Lesson Learn Bupati Nganjuk dan Harapan kepada Kaban Riau, Jakarta

oleh -425 views
Apendi Arsyad, New Normal, KAHMI, ICMI, Covid-19
Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, MSi

Oleh: Dr.H. Apendi Arsyad

Menarik sekali postingan Bpk Erisman, Kepala Kantor Bantuan Penghubung (Kaban) Pemprov. Riau yang berdinas di Jakarta, yang dimuat pada WAG Forkom IKKS kesayangan kita ini. Beliau telah menginformasikan (posting) kepada kita sekalian mengenai cerita kesuksesan (succes story) seorang Bupati Nganjuk yg hafidz Al Quran, bapak Novi Rahman Hidayat (NRH) ternyata bisa dan telah sukses merubah nasib rakyatnya, yg tadinya hidup miskin kini berubah ke arah lebih baik dan sejahtera. Setelah saya baca postingan tsb, Bupati Nganjuk NRH ini menurut saya betul2 orangnya “beragama dan hidup bertuhan” (seperti isi tulisan saya sebelumnya dimuat di WAG ini), sehingga Tokoh ini berakhlaq mulia dan seorang enterpreuner sejati yang mampu mengelola potensi sumberdaya alam dan manusia yang dimiliki di daerahnya, menjadi bermanfaat bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, pelayanan birokrasi yg efesiensi dan bersih, para aparat ASN dan pejabat SKPD bekerja cerdas, keras dan ikhlas untuk memajukan daerahnya yg bermuara pada perbaikan ekonomi rakyatnya. Begitulah simpulan cerita singkat dari postingan pak Kaban “Sang Hafidz Yg Bupati” itu..sungguh menarik memang, hatur nuhun pak Kaban.

Saya senang dengan penampilan pak Kaban Erisman kita ini, telah mengalokasikan sebagian waktunya untuk berbagi pelajaran kepada kita di medsos kita ini. Beberapa kali tampilan (statement) beliau dalam rangka merespon situasi dan kondisi pembangunan di daerah kita Kuansing, kelihatan- tampaknya dan cukup menyenangkan hati. Misalnya yang pernah saya dengar dan amati pada forum dialog virtual acara HbH 1441 H warga IKKS dengan bpk Bupati Mursini, kritik tentang “Penguatan Ekonomi KUKM pada wisata budaya nasional Pacu Jalur di Taluk Kuantan; kemudian tulisannya yg pernah dimuat tentang “Dilema bagi Kepala Daerah di Era Reformasi: Banyak Terjerat Korupsi, termasuk 3 Gubri terpidana korupsi, dan lain2nya yg sempat munculnya oponinya dalam dialog di WAG ini.

Kini pak Kakban Riau, kita menyodorkan postingan “Sang Hafidz yg Bupati” sebuah narasi yang begitu inspiratif, faktual, terbukti dialam nyata-bukan khayalan tapi betul2 dilakoni oleh seorang anak muda, generasi millenial (40 thn) dan santri yang hafidz Al Quran lagi, yg kini mendapat mandat dari rakyatnya sebagai Bupati Nganjuk yg amanah dan alhamdilillah sukses menjalankan tugas pengabdiannya, dan kita sangat merindukan lahirnya sosok dan vigur kepemimpinan Bupati yang seperti ini yang berkhlaqulkarimah di daerah kita Rantau Kuansing untuk saat ini, yang kini kita tengah dirundung malang, karena para elite politiknya tengah terpapar wabah virus dan bakteri korupsi. Hal ini sering kita dengar dan baca dalam fakta proses persidangan di PN Tipikor Pku yg telah dinarasikan dan viral di beberapa media publik (koran2), elektronik dan media sosial. Dari fenomema sosial tersebut, bisa-bisa membuat kita kehilangan harapan (hopeless), pesimis dan suram menatap masa depan, akhirnya apatis dengan proses Pilkadal dan pileg yg menghabiskan dana rakyat (APBN dan APBD) yang lumayan besar, sebentar lagi perhelatan Pilbub Kuansing akan berlangsung, diagenda nasional tgl 9 Desember 2020.

Baca :  Perilaku Elite Politik yang Paradoks

Walaupun pak Kaban kita ini tidak sempat memberikan narasi di postingan “Sang Hafidz Yg Bupati” itu, akan tetapi kita sudah paham akan makna, maksud dan keinginannya yaitu adanya hasrat agar kita segeralah menghadirkan sosok-vigur pemimpin daerah (Bupati dan Wakil Bupati) yg visioner, yang bisa membawa perbaikan nasib rakyat Kuansing ke arah berkemajuan, beradab dan bermartabat. Untuk keberhasilan kepemimpinan Bupati tsb, salah satu syarat mutlaknya adalah adanya sosok pasangan calon bupati (Paslonbub) yang bebas dari hama dan penyakit sosial Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), yang kita sama2 tahu, kasus KKN ini, kian marak terjadi di birokrasi Pemerintahan Daerah kita, sejak dahulu hingga sekarang.

Kita telah membaca berbagai berita buruk (bad news) di media sosial tentang perilaku korup para pejabat negara dan pemerintahan tersebut, yang membuat kita “muak”, “gemas”, “marah”, dan bisa2 apatis dan frustasi dibuatnya. Jika sikap dan perbuatan ini terjadi, begitu besar dampak negatif yg akan dialami rakyat lokal, para dunsanak kita di kampung halaman (daerah).

Ada secercah harapan yang saya lihat dalam wacana WAG ini, Pak Kaban Erisman ini, kan orangnya masih muda usianya, berpendidikan, kesempatan masih terbuka luas untuk mengabdi kepada rakyat, bangsa dan negara. Saya doakan, semoga bapak Kaban selalu sehat dan panjang umurnya, bisa berkarier di birokrasi Pemerintahan dengan baik, tetap sabar dan konsisten berjuang, menyuarakan kebaikan, mana tahu suatu waktu nanti jika Allah SWT mengizinkan Antum bisa menduduki posisi puncak yaitu menjadi orang Nomor Satu di daerah kita Kuansing dan atau Provinsi Riau.

Baca :  Perjalanan Wisata ke Jepang

Saya melihat sosok ini ada dalam diri pak Kaban, karena tampak cukup berani dan peduli bicara tentang nasib rakyat, jika dibandingkan yg lain. Orangnya masuk kategori. “Manula” bukan lanjut usia, tetapi “Manusia Langka” orangnya berani ini “berwacana” seperti ini di media publik, yang amat jarang kita temukan dalam birokrasi saat ini. Maaf, jika tidak salah dimengerti, bahkan ada yang beropini jika ada postingan berita korupsi di medsos di posting di WAG membuat mereka tidak nyaman dan merusak hubungan persahabatan harnonis antar sesama. Opini dan sikap “ketidaknyamanan” seperti itu tidak perlulah terjadi. Hal ini akan membuat kita apatis dan permisif terhadap perbuatan kriminal korupsi, itu opini racun dan berbahaya bagi kepentingan memajukan kehidupan masyarakat, yang tengah
kita perjuangkan.

Narasi tentang pak Kaban Riau, Itu merupakan doa dan sebuah harapan saya, insyaAllah juga kita harapan warga IKKS kaum diaspora Kuansing lainnya, yang saat ini masih tersebar mukim di seluruh Indonesia.

Success Story Bupati Nganjuk, bpk Novi Rahman Hidayat (40 thn) sudah seharusnya kita jadikan “rules model”, bukti contohnya sudah ada di Kabupaten Nganjuk Provinsi Jawa Timur, bertetangga dekat dengan Kota Madiun, kampung istriku. Untuk lebih kongritnya dalam waktu dekat ini, saya mengusulkan kepada pihak yang berwenang, teristimewa buat bapak Erisman, Kaban Riau di Jkt, agar bisa memprogramkan dan memfasilitasi para Paslonbub yang ikut Pilkadal 2020 ditugaskan melaksanakan “study toer” dahulu ke Nganjuk Jawa Timur untuk beberapa hari belajar dari keberhasilan (lesson learn) Bupati Nganjuk, NRH. Selanjutnya, setelah pulang dari sana (Nganjuk), mereka Paslonbub Kuansing memasukkan ide2 dan pengalaman genius “Sang Hafidz Yang Bupati” tersebut kedalam visi dan misi Paslonbub Kuansing. Soal waktu dan biaya ke sana tidaklah terlalu sulit. Study toer ke Nganjuk jarak lokasinya tidak terlalu jauh dan biaya hidup spt hotel, penginapan, kuliner, transportasi dll juga murah.

Seandainya tidak ada dana dari sumber APBD dari pos KPUD, pinjam saja dahulu dana pribadi Paslonbub yg sudah menyatakan siap bertarung dalam Pilkadal tgl 9 Desember 2020 nanti. Menurut pendapat saya akan lebih bermanfaat, jika uang taktis yg dimiliki pribadi2 Paslonbub Kuansing tersebut untuk membiayai (modal) peningkatan kapasitas SDM- Kepemimpinan Daerah dari pada ‘dihambur-hamburkan’ utk biaya transaksional (money politic), menyuap rakyat utk “membeli” suara, dan biaya team sukses lainnya yg tidak perlu tsb.

Baca :  Silakda Orda Membawa Berkah: Gedung ICMI Bogor

Bahkan pembiayaan2 yang illegal dan haram tsb spt ongkos mahar perahu Paslonbub ke parpol, sogok menyogok/suap menyuap meraih suara, itu sangat berbahaya bagi perjalanan kepemimpinan Bupati-Wabub terpilih 5 tahun ke depan. Kita sudah sangat paham kebobrokan managerial dan kepemimpinan oknum Bupati yg korup itu, yang mengakibatkan memburuknya kehidupan rakyatnya sehingga merana dan ekonomi sulit, akhirnya sebagian besar tetap miskin-melarat, tidak kunjung berubah nasibnya.

Sedang disisi lain, dampak buruk kepemimpinan Bupati yg korup bagi birokrasi, pelayanan publik terganggu. Kita kasihan juga kepada para aparatur negara (ASN) yg bekerja di birokrasi Pemerintahan merasa hidup tidak tenang dan tertekan, karena atasannya (oknum bigbos Bupati dan Wabub) akan sering memaksa mereka berbuat jahat untuk memanipulasi administrasi, memberi celah untuk berbuat korupsi dana APBD dan pungutan illegal lainnya, dengan berbagai cara spt fee proyek APBD dari para kontraktor (konstruksi jalan-jembatan dan gedung2; pengadaan barang dan jasa konsultansi); Pungli berbagai perizinan usaha dan investasi, jual beli jabatan “basah” di SKPD2, dll). Kita berharap perbuatan jahat korupsi ini tidak lagi terulang dalam kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Kuansing masa bakti tahun 2021-2026 yang akan datang. Kita sudah rindu kehadiran sosok pemimpin daerah yg profesional, berdedikasi dan bersih pada momen Pilbub kali ini.

Semoga narasi “Sang Hafidz Yg Bupati” Nganjuk yang telah sukses memajukan rakyatnya, sudah seharusnya menjadi bahan pembelajaran (lesson learn) bagi para pemangku kepentingan (stakeholders), yaitu mereka2 yg mencintai nagorinya Rantau Kuansing Provinsi Riau, “nan jauh di mato, tapi dokek di hati”.♡♡♡
Sekian dan terima kasih, semoga Allah SWT selalu melindungi dan menolong hamba2Nya yg soleh. Amin3 YRA

Artikel oleh Dr.Ir.H.Apendi Arsyad.MSi (Penulis adalah Pendiri-Dosen Senior-Associate Profesor pada Prodi Agribisnis Universitas Djuanda Bogor, Konsultan; dan Aktivis di beberapa Ormas di Bogor).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *