Integrated DAS Kuansing Management

oleh -637 views
Integrated, DAS Kuansing, DAS Management, Apendi Arsyad

Oleh: Apendi Arsyad

Alhamdulillah, cukup “ramai” juga, yang merespon artikel saya yang telah publish di medsos Lead.co.id kemaren (Sabtu 14/5-2022), yang berjudul “Hancurnya DAS Kuantan dan DAS Singingi, Riau”. Antara lain mereka yang merespon itu bpk Plt Bupati Kuansing (Suhardiman) Ketua LAM Kuansing (Datuk Bisey), dan para aktivis adik-adikku di Himpunan Alumni (HA) IPB University, yang berdomisili di Kuansing, antara lain yakni adinda Lisdarti, Bob dll.

Saya AA akan merespon balik apa yang dikomentari om Bob di WAG HA IPB Kuansing. Mudah-mudahan bermanfaat buat menambah wawasan, dari mana dulu kita memulai program penyelamatan DAS dari kehancuran, yang akan membahayakan masyarakat lokal. Bahwa kita paham sumberdaya dan ekosistem DAS merupakan salah satu sumber kehidupan masyarakat, jika tidak dikelola dengan baik, profesional dan bijaksana, SDAL itu akan hancur, punah, sehingga membuat masyarakat generasi berikutnya akan sengsara kehidupannya.

Singkat kata kita perlu dan wajib merumuskan dan menetapkan konsep Master Plan, atau dokumen projek “Pengelolaan DAS terpadu” (Integrated River Management) agar jalannya pembangunan daerah lebih terarah, fokus, antisipatif dan solutif terhadap issu-issu strategis yang tengah dan akan dihadapi.

Betul apa yang dikomentari om Bob, pesan WA bahwa untuk menyelamatkan dan melestarikan ekosistem sungai (DAS) dan sumberdaya alam dan lingkungannya (SDAL) perlu melibatkan Pemprov dan Pemkab lainnya di luar daerah Riau. Oh itu betul, memang pendekatan kerja demikian, sinergi dan kalaborasi, karena ini menyangkut problem lingkungan hidup yang banyak memiliki simpul-simpul keterkaitan ekologis dan multistakeholders yang memanfaatkan SDAL.

Baca :  Aku Bangga Sebagai Alumni SMPPN 49 Kota Pekanbaru

Pengelolaan SDAL ekosistem DAS Kuantan dan DAS Singingi, berdasarkan ilmunya (saintek) haruslah menggunakan Konsep Pengelolaan Terpadu (integrated river management).

Materi konsepnya berbasis sistem, holistik dan sustainability yang berorientasi mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) sebagaimana kesepakatan dan komitmen global di forum PBB. Dimensi atau aspek keterpaduan (integrated) dalam SDGs dapat dikatakan agak meluas, longtime, jika ingin projek pengelolaan DAS tersebut berhasil dilaksanakan dan berdampak positif bagi semua stakeholders.

Oleh karena itu, komunikasi, sinergi dan kolaborasi antar pihak menjadi mutlak adanya, yakni seperti antar sektor, antar wilayah (batasan ekologis) spt Prof/Kab-kota yg dilalui DAS, antar disiplin ilmu pengetahuan (multi disiplin-scientific), multi stakeholders (baik primer dan sekunder) terutama keterlibatan local community agar mereka berbudaya konservasi, tidak merusak atau mencemari SDAL, khususnya ekosistem DAS etc etc.

Untuk keterlibatan masyarakat atau penduduk setempat (local community), dan tokoh masyarakat (ulama dan pemangku adat) perlu penyadaran melalui edukasi seperti kegiatan penyuluhan, diktar etc. Agar tugas pemerintahan lebih ringan, maka harus dibentuk dan dibangun LSM/NGO yg bisa mendidik warga agar cepat darling (sadar lingkungan), promosikan program penyelamatan ekosistem DAS Kuansing ke semua pihak, multi stakeholders, bekerja sama dengan mass media, semua jajaran Pemda/ Pemkab, Pemcam, Pemdes, RT/RW, BPD dan LKD di desa-desa, Orpol, dan ormas serta komunitas masyarakat dilibatkan agar mereka sadar, peduli dan ikut bertanggung jawab dalam konservasi DAS Kuansing, etc multi approach.

Baca :  Lagu Melayu Riau Tempo Doeloe, Enak Betul

Harus diingat, mengelola DAS Kuantan dan DAS Singingi agar tetap lestari, bukan berpikir hanya membangun bangunan fisik spt “turaf” untuk penahan abrasi (longsor) di tebing badan sungai semata,… tidaklah ! Itu pemikiran yang salah, kuno dan sangat keliru, dimensinya penyelamatan DAS lebih luas dan komplek. Termasuk di dalamnya ada gagasan kreatif tentang konsepsi pengembangan usaha ekonomi- kreatif-bisnis seperti membuka wahana River Ecotourisme, Fish aquaculture, Cruize river, Banana boats, proyek pengembangan air bersih “PAM”, etc etc, mengundang para investor, disini menuntut imaginasi kreatif, inovatif dan enterpreunership dari para perancang dokumennya.

Makanya Kabupaten Kuansing mutlak memerlukan para pemimpin/Bupati-Wabub, para Kadis, staf birokrasi dan pemuka masyarakat yg visioner, open midset, gemar berkalaborasi dengan membangun jejaringan sosial dan bisnis, etc.

Memang penyelamatan 2 (dua) DAS besar di Kuansing ini pekerjaan besar, komplek dan sangat menantang, multi challange, yang menuntut juga kualitas komunikasi, kalaborasi dan mutual sinergy antar pihak terutama bagi para talenta (multi talent) yg kreatif dan inovatif.

Mereka punya akses dan jejaringan ke luar baik tingkat lokal, regional, nasional dan bahkan perlu mengakses jejaringan pendanaan dari para sponsor internasional.

Selain itu, kunci kesuksesannya terletak pada kualitas perencanaan di Dinas/SKPD seperti Bappeda dll. Team ahli Bappeda yang dibantu konsultan dari luar birokrasi, untuk tahap awal menginventarisasi isu-isu strategis melalui riset untuk merumuskan dokumen perencanaan kebijakan publiknya, agar data dan informasi diperoleh akurat utk bahan penyusunan Dokumen detail Pengelolaan Ekosistem DAS Kuansing dan DAS Singingi, Provinsi Riau.

Baca :  Ayah Hebat dalam Rangka Hari Anak Nasional

Kemudian baru melangkah ke tahap-tahap berikutnya sesuai dengan siklus manajemen keprojekan, ikuti norma-norma dan tatanan kelembagaan yg ada, agar bisa menjadi program perioritas yg didukung oleh rekan-rekan DPRD Kab Kuansing, Forkopimda, dan lembaga donor lainnya yang berkomitmen dengan penyelamatan ekosistem DAS.

Saran abang AA mulai sajalah dahulu dari hal-hal yang kecil, strategis tetapi berdampak besar. Yakinkan pemimpin daerah, Bupati beserta jajaran SKPD/OPD, terutama Kepala Bappedanya dan para legislator (DPRD) setempat tentang krisis ekologis, berupa hancur ekosistem DAS Kuantan dan DAS Singingi akibat polusi illegal mining-Peti, deforestry, degradasi ekosistem perairan umum akibat erosi dan sedimentasi, bencana alam tebing longsor, dan lain-lain.

Mudah-mudahan ke depan, masyarakat Kuansing bisa melahirkan dan memilih pemimpin yg paham, konsen dan berkomitmen mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pengelolaan DAS Kuansing yg bernilai ekonomi, ekologi dan ekososial secara berkelanjutan.

Semoga nagori kita, Rantau Kuansing tidak tertinggal dengan daerah lain yang sudah maju dan berkembang dengan masyarakat lokalnya sejahtera (social wellbeing), sebab alam dan lingkungan ditata dengan baik berdasarkan prinsip-prinsip keberlanjutan.

Kaum terpelajar dan terdidik yang terhimpun dalam HA IPB University yang eksis di Kabupaten Kuansing, haruslah bangkit untuk membangun kesadaran para pemangku kepentingan.(main stakeholders) yang bertanggung jawab atas tugas pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan (SDAL) DAS Kuansing sebagai sumber utama kehidupan masyarakatnya.

“Tigo tali sapilin, Basatu Nagori Maju”

 

Penulis adalah orang Cerenti, mukim di Ciawi, Bogor

One thought on “Integrated DAS Kuansing Management”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *