Anak-2 desa saat ini tidak lagi bermain di halaman/pekarangan rumah, di sungai, di pinggir hutan atau kebun dan sawah, ruang alam terbuka yang bersifat alami. Tapi anak-2 muda sekarang (millenial, zaman now) bermainnya sudah berpindah ke ruang-2 yang sempit dan tertutup, bermain “game elektronik” cukup di rumah atau di warung rental internet yang kian banyak masuk di desa-2 kita.
Konsekwensi perubahan pola budaya, sikap mental, watak/karakter anak secara pelan dan pasti akan mengalami perubahan, yang terkadang tercabut dari akar sistem nilai budaya asli Indonesia kita yakni jiwa dan semangat gotong royong pun mulai tampak pudar dan akhirnya punah ditelan zaman.
Jadi tidak mengherankan kehidupan anak-2 kita cenderung “asosial”, agois, kuper (kurang pergaulan) dan kepekaan sosial melemah. Hal ini tentu tidak boleh kita biarkan, sebab bisa membahayakan dan mengancam keberlanjutan budaya bangsa kita yang luhur, yang hidup gemar bergotong-royong.
Dengan adanya lagu yang bersyair mengisahkan kehidupan semasa kecil kita di kampung doeloe, dengan postingan gambar permainan anak-2 tradisional yang selain bersifat attraktif juga edukatif, baik sekali kita lestarikan sistem nilai dan norma-2 sosialnya.
Mari kita ingat-2 kembali manfaat sosialnya dan seharusnya kita lestarikan demi keberlangsungan regenerasi bangsa yang berbasis pada kesetiaan pada budaya aslinya, yang diwariskan para leluhurnya.
Budaya asli bangsa Indonesia itu, yang sudah kita kenal yakni gemar bekerjasama, bergotong royong dan saling menolong antar sesama dalam kehidupan masyarakat.





