Leader Sekolah Mempraktekkan Ketidakadilan

82
0
Shofiana Dewi

Oleh : Shofiana Dewi

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, sekolah adalah bangunan atau lembaga untuk belajar dan memberi pelajaran. Pada intinya adanya sekolah itu bertujuan untuk menanam bibit-bibit unggul serta memanen generasi-generasi muda penerus bangsa. Berdasarkan penjelasan yang penulis ambil di salah satu situs http://m.kumparan.com/babyologist/bagaimana-sih-sekolah-yang-baik-1rlgDAJ, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam memilih sekolah di antaranya pertama nama baik sekolah itu. Menurut penulis, lama tidaknya sekolah itu berdiri maka tetap saja nama sebuah sekolah sudah pernah menjadi perbincangan di kalangan masyarakat sekitar. Berada di tengah masyarakat, tindak tanduk serta aktifitas sekolah tersebut tidak luput dari penglihatan masyarakat. Mulai dari aktif kerjanya hingga tutupnya. Sebagian masyarakat pasti tahu tentang keburukan sekolah itu yang masih belum terendus oleh masyarakat lain yang jauh dari kawasan tersebut. Misalnya sekolah A. Tata tertib dan peraturan di sekolah A tidak ketat. Saat jam pelajaran tengah berlangsung, salah seorang masyarakat melihat ada beberapa murid yang diam-diam meninggalkan ruang kelas tatkala gurunya tengah tidak ada di tempat. Kemudian mereka menuju ke pemakaman yang lumayan dekat dengan sekolah itu. Pada umumnya jika orang pergi ke pemakaman untuk berziarah namun tidak berlaku bagi mereka. Yang mereka lakukan di sana adalah bermain, bersenda gurau, bernyanyi dan berbagai aktifitas sia-sia lainnya.

Baca :  Kegagalan Pemerintah dalam Program Wajib Sekolah 9 Tahun

Nah, apakah sekolah yang berpotret seperti itu akan bisa melahirkan generasi penerus bangsa yang patut dibanggakan? Jawabannya tidak sedikitpun. Pertanyaannya, mengapa pihak penyelenggara sekolah itu bisa lalai terhadap hal-hal yang masih dikatakan kecil. Hal kecil saja mereka lalaikan apalagi yang besar. Apabila beralasan karena setiap guru memiliki tugas mengajarnya masing-masing dan selain dari mengajar sudah bukan tugas serta tanggung jawabnya maka itu sungguh salah. Guru tidak hanya mengajar, maksudnya hanya sebatas menstranfer ilmu pengetahuan. Guru juga harus bisa mendidik. Bagaimana agar peserta didik tak hanya unggul di IQ (Intelektual Question) saja akan tetapi juga di EQ (Emotional Question) dan SQ (Spiritual Question). Kedua suasana sekolah, guru-guru dan kurikulum. Suasana sekolah kondusif akan menciptakan pembelajaran yang berhasil mencapai tujuan. Bagaimana kinerja guru-guru di sekolah itu terutama perlakuan sikapnya saat memberikan reward. Kemudian kurikulum apa yang diterapkan oleh sekolah itu, entah kurikulum KTSP, K13 dll. Yang urgen apapun kurikulumnya bisa diimplikasikan dengan baik serta ada hasilnya.  Ketiga Fasilitas. Keempat Review. Review positif dari orang tua lain, dan input dari orang-orang terdekat. Sangat penting kita mendengar masukan dan informasi dari orang lain tentang sekolah yang akan dipilih, dan juga kita harus cross check lagi kebenarannya. Misalnya kita mendengar bahwa sekolah yang akan kita masuki itu terkenal dengan cerita pacarannya serta peserta didik di situ sering diam-diam meninggalkan kelas karena jalan sama pacar masing-masing.   Kelima budget. The last but not least adalah kesesuaian dengan budget kita, apakah uang sekolahnya sesuai atau tidak. Yang pasti harus sesuai dengan kemampuan. Kelanjutan dari yang tadi bahwa ketika mendengar bahwa sekolah yang akan kita masuki itu lebih banyak terdengar negatifnya namun budget yang kita miliki sesuai dengan finansial sekolah itu maka mau tidak mau pilihan tetap dijatuhkan ke sekolah itu. Karena sesungguhnya tergantung dari pribadi masing-masing peserta didik ketika berada di lingkungan lembaga sekolah seperti apapun itu.

Baca :  Carut Marut Zonasi Sekolah

Menurut pakar pendidikan, kriteria sekolah yang baik. Pertama, kepemimpinan sekolah professional. Sekolah yang gaya kepemimpinanya partisipatif, tegas dan bertujuan. Leadernya memiliki keterampilan, kemampuan serta kemauan untuk memajukan sekolah. Saat penulis masih duduk di bangku SMA. Ada satu teman seangkatan cewek yang katanya masih memiliki garis keturunan Nabi Muhammad SAW. Dia sering sekali tidak masuk sekolah atau absen tanpa keterangan yang jelas. Peraturan di sekolah jika A sekali maka disanksi dan A 3x maka akan dipanggil orangtuanya. Peraturan tersebut memang berlaku namun mirisnya meski satu orang yang keturunan Rasulullah itu telah lebih dari 3x A bahkan sudah tidak bisa dihitung lagi Anya namun pihak sekolah atas persetujuan pemilik yayasan sedikitpun tidak mempermasalahkannya dengan alasan karena si anak masih keturunan Rasulullah. Hal itu adalah sebuah ketidak adilan. Bagaimana sekolah akan berdiri tegak di fase kemajuan jika potret realita kehidupan di situ banyak sekali hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani? Kedua, semua warga sekolah memahami visi misi sekolah. Berdasarkan flashback tadi. Ketika seorang leader sudah mempraktekkan ketidak adilan, bukan berarti semua bawahannya juga seperti itu, pasti beda pemikiran namun tidak semua berani mempertahankan argumennya. Lanjutan flashback yang tadi, ada satu orang guru penulis yang terang-terangan memperlihatkan ketidaksetujuannya terhadap ketidak adilan bahkan beliau dengan berani mengundurkan diri karena sudah tidak satu frame dengan berbagai hal yang dipraktekkan di sekolah itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here