Kemana KAHMI dan ICMI Bogor di Era Tolak RUU HIP

0
HMI, KAHMI, ICMI, RUU HIP
Foto: Aksi gabungan menolak RUU HIP di area Tugu Kujang, Kota Bogor, Jumat (3/7/2020). Tampak tokoh nasional MS Kaban sedang berorasi tentang Pancasila, Piagam Jakarta, dan RUU HIP. (doc. redaksi Lead.co.id)

Oleh: Dr. H. Apendi Arsyad

Sukron uda Erwin atas tanggapannya terhadap tulisan2 saya. Akhir akhir ini Saya hampir setiap hari meluangkan waktu untuk sharing ideas dan informasi tentang berbagai kekhawatiran saya atas keberlangsungan bangkitnya PKI di tanah air, yang ditandai munculnya RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) yang sangat meresahkan itu. Dalam artikel yang pernah saya tulis bahwa isi RUU HIP sudah menambrak isi Pembukaan UUD 1945 yg sifatnya final dan permanen tersebut. Jika disyahkan sebagai UU HIP maka NKRI bubar (ambiyar) dan itu jelas si promotornya fraksi PDIP melanggar dan berkhianat terhadap kesepakatan dan konsesus nasional (ktps PPKI tanggal 18 Agustus 1945) yang menetapkan UUD 1945 yang kita pedomani dan taati sekarang sebagai landasan konstitusional bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam wadah NKRI dan sudah menjadi sumber dan dasar hukum negara Republik Indonesia. Demikian pentingnya kita pahami RUU HIP tersebut, harapan kita semoga kita peduli secara kolektif untuk beraksi. Dan kita wajib waspada dan pro aktif melawan bangkitnya new Nasakom dan new PKI yang sudah di depan mata. Jika kita tidur bisa kita disembelih oleh mereka para “dajjal” yg anasionalist (perusak NKRI), amoral (suka dan gemar membunuh lawan politik yang tidak sejalan dengan paham komunis terutama ulama dan santri etc) dan ateis (kafir, musrikin, fasikun dan munafikun).

Saya kira para aktivis Kahmi dan termasuk ormas Islam ICMI sikapnya jangan lupa sejarah/Jasmerah. Mohon diingat baik2 pada thn 1965 HMI hampir2 dibubarkan PKI, HMI difitnah sebagai “antirevolusioner”, juga harus diingat para senior HMI angkatan 66 berhadapan langsung dengan aktivis2 CGMI yg militan antara hidup dan mati ketika itu. Ingat juga peristiwa Utrech di FH UNBRA Malang, fitnah CGMI terhadap HMI, abang saya H.Edward Arfa SH (pensiunan hakim dan kini pengacara kini mukim di Kota Tg Pinang), beliau pernah bertutur kepada saya adiknya di Ciawi Bgr beberapa tahun lalu. Semasa abang saya menjadi Bendahara HMI Komisariat FH Unbra dan aktivis Badko Jatim, dizholimi CGMI, hampir berbulan-bulan tidak bisa keluar rumah, abang saya bersembunyi di loteng rumah karena terancam nyawanya. Sebagian teman2 aktivis HMI, semasa itu (thn 1963-1965) banyak yg tidak jelas nasibnya alias disiksa dan dibunuh antek2 PKI, bebrrapa nama alumni yg mati belisu sebutkan (tspi saya lupa) dan yang selamat adalah bpk alm. Asmuni, alm bpk Sukri aktivis Kahminas Jkt dll, yang kita adik2nya sempat bertemu di tahun 1990an di acara2 KAHMI di Jakarta.

Baca :  400 Laskar FPI Siap Kepung DPR RI Tuntut Batalkan RUU HIP

Demikian sahabat SF uda Ir.Erwin Syamsuar.MM/mantan Bankir Bukopin, hatur nuhun komentar dan apresiasinya. Saya menyarankan antara lain kepada bapak Abas TS, bpk AM Saefudin, bpk Rais Ahmad, Marco Mansur dkk tokoh2 angkatan 66 yg masih hidup, harusnya menulis sejarah apa dan bgm kejadiannya ormas Islam HMI vs CGMI di daerah Bogor, termasuk di dalamnya bgm para senior kita HMI seperti alm Kang Prof Soleh Solahudin, alm Prof.Abdul Azis Darwis, alm Prof. Irawadi, merebut asrama Felicia (SF) IPB dari CGMI?.

Saya dulu semasa menjabat Sekum HMI Cab. Bogor tahun 1983-1984 pernah membaca dokumen arsip HMI tentang kang Prof.Soleh sbg Ketua Dema IPB menurunkan dan “menggotong” bpk Prof.Kamto Oetomo (alias alm Sayogyo) dari Rektor IPB di masa itu. Mudah-mudahan arsipnya tidak hilang di aula SF IPB. Kemudian bahan2 tsb didokumentasikan, dicetak berupa buku dan jadikan sebagai materi LDK dan diklat HMI lainnya, agar adik2 HMI tahu, paham dan sadar sejarah agar tidak “Jasmerah” spt keadaan sekarang kelihatan agak apatis dan permisif alias “cuek” melihat kondisi krisis politik. Padahal katanya bpk alm. Jend.Soedirman HMI itu “Harapan Masyarakat Indonesia”, kata alm. Dr.Nurcholish Majid/Pemikir Islam terkemuka dan Ketum PB HMI 2 periode, HMI itu adalah Basic Demand Bangsa Indonesia, ya otomatis KAHMI didalamnya sebagai keberlanjutan misi Insan Cita HMI berperan prosktif dalam situasi genting seperti saat ini. KAHMI Bogor janganlah sebagai “penonton atau pengamat” tapi ikut aktif berperan dalam mengkonsolidasikan ummat dan bangsa Indonesia seperti yang dilakukan MUI, Muhamadyah, NU dan FPI etc.

Baca :  RUU HIP: Memperlemah atau Memperkuat NKRI ?

Di Bogor ada lk 200 ormas, LSM, Perguruan Pencak Silat dan berbagai Komunitas masyarakat Bogor anti komunis dan tolak tegas RUU HIP yang tergabung dalam Anak NKRI Bogor Raya (Anak kepanjangan dari “Aliansi Nasional Anti Komunis”) telah solit menolak RUU HIP dan juga sudah menekan pimpinan DPRD Kota dan Kab. Bogor, mereka audiensi perwakilannya ke kantor Dewan.

“Anak NKRI” Bogor Raya telah berdemontrasi di Tugu Kujang Kota Bogor dengan ribuan massa rakyat dari berbagai elemen di Bogor Raya.Jumat siang 3/7-2020, tapi sangat kita sayangkan saya tidak melihat bendera Korps Alumni HMI (KAHMI) dan Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Bogor berkibar di sekitar arena panggung orasi seperti bendera ormas dan LSM lainnya. Demikian juga masa elemen Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan KAHMI Bogor juga tidak kelihatan ada batang hidungnya, apalagi berorasi di podium dari dan atas nama KAHMI dan ICMI Bogor tidak ada pimpinan dan atau wakilnya.

Baca :  Tolak RUU HIP, KPTB Siap Turunkan Masa Dalam Jumlah Besar

Begitulah kondisinya uda Erwin, kita dari KAHMI dan juga ICMI seharusnya merasa terpanggil juga dan pro aktif membela NKRI dari ancaman bahaya komunis/PKI seperti mereka. Mereka agak mencibir, ada orasi yang saya dengar langsung dari Tokoh Alumni 212 Bogor Raya (saya kenal baik dengan beliau) berorasi di podium ada prof doktor dimana gelarnya bajibun/berderet-deret tidak mau menolak RUU HIP bahkan menyarankan menunda pembahasan RUU HIP di DPR RI. Mendengar statemen tersbut saya langsung teringat sikap Ketum ICMI kita. kasihan Ormas terpelajar ‘disindir’ para tokoh ummat (para alim ulama dan habaib); mungkin bisa terjadi nanti akan dilecehkan jika sikap cuek (apatis) dipertahankan. Ini patut menjadi keprihatinan dan perhatian kita bersama, khususnya pesan moral ini untuk kita2 yang ada di wilayah Bogor dan juga untuk Indonesia pada umumnya. .Yakusa dan Yusra.

Maaf apabila ada hal “kritik sosial” saya yg kurang berkenan di hati. Maksud saya menarasikan hal tersebut hanya saling mengingatkan krn Allah SWT untuk kebaikan kita bersama. Semoga Allah SWT memberikan taufik dan hidayahNya kpd kita sekalian. Amin3 YRA. Sukron barakallah.

Penulis adalah Dosen, Sekwanhat KAHMI Bogor dan Pendiri-Wakil Ketua ICMI Orwilsus Bogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here