Mahasiswa Pengelana

110
0

Oleh : Fikri Ramadhon/Mahasiswa Semester 3 Jurusan Teknik Informatika UIKA

Ketika disebutkan kata mahasiswa, apa yang pertama kali terbayang dikepala kalian? Menurut survey yang saya lakukan, yang mana sampelnya adalah adik saya sendiri. Dia mengatakan bahwasanya mahasiswa itu identik dengan skripsi, tugas-tugas yang banyak, penelitian, organisasi, bimbingan dosen, hingga bayaran SPP yang mahal. Dan masih banyak lagi hal-hal yang sifatnya membebani baik materi maupun mental. Sebegitu beratkah menjadi mahasiswa? Sehingga orang hanya berimajinasi tentang hal-hal yang menyibukan setiap kali disebutkan kata mahasiswa. Jawabanya tidak. Masih ada sisi lain dari kehidupan mahasiswa yang mungkin saja luput dari pandangan banyak orang. Diantara banyak hal saya hanya ingin mengambil satu contoh. Yaitu BERKELANA.

Salah satu yang membedakan mahasiswa dengan siswa biasa adalah cara belajarnya. Ketika kita masih menjadi siswa di sekolah, refrensi belajar kita lazimnya hanya satu yaitu dari apa yang telah dijelaskan oleh guru di kelas. Terlepas dari sudah berkembangnya kurikulum pendidikan kita yang mengharuskan siswa mencari refrensi lain dalam belajar, tetapi menunggu instruksi guru dan menjadikan satu-satunya sumber dalam belajar masih menjadi budaya siswa di Indonesia. Tradisi yang sulit dihilangkan. Sedangkan mahasiswa mempunyai cara belajar yang lebih luas. Seharusnya. Kebebasan berfikir menjadi hal yang mutlak dimiliki setiap mahasiswa. Itu artinya refrensi belajar seorang mahasiswa sangatlah banyak. Setiap teori dan ideologi adalah sumber pengetahuan untuk memecahkan setiap permasalahan. Dan kita sebagai mahasiswa dituntut untuk mencari refrensi belajar sebanyak-banyaknya, lalu merangkainya menjadi sebuah kurikulum. Itulah cara belajar yang sudah diterapkan pada beberapa perguruan tinggi di negara maju. Dan semua itu tidak akan kita dapatkan jika hanya berdiam diri disatu tempat, atau dengan kata lain universitas kita saja. Kita harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain agar bisa membandingkan setiap sistem belajar mengajar disetiap kampus atau biasa kita sebut studi banding. Dan itu bisa kita lakukan dengan berbagai macam cara. Salah satunya dengan BERKELANA.

Baca :  DPR PB : Walikota Malang Klarifikasi Statement Usir Mahasiswa Papua

Sampai disini kita paham bahwasannya kata BERKELANA tidak selalu bermakna jalan-jalan ke tempat wisata, pergi ke luar negeri, berfoto-foto, menghabiskan uang di tempat rekreasi tanpa ada unsur edukasi. Itu adalah BERKELANA yang sia-sia. Namun disisi lain BERKELANA juga bisa berarti berpindah dari satu tempat ke tempat lain, untuk menimba ilmu, bertukar wawasan, mempelajari budaya dan tradisi, hingga mencari pengalaman yang berharga. Seperti BERKELANA dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain, dari satu seminar ke seminar lain, atau dari satu daerah ke daerah lain yang memiliki budaya berbeda. Menarapkan apa yang sudah kita dapatkan di kelas serta mengambil pelajaran dari setiap peristiwa juga tempat yang kita kunjungi. Itulah definisi BERKELANA yang harus dipahami setiap mahasiswa. Sebagai agen of change kita harus bisa mengambil sudut pandang yang berbeda untuk segala hal. Tidak monoton. Salah satunya adalah makna dari BERKELANA.

Baca :  Jual Beli Jabatan, Pemuda dan Mahasiswa Desak Sekda DKI Dicopot

Namun tidak ada salahnya jika BERKELANA diartikan sebagai sekedar perjalanan biasa, tapi harus mempunyai makna filosofi tersendiri. Sebagai contoh mendaki gunung. Bagi saya mendaki gunung bukan hanya tentang menaklukan puncaknya lalu berfoto untuk kemudian dipajang pada media sosial agar mendapat pengakuan. Tapi tentang bagaimana memaknai sebuah perjalanan. Tidak peduli apakah akan sampai atau tidak di puncak nantinya, yang terpenting adalah proses untuk mencapai puncak tersebut. Ketika solidaritas diuji dengan menunggu teman yang kelelahan, kekompakan, dan konsisten untuk terus melangkah sedikit demi sedikit juga membuang jauh-jauh sifat buruk seperti egois, sombong dan hal tercela lainya yang bisa menghambat perjalanan kita menuju puncak. Begitu pula kehidupan bukan hasil yang kita lihat akan tetapi proses untuk menggapai hasil itu. Bagaimana kita mengambil sikap, menghadapi setiap tantangan hingga merespon sebuah kegagalan. Itulah makna filosofis dari mendaki gunung. Atau contoh lain, siapa yang tidak kenal soe hok gie. Seorang mahasiswa yang terkenal dengan pemikiranya yang kritis serta karya-karyanya yang menginpirasi banyak orang. Faktanya dia punya hobi mendaki gunug dan dia pernah mengatakan tentang tujuan pendakian dalam bukunya Catatan Seorang Demonstran. Dia menulis “seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung”. Pada intinya dia ingin mencintai Indonesia dengan cara mendaki gunung-gunug di negeri ini. Dan sekali lagi ini soal BERKELANA.

Baca :  Soroti Tambang Wawonii, Mahasiswa Minta KPK Periksa Gubernur Sultra dan PT GKP

Terakhir saya ingin mengutip pepatah milenial bunyinya, “piknik biar gak panik”. Walaupun bagi sebagian orang pepatah ini agak ngawur, tapi bagi saya ada benarnya. Terkadang sebuah perjalanan dapat menginspirasi pemikiran seseorang. Maka tidak heran banyak penulis dengan karya-karyanya yang hebat ternyata mempunyai hobi BERKELANA, dan dia mengambil inspirasi dari setiap perjalanan yang dia lakukan. Maka dari itu saya mengajak teman-teman sekalian untuk tidak berdiam diri saja di satu tempat. Yuk BERKELANA!!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here