dengan sesuatu yang berhubungan dengan radikalisme semakin merajalela. Tidak berhenti disitu saja, pada saat ini stigma tersebut sudah merembet pada ranah sosial yang merujuk pada kesadaran dan kebebasan dalam lingkungannya untuk berpakaian.

Menteri Agama, Fachrul Razi, bersikukuh melarang pemakaian cadar dan celana cingkrang bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), meski dihujani kritik oleh mayoritas anggota Komisi VIII DPR yang membidangi agama dalam rapat perdana di gedung parlemen. ‘Kalau di TNI enggak boleh, di ASN juga enggak boleh [pakai cadar dan celana cingkrang]. Di sana kan ada aturannya sendiri,’ ujar Fachrul Razi saat di gedung DPR beberapa pekan lalu.

Untuk saat ini, di Indonesia belum diterapkannya peraturan resmi ataupun undang-undang yang mengatur larangan bercadar bagi instansi Pemerintah atau ASN.

Dapat dilihat dari kontra yang terdapat pada lingkungan pemerintahan atau instansi yang herhubungan dengan pelayanan masyarakat yang membatasi kebebasan para pegawainya untuk tidak mengenakan gaya berpakaian yang dianggap mencerminkan radikalisme. Pemerintah harus menggunakan cara lain untuk membatasi masuknya radikalisme di instansi pemerintah. Melindungi ancaman radikalisme merupakan tugas pemerintah. Namun, yang perlu ditegaskan sebelum pemerintah menetapkan larangan penggunaan cadar dan celana cingkrang adalah pemerintah tidak boleh melanggar prinsip keberagaman dalam beribadah.

Faktor kontra ini didasari dengan banyaknya kasus di Indonesia yang selalu mengaitkan orang yang mengenakan cadar dan celana cingkrang itu adalah radikal. Faktor lainnya yaitu pandangan masyarakat tentang pengguna cadar dan celana cingkrang hanya sebagai tren fashion. Penggunaan cadar dan celana cingkrang tidak menunjukkan kadar keimanan seseorang. Setiap individu memiliki kebebasan untuk mengapresiasikan keyakinan atau ketaatan kepada Tuhannya. Tidak ada hubungannya antara pakaian dengan keamanan negara. Masalah radikalisme adalah masalah ideologi bukan masalah cadar atau celana cingkrang.

Sebagai warga negara yang memahami dasar negara kita yang mengedapankan prinsip toleransi dan kebebasan masing-masing individu akan keberagaman dalam beribadah, perbedaan yang terdapat pada kehidupan sehari-hari maupun pilihan masing-masing individu.

Radikalisme itu tidak bisa diidentikkan dengan islam (rad.orang bercadar atau celana cingkrang). Radikalisme itu adalah oknum atau mungkin kelompok. Tidak bisa dibilang bahwa radikalisme itu, lalu kita membawa atribut atau simbol agama, itu sangat tidak tepat dan harus di beritahukan kepada seluruh masyarakat atau pemerintah bahwa itu adalah oknum. Kalaupun ditegakkan hukum juga terhadap oknum bukan terhadap simbol agama. Dengan begitu pemerinah harus mengkaji ulang pelarangan penggunaan cadar dan celana cingkrang serta mencari cara untuk merubah stigma tersebut agar tidak terjadi kegaduhan di masyarakat.

 

Baca :  Dialog Radikalisme, Pengamat: Petinggi Kampus Harus Memiliki Akses Cegah Benih Radikalis

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Psikologi UMM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here