Inmemorial Alm. Ibu Astuti Rais Ahmad

oleh -560 views
Apendi Arsyad, Regenerasi, ICMI
Dr. Apendi Arsyad, Pimpinan Sidang RPD MPW/ICMI Orwil Khusus Bogor

Oleh: Dr.Ir.H. Apendi Arsyad, MSi

Alhamdulillah. Sabtu (7/11-2020) waktu siang hingga sore saya bisa bertakziah ke rumah duka alm. ibu Astuti Rais Ahmad (mantan Ketua Korp HMI Wati (KOHATI) HMI Cabang Bogor tahun 1972/1973 di masa periode Kepemimpinan kanda Prof.Dr.Ir.H. Hidayat Syarief MS/Aktivis Kahmi dan ICMI Bogor, yang telah berpulang kerahmatullah menghadap Sang Khalik dan Pemilik alam jagat raya ini, pada hari Jumat malam tgl 8/11-2020, kira2 pukul 2 Wib dengan tenang dan damai, insyaAllah.

Saya agak terkejut mendapat informasi tersebut, sebab selama tidak terdengar sakitnya. Dan saya pun sungguh menyesal tidak bisa hadir mensholatkan jenazah secara berjemaah di masjid dekat rumahnya di komplek perumahan Budi Agung Kota Bogor (bakdah sholat Jumat), dan kemudian tidak berkesempatan pula mengantarkan jenazahnya ke pemakaman, tempat peristirahatan terakhirnya di TPU Blender Kota Bogor. Hal ini akibat, saya terlambat mendapat khabar berita kepergian almarhumah. Karena kesibukan yg padat pada hari Jumat itu, kebetulan menyiapkan materi kuliah, dan siangnya Jumat mengajarkan mata kuliah Sosiologi Pertanian secara virtual (online) kepada para mahasiswa, sehingga lupa tidak membuka hp-WAG. Maaf, saya baru terbaca sore harinya, ada pesan di beberapa WAG dari para sahabat yang mengirim pesan dan menposting berita dukanya.

Akan tetapi, Alhamdulillah, saya bisa bersilaturrahmi dengan Senior-sesepuh Kahmi/Icmi, suami almarhumah bapak Dr.M Rais Ahmad.SH.MH (mantan Ketum HMI Cab Bogor/Ketua Dewan Pakar ICMI Orwilsus Bogor/Rektor UIKA Bogor etc) sekeluarga di rumahnya Komplek Budi Agung Bogor. Antara lain saya bertemu dan mengobrol (ramah tamah) dengan kedua putranya Dr.M Iqbal Rais.MSc (Dosen Universitas Guna Dharma Jakarta) dan Dr.Al Fajri Rais, SH.MH (Dosen FH UIKA Bogor) beserta istri dan sebagian anak2nya yang lucu (cucu2nya almarhumah, yang hafidz Al Quran). Dari obrolan kami di ruang tamu/ teras rumah sambil memakan nasi goreng-pete yg enak, saya berkesimpulan bahwa almarhumah ibu Astuti (Tuti) Rais, insyaAllah dalam keadaan husnul khotimah.

Baca :  Mengapa Kehidupan Kaum Tani Kita Miskin dan Terbelakang

Menurut keterangan keluarga, pada hari Kamis sehari sebelum beliau meninggal dunia, ibu Tuti masih dalam kondisi sehat walaffiat, malamnya ada keluhan memang ada gejala “masuk angin” dan dipijatin putranya Iqbal dengan minyak kayu putih, lantas berbaring tidur di kamar, jam 2 menjelang subuh bpk Muh Rais menyentuh tangan istrinya sudah dingin dan tidak bergerak lagi,… inna lillahi wainna illahi rojiun, … almarhumah ditemui telah meninggal dunia dalam kondisi tidur dengan posisi badan merebah ke samping (kata bpk Rais). Almarhumah diduga terserang penyakit jantung, bagian dadanya agak membiru (kata bpk Muh Rais dan putranya).

Memang almarhumah ibu Tuti beserta keluarga baru 9 hari berada di Indonesia, sepulang dari negara Turki menjenguk putrinya (Dr.Ani Rais/Dosen UIKA Bogor) yang sedang mendampingi suaminya sedang studi lanjut di salah satu Universitas di negara Islam Turki. Almarhumah berangkat ke Turki bersama suaminya bpk Dr. Muh Rais Ahmad, didampingi putranya Dr. M Iqbal Rais. Cerita Iqbal, mengenang almarhumah ibunya, ibu begitu berbahagia (menikmati) sekali perjalanan ke Turki menemui putri kesayangannya, menantu dan ke 6 cucunya di Turki. Perjalanan menjenguk anak dan cucunya tsb sangat berarti dan menghibur diakhir hayatnya, sehingga jatah waktu izin sebulan berada di Turki, kata Iqbal terlewatkan selama 3 hari, terkena “denda” keimigrasian. Tapi alhamdulilah perjalanan pulang dan pergi baik dan lancar serta ibu dalam keadaan sehat.

Baca :  Kesan Terhadap Budayawan Besar MH Ainun Najib

Terus terang, sejak lama, saya sesungguhnya sudah terkesan dengan kehidupan keluarga dan keberhasilan senior KAHMI dan ICMI kita ini bpk Dr. Muh Rais Ahmad yg telah sukses membina keluarga berbahagia, penuh kasih sayang (sakinah mawaddah warohmah), serta subhanallah kesemua putra-putri berprestasi dan mampu meraih gelar akademik tertinggi (Doktor) dalam berbagai disiplin ilmu dari beberapa Perguruan Tinggi dalam dan luar negeri.

Dr. M Iqbal adalah ilmuan/pakar di bidang ITC lulusan salah satu Universitas di Perancis; Dr.Ani Rais adalah saintis lulusan psikologi UI Depok, Jakarta. Sedang Dr. Al Fajri adalah ahli hukum dan sekaligus lawyer (advokat) lulusan UNPAD Bandung.

Saya sejak mahasiswa dan menjadi aktivis HMI, saya ditakdirkan Allah, alhamdulillah bisa berkenalan dan mengenal lebih dekat dan akrab dengan keluarga ini. Bapak Muh Rais Ahmad, senior saya dan kita ini, dikenal hidupnya bersahaja, berpenampilan sederhana, seorang pembelajar, disiplin dan taat beribadah, aktivis sosial kemasyarakatan, serta pejuang (mujahit) dakwah Islam yg kritis dan tetap istiqomah sejak muda hingga kini (lansia). Keseharianya senior kita ini, selalu mencurahkan waktu untuk berpikir dan berbuat yang terbaik bagi kepentingan ummat dan bangsa. Beliau tempat bertanya dan disegani serta dihormati di kalangan para aktivis muslim, salah satu diantaranya saya.
Begitu juga almarhumah, orangnya ramah, terpelajar dan berakhlaqul karimah, sangat patut menjadi suritauladan (rule model) bagi kita yuniornya di HMI dan KAHMI. Almarhumah ibu Ir.Astuti Rais MSc seorang ilmuan dan peneliti di Badan Litbangtan Kementan RI, seorang sosok-vigur yang sukses mendidik anak2nya dan pendamping setia suaminya.
Pengakuan ini juga saya dengar langsung dari Bapak Muh Rais sebagai suaminya. Mereka saling mengisi peran2 dalam keluarga. Yang menarik saya dengar dalam obrolan kami adalah mereka bersepakat..” jika bpk Rais, suaminya “marah”, maka ibu Rais harus “diam”, demikian sebaliknya, setelah itu tidak lama “damai”kembali. Suami dan istri ini betul2 rukun “belahan hati dan belahan jiwa”. Bapak Rais begitu sedih ditinggal istri tercintanya, katanya tadi setelah sholat zhuhur …”air matanya masih bercucuran dipipi, mengenang kebaikan ibu..”

Baca :  FGD Optimalisasi Gerakan Koperasi Kabupaten Bogor

Kita berharap dan berdoa, semoga almarhumah ibu Astuti Rais (72 thn) berada disisiNya dengan ditempatkan ke dalam golongan orang2 sholehah, dan dengan kepergian almarhumah ibu, Allah SWT juga senantiasa mencurahkan rahmat dan karuniaNya kepada keluarga ini, dan kemudian keluarga yg ditinggalkan diberikan kesabaran, keikhlasan dan bertawakkal kepada Allah SWT…Amin3 YRA..sukron barakallah.

Semoga narasi singkat ini bermanfaat dan mohon maaf apabila ada kesalahan dan kekhilafan yang kurang berkenan.

Wabillahit taufiq walhidayah wr wb.

Tulisan ini merupakan hasil plrenungan, setelah sholat Tahajjut, bertadharus, menunggu waktu menjelang sholat subuh. Penulis adalah Sekwanhat MD KAHMI Bogor, Pendiri-Dosen UNIDA Bogor serta Pemerhati Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *