Kunjungan BPL PBHMI, Ketua BPK: Tetap Menjadi Insan Pembelajar

oleh -305 views

LEAD.co.id | Ketua BPK, Dr. Agung Firman Sampurna menerima kunjungan Pengurus Badan Pengelola Latihan (BPL) PB HMI 2018-2020 dan Peserta Pusdiklatsus Ekonomi-Politik di ruang pertemuan BPK RI lt. 19, Jakarta, Senin (27/1/2020).

Pelatihan ini merupakan hasil kerjasama antara BPL PB HMI dan INDEF (Institute For Development of Economics and Finance) dan telah ditutup pada hari Sabtu 25 Januari 2020, di aula INDEF, Jakarta.

Kunjungan yang diinisiasi oleh MN KAHMI Sujana Sulaeman (Kang Jana) dan Ketum BPL PB HMI Nur Cahyono, serta di koorndinir Wasekbid HAL BPL PB HMI, Abdul Hamid Al-mansury bertemakan “Menjadi Insan Pembelajar.”

Sebagai alumni HMI, Agung menyampaikan apa yang perlu dipersiapkan oleh kader HMI saat ini. Ia memulai dengan mengingatkan komitmen (tujuan) HMI sebagaimana tercantum dalam pasal 4 Anggaan Dasar HMI.

Baca :  PB HMI Nilai Kehadiran Yana Aditya Menjadi Berkah bagi Transjakarta

“Saya tidak tahu komitmen itu sudah berubah atau belum. Tapi, mudah-mudahan tidak berubah. Kalau dulu bahasanya yang digunakan masih, terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”, Ucapnya, di Kantor BPK, Jakarta Pusat, Senin (27/1/2020).

Lebih lanjut, Ketua BPK itu memaparkan apa yang perlu dipersiapkan oleh kader HMI saat ini adalah direction (arah), being a leader (menjadi pemimpin) dan being a lerner (menjadi insan pembelajar). Sudah barang tentu tujuan HMI itu merupakan arah namun bersifat umum.

Secara lebih spesifik, ia menjelaskan sebuah arah harus memiliki konten yakni, accountability for all (akuntabilitas untuk semua). Ia mendefinisikan akuntabilitas merupakan cara melakukan segala sesuatu dengan cara-cara yang dapat dipertanggungjawabkan, akuntabilitas disini memiliki ekosistem diantaranya adalah standar, pelaporan dan pemeriksaan. Inilah yang dibutuhkan Indonesia saat ini dan haruslah menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari”, tegasnya.

Baca :  Ketum PB HMI : Strategi Kebudayaan dan Ketahanan Bangsa Harus Dilakukan dalam Menghindarkan Perang Sipil di Papua

Untuk mewujudkan Indonesia yang accountable (bertanggung jawab) tentu membutuhkan sebuah kepemimpinan. Kemampuan seperti apa yang harus dimiliki seorang pemimpin. Agung menjelaskan, pertama, mampu mendapatkan informasi yang akurat. Kedua, dapat mengelola informasi yang diterima. Ketiga, memahami risiko apa yang akan terjadi. Keempat, keberanian dalam membuat keputusan dan kelima menjadi bijaksana.

“Terakhir, bagian terpenting lainnya yang harus dipersiapkan kader HMI saat ini dalam menghadapi perubahan zaman yang dinamis dan arus informasi yang sangat cepat adalah menjadi insan pembelajar (being a lerner). Dalam bentuk operasionalnya insan pembelajar disini lerning organization (organisasi pembelajaran). Organisasi pembelajaran disini adalah kemampuan berakselerasi dengan perubahan lingkungan eksternalnya atau kemampuan belajar memahami dengan cepat walaupun bukan bidangnya. Dan yang harus dipersiapkan dalam hal ini adalah kesiapan mental dan cara berpikir,” ujarnya.

Baca :  Suarakan Perlindungan Data Pribadi, PB HMI Dorong Percepat Pengesahan RUU PDP

Sementara Ketum BPL PB HMI Nur Cahyono menyampaikan, hari ini sebagai pemimpin harus cepat dalam mengolah informasi, dalam hal ini bertujuan untuk mampu melihat kondisi nasional maupun internasional.

“Arus informasi begitu cepat, kita harus cepat meresponnya,” tegas Cahyono.

Selain itu, Abdul Hamid Al-mansury berharap, kepada seluruh peserta Pusdiklatsus Ekonomi-Politik, mampu menjadi pemimpin masa depan yang memiliki kapasitas problem solver dalam berbagai masalah yang terjadi terutama masalah ekonomi-politik Indonesia.

“Kami berharap bisa menjadi sosok yang mampu memecahkan masalah dan mencari solusi terbaik buat bangsa dan negara,” pungkasnya. (Hmd/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *