Swara Milenial: Generasi Muda Harus Bijak di Sosmed

0

LEAD.co.id | Swara Milenial Indonesia (SMI) gelar bincang milenial bertajuk “Penanggulangan Radikalisme di Kalangan Generasi Muda Melalui Literasi Media” kegiatan yang berlangsung secara hybird, online dan offline, bertempat di Upnormal Coffe, Raden Saleh, Jakarta Pusat, Selasa (4/5/2021).

Kegiatan yang dipandu Agnia Addini, Duta Politik menghadirkan Achmad Baidowi, Anggota DPR RI dan juga Ketua Umum GMPI, Nuning Rodiyah, Komisioner KPI Pusat, Alia Noorayu Laksono, Stafsus Menteri Pemuda dan Olahraga RI dan Raihan Ariatama, Ketua Umum PB HMI.

Ketua Umum SMI, Miftahol Arifin mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kontribusi dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara ditengah maraknya paham radikal yang kian marak di masyarakat belakangan ini.

“Dengan adanya kegiatan ini semoga para generasi muda bisa bijak menerima informasi di media. Karena generasi muda hari ini, harus cerdas bermedia social, supaya tidak termakan hoax,” ujar Miftah.

Baca :  Endang Setyawati Minta 4 Pilar Kebangsaan Dipahami dengan Baik

Dirinya menambahkan, di Era globalisasi seperti sekarang ini, mengelola suatu bangsa yang luas dan besar seperti bangsa Indonesia tentu bukan merupakan hal yang muda. Dimana media social sering dijadikan sebagai tempat untuk menyebarkan pemahaman yang tidak benar.

“Kami berharap para peserta bincang milenial yang hadir baik offline maupun online setelah acara ini, para peserta dapat berbagi pengetahuan dilingkungan sekitar sehingga informasi yang didapat teman-teman bisa bermanfaat untuk masyarakat luas,” tambahnya.

Stafsus Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Alia Noorayu Laksono menuturkan, merebaknya paham radikalisme di Indonesia khususnya dikalangan generasi muda, karena terpancing narasi-narasi yang tidak baik yang sengaja dibuat oleh oknum tertentu para penganut aliran radikal.

Baca :  Kawal Jokowi, Aktivis 98 Konsolidasi Lawan Radikalisme

“Kasus seperti ini terjadi tidak hanya di Indonesia, tapi diluar negeripun terjadi kasus yang sama,” ucapnya.

Bahkan kelompok-kelompok radikal tadi, seringkali memasukkan para generasi muda kedalam group radikal dan membuat kaum muda akhirnya termakan narasi yang tidak bertanggung jawab.

Bagaimana cara mencegah hal demikian? Satu-satunya cara yaitu pemerintah dan kita semua masing-masing memiliki tanggung jawab untuk memberikan pemahaman dan pendekatan secara personal. Sebab orang yang sudah terpapar paham radikal tidak gampang untuk menerima informasi dari luar dan sulit sekali untuk berubah.

“Untuk mengelola para korban yang terpapar paham radikalisme kita harus ekstra sabar dan benar-benar harus dekat dulu kepada personnya,” tutup Stafsus Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Alia Noorayu Laksono.

Senada dengan Alia laksono, Ketua Umum PB HMI, Raihan Ariatama menyebutkan kaum milenial hari ini sering menjadi sorotan utama dalam aksi radikalisme, karena memang anak muda dalam usia hingga 18 tahun masih mencari jatidiri.

Baca :  GERPAMMA Nilai RUU Omnibuslaw Hanya Menjadi Kepentingan Kelompok

“Wacana yang diproduksi kelompok radikal bisa menjadi acuan utama dikalangan anak muda dan kalau wacana ekstrimisme itu kita biarkan bisa muncul istilah baru yaitu terorisme kalangan muda,” ujar Ketua Umum PB HMI, Raihan Ariatama.

Sehingga algoritma sangat penting untuk mempengaruhi wacana yang terjadi di media digital hari ini. Sebab kelompok radikal biasanya bergerak atas nama organisasi yang menjadi bahaya ketika mereka ini bergerak sendiri-sendiri, akan lebih cepat penyebarannya.

“Sinergitas HMI dan pemerintah sebagai organisasi mahasiswa/pemuda sangat perlu dalam melakukan bimbingan untuk menangkal konten-konten radikal tadi,” pungkasnya.

Kontributor : Haqqi
Editor : Aru Prayogi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here