Kolaborasi dalam Pendidikan

oleh -580 views
Kolaborasi Pendidikan, Penndidikan, Rendy Dwi Maulana

Oleh: Rendy Dwi Maulana

Pendidik paham bahwa sekolah diisi manusia yang pada hakekatnya merupakan makhluk yang belum selesai. Perubahan akan terus terjadi seiring dengan peradaban manusia yang terus berkembang. Dengan alasan itu, hari ini dengan beberapa tahun ke depan, pendidik akan berhadapan dengan manusia yang berbeda secara karakteristik hidupnya. Maka pola pendidikan harus ikut atau mau tidak mau harus mampu beradaptasi. Pada situasi tersebut, potensi permasalahan pasti ada.

Misal masalah sekolah di masa pendemi yang telah memberi makna pada pendidikan, betapa pentingnya sebuah kerjasama atau kolaborasi. Peran orang tua dan guru menjadi faktor penentu dalam upaya membangun sistem pembelajaran jarak jauh yang efektif. Tidak hanya itu, kerjasama antar guru sebagai bagian yang tidak mungkin dihindari untuk berinovasi

Begitu meyakinkannya kolaborasi menjadi ruang penting dalam pendidikan telah dibuktikan dengan sadar oleh para pendidik di Finlandia, bahkan Walker (2017) melakukan wawancara kepada guru di Finlandia mengenai hal yang membuat mereka gembira, jawaban yang populer ialah kolaborasi. Praktik kolaborasi di sana tidak hanya dalam pemahaman yang mungkin terjadi dalam keseharian pendidik di berbagai negara seperti merencanakan pembelajaran secara bersama-sama─ lebih dari itu, mereka berkerjasama untuk merumuskan hambatan yang terjadi, memperbaiki jam istirahat siswa, menganalisis kurikulum, dan berbagai bantuan lainnya. Di Finlandia kolaborasi dan diskusi menjadi kebiasaan bukan hanya sebatas menyelesaikan tugas pekerjaan saja.

Baca :  Karakter Bukan Garis Tangan: Menggugat Mitos Bawaan Lahir

Indonesia lebih mengenal kolaborasi ini dengan istilah azas gotong royong yang secara turun-temurun diwariskan leluhur bangsa ini, bahkan sebelum Finlandia menjadi bangsa yang merdeka. Tetapi kita tidak dapat juga menghakimi jika kolaborasi tidak terjadi di sekolah-sekolah Indonesia─ sungguh jika kita berpikir secara etis, ada beberapa pertanyaan reflektif─ sejauh manakah gotong royong terjadi dengan rasa legah di dalam pendidikan kita hari ini? Atau segembira apakah kolaborasi yang terjadi di pendidikan kita hari ini?

Tidak kalah penting, sejauh manakah sistem pendidikan kita menyuburkan ruang kolaborasi? Di tengah tuntutan hidup dan tuntutan beban kerja pendidik di Indonesia masih kering untuk ruang gotong royong yang gembira. Sekat yang menghambat merupakan awal kolaborasi yang mungkin dapat dirumuskan bersama karena pendidikan yang baik tidak lahir dari alur yang sentralistis di dalam satuan pendidikan.

Baca :  Harapan Mas Menteri Pupus di Depan Gerbang Sekolah

Pendidikan yang merdeka─ konsep yang sedang digaungkan Kemdikbudristekdikti saat ini seyogyanya membuka lahan yang luas untuk mendorong pendidik berkolaborasi. Mungkin bisa dimulai dengan merefleksikan berbagai hal yang ada di dalam diri, satuan pendidikan, serta kurikulum sehingga ada berbagai perspektif yang menjadi kekayaan pengetahuan tentang keadaan di sekolah untuk menjadi dasar. Sebenarnya pendidik Indonesia pun sadar adanya permasalahan di dalam tubuh pendidikan bangsa ini tetapi mungkin ada berbagai perasaan yang membuatnya tidak punya jalan untuk menyampaikan, apalagi untuk mengkolaborasikannya dengan rekan lain agar dapat dianalisis dan dipecahkan secara bersama-sama.

Baca :  Membangun Episentrum Literasi Sekolah

Penting adanya pola pikir dalam pendidikan Indonesia bahwa mungkin ada hal yang tidak mengenakkan untuk dirinya tetapi semua itu dibicarakan untuk kebaikan kita─ demi pendidikan Indonesia yang lebih baik dengan saling mengulurkan tangan, bukankah itu budaya bangsa kita? Bukan membicarakan hal negatif tentunya, melainkan saling memberi kritik dan saling membantu terhadap keterbatasan yang ada.

Semestinya kita bisa lebih dari Finlandia dengan warisan budaya kekeluargaan. Mungkin juga perlu membiasakan diri seperti di Finlandia dengan kolaborasi lewat kopi agar semua tidak terlalu tegang. Lagi, semua ini kita sadari untuk membangun pendidikan yang selamat dan bahagia sehingga kita berhasil memanusiakan manusia­─ konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara yang diulang-ulang di ruang publik tetapi belum sampai di semua sekolah kita hari ini.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *