LEAD.co.id | Tim SAR (Search and Rescue) Gabungan telah menghentikan pencarian usai berhasil menemukan total 19 korban meninggal dunia akibat longsor yang terjadi di Ngetos, Kabupaten Nganjuk.
Raditya Jati, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengatakan, bencana longsor terjadi di Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk terjadi pada hari Minggu, 14 Februari 2021, pukul 18.30 waktu setempat.
Berdasar data Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per hari Jumat (19/2/2021) pukul 22.00 WIB, total korban meninggal yang berhasil ditemukan mencapai 19 orang. Data ini sesuai laporan warga yang kehilangan anggota keluarga dan kerabatnya akibat kejadian longsor tersebut.
Kepala Basarnas Jawa Timur (Jatim), Hari Adi Purnomo menyatakan bahwa, operasi SAR dihentikan seiring dengan ditemukannya seluruh korban meninggal dunia akibat bencana longsor tersebut.
Pascalongsor ini, Pusdalops telah mendata sebanyak 142 KK warga Desa Ngetos yang masih mengungsi di halaman SD Negeri 3 Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk.
Menurut Hari, meski operasi SAR telah dihentikan namun tim gabungan akan kembali melakukan pencarian korban jika ada masyarakat yang melaporkan kerabatnya hilang akibat longsor ini.
“Alat berat masih tetap akan beroperasi tanggal 20 Februari 2021, untuk membenahi kondisi tanah pascalongsor,” jelas Hari.
Penanganan darurat juga masih akan terus dilakukan berdasarkan status tanggap darurat bencana banjir dan longsor tanggal 15 Februari – 28 Februari 2021 yang dikeluarkan oleh Bupati Nganjuk.
BNPB telah memberikan bantuan logistik berupa masker dewasa 1.000 buah, masker anak-anak 1.000 buah, rapid test antigen 200 tes, sarung 200 buah, matras 100 buah dan makanan siap saji kepada warga terdampak longsor di Nganjuk.
“BNPB juga menyerahkan bantuan dana siap pakai (DSP) sebesar Rp500 juta untuk penanganan pasca banjir dan longsor di Kabupaten Nganjuk,” Raditya Jati.
Reporter: M. Ikhsan
Editor: Aru Prayogi
Sumber: BNPB/ Dume Sinaga





