BOGOR (LEAD.co.id) – Indonesia telah kehilangan sosok penyair besar, Diah Hadaning yang akrab dipanggil Mbak Diha. Kabar duka itu disampaikan oleh penyair Ahmadun Yosi Herfanda dalam Wahtsapp Group, Gerakan Literasi Nasional, pada Minggu (1/8/2021).
Penyair Bogor, Budayawan Ace Sumanta telah mengecek kabar tersebut, ternyata benar. Menurut dia, hampir semua Group Sastra mengabarkan berita duka atas meninggalnya Mbak Diha.
Diah Hadaning, cukup dikenal di kalangan para pelajar selain mereka sudah pernah membaca karya-karyanya melalui lomba baca puisi dan saat menjadi pembicara. Almarhumah juga sering menyampaikan dalam diskusi, dirinya terpanggil karena terilhami juga dengan sosok RA. Kartini.
Beliau terus berkarya untuk Bangsa dan Negara demi kepentingan gerakan literasi, banyak menghasilkan buku kumpulan puisi saat masih muda maupun sudah menjelang sepuh.
“Mbak Diah Hadaning (DIHA) itu orang baik, sabar, penuh kasih dan mengerti orang lain terutama bagi para penyair,” ungkap Sastrawan dan Budayawan Pituin Sunda Pajajaran, Kang Ace Sumanta melalui keterangan pers, pada Senin (2/8/2021).
Diah Hadaning lahir di Kota Kartini Jepara, tahun 1940 dan wafat 1 Agustus 2021 dalam usia 81 tahun. Diha, kata Kang Ace, sangat produktif menulis Puisi dan Artikel sastra lainnya disamping juga aktif sebagai dewan juri serta mengisi seminar sebagai pembicara.
Diah Hadaning di mata para penyair dan sastrawan Indomesia sudah tidak asing lagi selain Pengasuh Ruang Sastra “DIHA” di mingguan Swadesi Jakarta. Hampir semua karya penulis di eranya dimuat dan tetap diberikan honor menulis.
Bahkan, Ace Sumanta mengaku pernah honornya dibayar duluan karya dimuat belakangan, karena waktu itu untuk menambah bayar kuliah.
“Mbak Diah sering datang ke Bogor untuk mengisi acara seminar yang digagasnya dan tidak permah mau terima honor malah memberi untuk membeli nasi kotak,” kenang Budayawan Ace Sumanta.
Disampaikan Kang Ace, para penyair Idonesia waktu tahun 1994 pernah di undang ke rumah Diha, di Cimanggis, Depok untuk berbincang-bincang tentang sastra. Selain itu, Diha juga menanggung semua biaya kegiatan launching buku Antologi Puisi karya teman-teman, di Forum Kebun Raya Bogor.
Menurut Ace, sangat wajar jika para Penyair kehilangan sosok sastrawan ini. Oleh karena itu, Ace berharap kepada teman-teman penyair agar menulis Puisi tentang Diah Hadaning untuk dibukukan.
“Kami sangat berharap beliau wafat dalam keadaan khusmul khotimah, diampuni seluruh dosa dan kekhilafan dan karya-karyanya tetap bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus lainnya,” ungkap Ace mengakhiri wawancara.
Reporter: Jhonie Arya
Editor: Aru Prayogi





