BOGOR (LEAD.co.id) – Jumlah penumpang Biskita Transpakuan di koridor 2 Terminal Bubulak via Cidangiang – Ciawi dilaporkan sangat banyak dengan load factor rata-rata mencapai 112 persen per hari.
“Load factor di koridor 2 rata-rata per harinya mencapai 112 persen, ini angka yang sangat bagus, karena load factor di angkutan umum bisa mencapai 60-70 persen saja sudah bagus,” ujar Perwakilan PT Kodjari, Dewiyani Tjandra saat rapat evaluasi di Balai Kota Bogor, pada Senin (27/12/2021).
Rapat evaluasi Biskita Transpakuan itu dilakukan oleh Pemkot Bogor bersama BPTJ, PDJT, dan Kodjari. Wali Kota Bogor, Bima Arya didampingi Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim dan Sekda Kota Bogor, Syarifah Sofiah memimpin rapat tersebut.
Rapat tersebut membahas penetapan tarif Biskita, pemindahan pool Bubulak, pemilihan kantor KSO, ketertiban shelter dan respon warga Kota Bogor atas kehadiran Biskita, terutama di koridor 2.
Dewi mengatakan, di koridor 2 jumlah penumpangnya sangat banyak dan hampir merata dari pagi hingga sore. Menurutnya hal ini karena Biskita mempunyai keunggulan dibanding angkutan umum lainnya yang membuat penumpang antusias.
“Biasanya warga dari Ciawi ke Bubulak harus naik dua kali, kena ngetem juga, tapi kalau pakai Biskita seperti naik kendaraan pribadi, tidak ngetem,” jelasnya.
Pihaknya akan terus mengevaluasi kesesuaian target penumpang Biskita di tahun depan dengan menyasar pengguna bus sehari-hari, bukan yang hanya sekedar mencoba.
Dia berharap masyarakat Kota Bogor beralih ke akomodasi transportasi umum yang lebih baik, merasa nyaman dan terus membiasakan diri naik transportasi umum.
“Seperti saat di luar negeri memakai transportasi umum karena merasa nyaman, murah dan cepat. Saya optimis Biskita bisa terus berlanjut,” imbuhnya.
Direktur Utama PDJT Kota Bogor, Lies Permana Lestari mengatakan, koridor 2 memang memiliki rute kilometer paling panjang, yakni mengangkut penumpang dari Ciawi sampai Bubulak. Hal itu membuat capaian load factor atau besaran yang menyatakan tingkat kepenuhan penumpangnya bagus.
“Antusias, tanggapan dan respon warga Kota Bogor terhadap Biskita juga terbaik se-Indonesia. Ini harus terus dijaga sembari dianalisa mengingat target Biskita mengkonversi pemakaian kendaraan pribadi ke angkutan umum,” ujarnya.
Sementara terkait tarif Biskita yang nanti akan ditetapkan merupakan kewenangan dari Pemerintah Pusat. Namun, dia berharap pengenaan tarif Biskita tidak memberatkan dengan melihat kemampuan masyarakat.
“Kalau kami inginnya tidak memberatkan, agar pengguna Biskita di Kota Bogor tetap maksimal dengan tarif yang dapat diterima masyarakat Kota Bogor,” katanya.
Reporter: Jhonie
Editor: Aru Prayogi





