Inmemorial Almarhum Endik Mawardi

0
Apendi Arsyad, New Normal, KAHMI, ICMI, Covid-19
Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, MSi

Oleh: Dr.Ir. H. Apendi Arsyad, MSi

Innalillahi wainnaillahi rojiun
Turut berduka cita atas berpulang kerahmatullah alm Bung Endik Mawardi, semoga Allah SWT menganugerahi tempat terbaik Surgajannatunnaim. Amin-3 YRA.

Izinkan saya memberikan narasi sekilas tentang memorial Almarhum bung Endik Mawardi, BA. Almarhum adalah salah seorang Ketua DPC KNPI Kecamatan Jasinga yang cukup gesit, juga aktivis senior AMS dan menjadi Wakil ketua satu (Waka 1) DPD KNPI Kabupaten Bogor periode tahun 1989-1991, beliau mengaku juga ke saya sebagai alumni HMI. DPD KNPI Kabupaten Bogor waktu itu berkantor di Jalan Perintis daerah Merdeka Kota Bogor.

Sedangkan saya AA (HMI) ketika itu dalam Musda KNPI Kabupaten Bogor ke 4 tahun 1989 di hotel Purnama Cipayung Puncak Bogor, terpilih formatur dan ditunjuk sebagai salah seorang pengurus dengan jabatan Wasek Satu, sedangkan Sekretarisnya Lutfi Syamsudin (FKPPI, mantan Kadisdik), Bendahara alm Iyus Djuher (Korpri dan AMS, pejabat Pemkab, mantan Ketua DPRD Kab.Bogor), Waka 3 Rahmat Yasin (kader Pemuda Ansor/ P3, mantan Bupati Bogor), Waka 2 Alm Ruddy Batlolone (Guru PNS, PP) dan Ketua DPD KNPI adalah alm Gingin Nugraha (Korpri/PNS, Ketua PPM). Pengurus pleno lainnya antara lain tercatat adalah bung Dace (unsur Korpri PNS, skrg pejabat teras Pemda, Kepala Dinas), May Komarudin (kontraktor), Tati (guru), alm Moch Zein Noch (AMS/AMPI), Rudy Harsyah (DPRD Jawa Barat, mantan Waka DPRD Jawa Barat), Dresno dan Budi Burhanudin (Pemuda Demokrat/kader PDI), alm Uus (AMS), Hamid (AMS), Jajang (AMS), Dina Guru PNS), dll (maaf saya pohok yg lainnya).

Kakansospol Kabupaten Bogor yang mengontrol “ketat” jalanya proses Musda ke 4 DPD KNPI thn 1989 di era Orba waktu itu adalah bpk.Letkol (aktif) Moch Daim orgnya tegas dan berwibawa, sedang aparat operator di lapangan yg mengawasi jalannya Musda dibantu bpk Kapten Soleh Abdullah, kang Dedi, dan kang Dadang. Belakangan mereka-2 ini di era bergulirnya Reformasi menjadi sahabat dan teman saya yg cukup dekat dan mereka orang yang baik hati.

Baca :  Melupakan Al Qur'an, Pandemi Covid 19 pun Mengancam

Saya AA sebagai salah seorang anggota formatur Musda KNPI Kabupaten Bogor terpilih dari unsur generasi muda Islam dan Kampus (aktivis HMI), maaf jujur saya berkata orang yang pernah mendapat “tekanan” yang diwaspadai regim penguasa di masa itu, karena berasal dari ormas Islam HMI yang dituduh rezim Orba sebagai kelompok “radikal”, bertepatan pula waktunya azas Tunggal Pancasila di UUkan, dimana ormas mahasiswa HMI dipandang dan dicurigai menolaknya, ada resistensi. Padahal faktanya tidak demikian, kader-2 HMI sangat setia pada NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dan tujuan NKRI sejalan dengan tujuan HMI sebagaimana tercantum dalam AD HMI hingga sekarang.

Alhamdulillah saya “lolos” di mata mereka, sehingga dimasukkanlah sebagai pengurus harian DPD KNPI bersama alm Bung Endik Mawardi dari utusan DPC KNPI Kecamatan Jasinga Bogor Barat. Almarhum Endik, termasuk salah seorang aktivis yg “senior”, beliau sebenarnya beliau adalah berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) aktivis AMS dan juga anggota/aktivis Golkar Kecamatan Jasinga di masa itu.

Dalam pengamatan saya kepengurusan DPD KNPI Kab.Bogor lebih banyak diwarnai pengelolaan organisasinya oleh almarhum Endik Mawardi BA, ketimbang Ketuanya sendiri alm bung Gingin Nugraha krn juga PNS pejabat Pemkab.Bogor di Jln Veteran Kota Bogor, dan kemudian sekretariat pindah ke Desa Pakansari Cibinong. Sedangkan bung Lutfi Syam (Alit) karena “kesibukannya” juga agak “pasif”, jarang hadir di sekretariat DPD KNPI, sehingga operator kesekretariatan berpindah kepada saya AA sebagai Wasek satu lebih banyak tampil “menggantikan” peran dan fungsi Sekretaris. Dalam.menjalankan tugasnya saya banyak bermitra dengan Waka Satu alm Endik Mawardi BA, DPD KNPI Kab.Bogor dimasa itu. Kerjasama dan komunikasi.saya dengan almarhum cukup kental.

Baca :  Kapolresta Bogor Urang Kita Kuansing

Dinamika perjalanan ormas pemuda spt KNPI selalu dalam dikendali birokrasi yaitu jalur A (ABRI/TNI AD), B (Birokrat/Korpri) dan C (Golongan Politisi Sipil Golkar), sehingga tidak heran Ketuanya yg dipilih hasil arahan 3 jalur dan “rekayasa” adalah dari PPM (Pemuda Panca Marga) dan Sekretaris KNPI diplot oleh Kakansospol dari FKPPI (Forum Komunikasi Putra Putri Indonesia/putra ABRI dan Polri).
Sedangkan jabatan kepengurusan sisa lainnya baru diisi atau dishare ke ormas-2 pemuda kino-2nya pendukung Golkar lainnya pada zaman itu.

Saya sendiri AA, alhamdulillah bernasib baik bisa lulus sbg salah satu pengurus harian DPD KNPI Kab.Bogor.periode tahun 1989-1991, yang mendapat “restu” 3 jalur A, B dan C. Proses penentuan cukup lama seharian (pagi hingga larut malam) akibat saya terpilih sebagai Formatur Musda KNPI, dituduh peserta kecolongan kata Kankansospol. Statement bpk Daim tersebut saya bantah dengan argumentasi yang rasional, dan berani sebab saya tersinggung dan kemudian saya “melawan”, akhirnya para elite politik 3 jalur bisa paham dan menerima argumen saya, diantara alm Koerman Sabur/Waka Golkar-Ketum MKGR Kab.Bogor. Pada hal saya waktu itu masih berstatus manusia- alumni HMI yang indefenden, kader insancita HMI yg tetap kritis terhadap dimana politik Orba yg refesip, terutama soal dwifungsi ABRI dan saya belum berafiliasi ke partai manapun.

Baca :  Paradox dan Anomali Sektor Pertanian

Baru satu tahun kemudian (1990) di ke-pengurusan DPD KNPI saya masuk Golongan Karya (Golkar), dan memperjelas status saya sebagai anggota Golkar dan juga masuk anggota PPM Kabuptaten Bogor karena memang alm Bapak saya pensiunan Veteran RI. Sejak tercatat anggota Golkar dan PPM itulah perjalanan aktivitas dan karier politik saya berjalan “mulus”, tidak lagi dalam kontrol dan tekanan regim penguasa. Memang di masa itu pengawasan terhadap aktivis Ormas dan 3 Orpol tidak lepas intervensi pemerintah. Orang seperti saya AA yg dari elemen HMI dan bukan kader Golkar diperlakukan agak diskriminatif, maaf kawan-2 waktu itu menyebutnya kelompok nonGolkar sebagai “kucing kurap”, sehingga saya memilih masuk Golkar. Tahun 1998 reformasi meletus, saya pun diajak masuk dalam kepengurusan sebagai Wasek Satu DPD Partai Golkar Kab.Bogor (Golkar Reformasi, disconnected dgn 3 jalur) dibawah kepemimpinan alm Bpk Letkol H.Eso Sukarso, krn bpk Eso sakit kemudian dilanjutkan oleh kang Moch Rusli AS (1998-2004).

Begitulah kondisi pembinaan kader Ormas di era Orba, yang sangat berbeda dengan kondisi di era pasca reformasi sekarang yg demokratis.

Kita doakan Semoga arwah alm bung Endik ditempatkan disisiNya yang terbaik dan husnul khotimah.

Saya memiliki kenangan manis bersama almarhum dalam mengisi perjalanan hidupnya di bumi Tegar Beriman Kabupaten Bogor, dan merupakan langka awal belajar menjadi aktivis pemuda, dunia usaha (Kadinda), perkopersian (Dekopinda), Ormas kino Golksr-Gema MKGR dll. Selamat jalan alm. bung Endik Mawardi BA untuk menghadap keharibaan Sang Khalik Allah SWT dgn penuh kedamaian dan kebahagiaan.
Allahu maghfirlahu warhamhu.. Wa’afiiwa’fuanhu
Wassallam.. Sahabatmu..

Penulis adalah Pendiri-Dosen Senior Universitas Djuanda Bogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here