KPI Ajak Generasi Muda Bijak Menyikapi Isu di Medsos

0

LEAD.co.id | Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat mencatat tingkat kepercayaan di Indonesia terhadap media, meningkat sejak masa pandemi Covid-19 hingga 72%. Peningkatan ini pun berbarengan dengan adanya paham-paham radikalisme yang sangat cepat sampai ditengah-tengah masyarakat kita.

Hal tersebut disampaikan Komisioner KPI Pusat, Nuning Rodiyah Dalam acara bincang milenial bertema “Penanggulangan Radikalisme di Kalangan Generasi Muda melalui Literasi Media” yang digelar Swara Milenial Indonesia (SMI) secara hybird di Upnormal Coffee, Raden Saleh, Jakarta Pusat, pada Selasa (04/05/2021).

Dalam paparannya, lembaganya (KPI) nyaris tidak menyiarkan paham-paham yang terindikasi radikal.

Baca :  Peduli Warga Terdampak Covid-19, Iis Edhy Prabowo Berikan Bantuan

“Sejak 2013 adanya penayangan muktamar khilafah oleh stasiun TVRI, kemudian disusul kejadian 2018 tentang vonis terhadap Maman Abdurrahman, dan aksi penusukan Menkopohukam di tahun 2019 lalu. Kini nyaris stasiun televisi tidak lagi menyiarkan tayangan serupa, yang berpotensi propaganda ajaran agama atau aliran tertentu. Kalaupun ditemui paling sangat sedikit sekali,” paparnya.

Dirinya menambahkan, berdasarkan lembaga penyiaran nomor 32 tahun 2002 tentang UU pasal 36 telah melarang siaran yang sifatnya menghasut, menyesatkan dan/atau bohong, menonjolkan unsur kekerasan, mempertetangkan suku, agama, ras, dan lain-lain.

Baca :  Endang Setyawati Minta 4 Pilar Kebangsaan Dipahami dengan Baik

“Liputan terorisme misalnya dalam pasal 24 disebutkan bahwa Lembaga penyiaran wajib menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi secara lengkap dan benar, tidak memberikan labelisasi terhadap suku, agama, kerabat, atau kelompok yang diduga terlibat,” tambahnya

“Jika ditemukan masih terdapat Lembaga penyiaran yang melanggar ketentuan tersebut, maka KPI akan langsung memberikan teguran.
Dengan Maraknya paham radikalisme yang berkembang dimasyarakat hari ini, maka diperlukan untuk kita semua supaya Bersama-sama saling mengingatkan dan jangan langsung menerima begitu saja informasi yang ada di media social,” imbuh Nuning Rodiyah.

Baca :  DPR RI dan LAPMI Dukung Penyelenggaraan Asuransi Pertanian

Disisi lain, Anggota DPR RI fraksi PPP yang juga Ketua Umum GMPI, Achmad Baidowi menjelaskan, kemunculan dan berkembangnya paham radikal ditengah masyarakat disebabkan oleh beberapa faktor.

“Jadi ada faktor kesukuan seperti yang terjadi di Papua hari ini yang akhirnya sama pemerintah ditetapkan sebagai kelompok radikal, faktor kemiskinan dan ketidak adilan yang mengglobal, faktor pemahaman keagamaan yang masih dangkal. Sehingga beberapa faktor inilah yang menyebabkan paham radikal dengan cepat menyebar di masyarakat,” pungkasnya.

Kontributor : Ach Haqqi
Editor : Aru Prayogi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here