LEAD.co.id | Indonesia Election Watch (IEW) menyatakan mengecam pernyataan Presiden Perancis yang dinilai menghina umat islam di seluruh penjuru dunia. Selain menyoal pernyatan Macron, IEW juga mengecam kekerasan dan aksi teror yang terjadi di Prancis pada akhir bulaln November lalu.
“Pernyataan Macron dapat memecah belah persatuan antar-umat beragama dan persatuan antar bangsa di dunia,” sebut Koordinator IEW, Nofria Atma Rizki melalui siaran pers, Sabtu (31/10/2020).
Sebelumnya, Macron menyatakan akan melawan “separatisme Islam”, mengancam untuk mengambil kendali komunitas Muslim di Prancis. Dia juga menggambarkan Islam sebagai agama “dalam krisis” di seluruh dunia, dan membela majalah satir yang menerbitkan karikatur Nabi Muhammad.
Sikap Macron ini telah memicu kampanye yang menyerukan boikot produk Prancis dari supermarket di negara-negara Arab dan Turki. Bahkan, terkini pernyatan Macron mendapat kecaman dari pemerintah Pakistan, Malaysia, hingga Presiden Indonesia, Joko Widodo.
“Indonesia juga mengecam keras pernyataan Presiden Prancis yang menghina agama Islam,” tegas Presiden Jokowi dalam keterangan pers di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu, 31 Oktober 2020.
Menurut IEW, sikap Macron sangat kontra dengan kondisi dunia saat ini yang memerlukan persatuan untuk menghadapi pandemi Covid-19 yang belum berakhir.
“Dunia sedang mengalami krisis multidimensi. Dibutuhkan persatuan antar umat dan antar bangsa di dunia,” sebut koordinator IEW.
Ia juga mengatakan, pernyataan presiden Perancis bukanlah pernyataan yang bijak sebagai pemimpin negara. Karenanya, IEW menuntut presiden Macron meminta maaf kepada umat islam dan dunia internasional agar situasi tidak memanas.
“Terakhir, kami dari Indonesia Election Watch mendukung penuh langkah Presiden Jokowi yang telah berperan aktif mengajak dunia internasional untuk mengedepankan persatuan dan toleransi beragama untuk membangun tatanan dunia yang lebih baik,” pungkas Nofria Atma Rizki.
Reporter: Sally Sumeke
Editor: Aru Prayogi
Sumber: IEW





