Menolak Lupa Kekejaman PKI, Berkhianat terhadap NKRI

0
Apendi Arsyad, Menolak Lupa, PKI, NKRI
Diorama tragedi G 30 S/PKI di museum Pengkhianatan PKI

Oleh: Dr. Apendi Arsyad

Menonton film dokumenter kekejaman PKI ada peristiwa Gerakan 30 September 1965 dengan membunuh para Jenderal TNI sungguh menyadarkan kita akan pentingnya sejarah. Miris hati ini melihat perbuatan
sadis, bejat, tidak berperikemanusiaan. Itu adalah kejahatan besar yg luar biasa, insyaAllah tidak terulang lagi di negeri ini.

Dalam Al Quran “barang siapa membunuh seorang manusia yg tak bersalah, berarti telah membunuh seluruh ummat manusia.” Begitulah firman Allah SWT yang mengingatkan kita akan nilai nyawa manusia yg tidak ternilai harganya.
Si pembunuh jelas dan tegas di akhirat kelak tempatnya adalah di neraka jahannam, pasti akan mendapatkan azab yang dibakar dengan apinya yg menyala-nyala dan bersifat kekal abadi.
Di dunia saja Si pembunuh manusia- biadab yakni para penghianat G 30 S PKI oleh negara dihukum mati, dicaci-maki dan hidup dihina oleh seluruh ummat manusia.
Oleh karena itu, wajar kiranya, buat para “penghianat NKRI” jika masih ada dan hidup, banyak2nyalah minta ampun (betistighfar) kepada Allah SWT, lakukanlah taubatan-nasyuha, dan bersyukurlah masih diberi nikmat hidup umur yg panjang di dunia oleh Tuhanmu. Berdasarkan sunnatullah, kalian para pembela dan penggemar PKI, termasuk kita semua yg bernyawa tinggal menunggu mati, syakaratul maut untuk mencabut nyawamu, bertaubatlah. Jangan lagi mencari berbagai alasan dengan membangun berbagai opini, fitnah dan pendapat serta pemikiran menyesatkan ummat manusia. Fakta kejahatanmu sudah sangat jelas dan terang benderang yaitu berapa ribu atau bahkan jutaan rakyat dan manusia yg telah engkau bunuh secara kejam ? Di Indonesia sejak thn 1948 – 1965 ribuan santri, ulama dan para jenderal TNI kau bunuh secara keji dan biadab. Engkau akuilah itu sebuah kesalahan dan perbuatan dosa besar, sadarlah !. Bertaubatlah kepada Tuhanmu Allah SWT sebelum nyawamu dicabut dan melayang.
Kepada para “kader PKI” dan anak keturunannya janganlah sekali-kali mengikuti jalan sesat dan keliru dari para orangtuamu, para pendahulumu, dan nenek moyangmu. Tidak perlu lagi mencari alasan2 pembenaran bahwa G 30 September 1965 yang telah membunuh 7 orang jenderal TNI itu perbuatan tidak bersalah (bebas dosa),… kau pelintir opini bahwa itu bukan perbuatan jahat dan tidak bertentangan dengan perikemanusiaan dan keberadaban. Sadarlah kau “anak cucu dan cicit keluarga” yg terlibat PKI beserta antek2nya, jika masih ada di bumi Indonesia. Sikap yang baik dan bijaksana adalah berpalinglah kalian dari perilaku jahat orangtua kalian yg sudah membunuh banyak orang. Al Quran juga memerintah bahwa sebagai anak wajib menolak ajakan orangtua yg sesat dan perbuaran zholim tsb. Ingat sejarah nabi Ibrahim yg mulmin -bertauhid, sementara ayahnya yang musrikun, pembuat patung yg disembah-sembah, dll

Kalian “anak keturunan” (cucu dan cicit, cangkang) dan beserta pendukung “pro ideologi komunisme”, sikap yg cerdas berhijrahlah, berpalinglah, dan segera tinggalkan ideologi sesat komunis tsb. Kalian sudah saatnya menolak dengan tegas secara lahir dan batin terhadap pandangan hidup (way of life) ateis-komunis yang sesat dan menyesatkan itu. Paham dan ideologi komunis (ateis) jelas dan tegas bertentangan dengan Dinulislam dan Pancasila sebagai ideologi dan falsafah bangsa dan negara Indonesia (NKRI). Ajaran komunis tidak cocok dengan budaya bangsa Indonesia yang “socio-religius”. Komunisme adalah utopia dan halusinasi saja, dalam rialitasnya (faktanya) tidak mampu mensejahterakan rakyatnya, tetap hidup miskin melarat dan melanggar HAM, sehingga banyak negara2 komunis era abad 21 berubah haluan ke ideologi lain.

Baca :  Bahaya PSM LGBT bagi Masyarakat, Bangsa dan NKRI (Dirgahayu Indonesia ke 75)

NKRI telah berdiri belumlah lama, dan kita merdeka baru mencapai 75 thn masih belia, belum ratusan tahun usianya sebagaimana usia negara2 maju lainnya di benua Eropah, Asia dan Amerika. Marilah kita bangun negeri ini dengan bersungguh. NKRI yang kokoh dan kuat bangsanya bersatu padu, berupaya keras untuk bisa mencapai tujuan bernegara sebagaimana Pembukaan UUD 1945 pada alinea ke 4, yaitu negara bertugas wajib sbb:
1.Melindungi segenap tumpah darah Indonesia….;
2 Memajukan kesejahteraan umum…;
3. Mencerdaskan kehidupan bangsa…;
4. Ikut serta aktif menciptakan perdamaian abadi….

Mohon dipahami, dihayati dan diamalkan sistem nilai, norma dan kaidah hukum yang ada dalam konstitusi negara kita Indonesia yg kita cintai ini.
Anda alumni kader PKI harus ingat bahwa NKRi ini didirikan dengan penuh pengorbanan para pejuang dan mujahid dengan tumpahan darah dan hilangnya jutaan nyawa serta penderitaan rakyat jutaan rakyat yg dijajah 350 tahun oleh zholimun penjajah Belanda dan 3,5 tahun zholimun penjajah Jepang yg keji dan biadab. Ingat sejarah tersebut, jangan lupakan sejarah, dan jangan berpura-pura lupa dan apalagi menolak lupa. Jika itu yang tetap anda lakukan para pendukung dan keturunan PKI, berarti anda tidak siap dan atau tidak mau (enggan) menjadi warga NKRI yang baik dan hidup sejahtera bersama dan berkeadilan sosial, aman dan damai. Jika sikap itu yang engkau pilih berarti bodoh sekali kau, atau anda sudah sakit mental, bisa jadi anda sudah gila. Saran saya segeralah ke dokter dan psikiater berobat, serta sering2lah berkumpul dengan orang2 soleh dan jalankan ajaran agamamu, sehingga anda sehat lahir dan batin.
Anda harus ingat bahwa WNI yang baik, persyaratan utamanya dan mutlak adalah sehat jiwanya raganya, lahir dan batin serta taat dan patuh pada sistem nilai luhur Pancasila dan UUD 1945 yg sudah menjadi konsensus nasional yaitu, pasal2 UUD 1945 yang disyahkan pada tgl 18 Agustus 1945 pada sidang PPKI oleh founding fathers, dan juga sesuai dektrit Presiden Soekarno thn 1959 dipertegas bahwa Pembukaan UUD 1945 dijiwai Piagam Jakarta, yang memang isinya sila2 diambil dari Piagam Jakarta, kecuali 7 kata dihapus. Jujurlah, bukan Pancasila versi tgl 1 Juni 1945 sebagai perungatan Hari Pancasila yg telah di Keppreskan itu, disans ada konsep Trisila, Ekasila dan kemudian muncul bunyi Sila “Ketuhanan yang Berkebudayaan”. Itu semua jelas dan tegas sekali sangat menyesatkan dan menyimpang dari perjanjian dan kesepakatan (konsensus) para pendiri bangsa.

Baca :  Masa Depan Indonesia Semakin Berat dan Penuh Tantangan

Jika hal seperti itu tetap anda yakini dan perjuangkan di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (NKRI) saat ini, maka anda akan berhadapan dengan WNI yang taat beragama, terutama kaum muslimin yg diimami, dikomando para alim ulama, para habaib, kiyai dan para ustadz serta kaum santri yg mencintai NKRI. Juga yang anda harus ingat kekuatan pembela utama NKRI yaitu TNI yg berjiwa Pancasilais tidak akan diam dan akan berhadapan dengan anda. Urungkanlah niatmu untuk menyebarkan, beropini fitnah, dan menerapkan Ajaran dan ideologi Komunis (ateis) di Indonesia, itu perbuatan amat sia-sia, bertaubatlah kalian, semoga selamat hidup di dunia dan di akhirats kelak.

Mereka pihak TNI dan elemen didalamnya seperti FKPPI, PPM, Legiun Veteran, Warakawuri, Persit Kartika Chandra, Bayangkara, dll tidak akan lupa dan melupakan perbuatan keji dalam sejarah G 30 S PKI tsb, bahwa ada 7 jenderal senior karier yang pernah dibunuh dengan cara keji dan biadab oleh para senior PKI/orangtuamu Aidit, Nyoto, Untung dkk. Mereka para jenderal TNI disiksa, diseret-seret seperti binatang, dan ditembak mati, kemudian dibuang di sumur tua-lubang buaya di daerah Halim Perdana Kusumah Jakarta Timur. Selain itu, kita harus berterima kasih kepada bpk Jenderal Soeharto dkk, yang telah berhasil menumpas G 30 S PKI thn 1965, alhamdulillah telah dibuat monumennya “Kekejaman PKI di Lubang Buaya”.

Jika kita merenung sejenak, kita tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi terhadap kita WNI yg beragama dan nasib NKRI, jika seandainya PKI dan Ormas- antek2nya berhasil menguasai kekuasaan politik negara ini, birokrasi pemerintahan dan alm bpk Jenderal Soeharto gagal menumpas PKI dan antek2nya, maka kehidupan kita bisa dipastikan tidak akan menikmati perdamaian (aman, nyaman, rukun dan damai serta sejahtera) seperti sekarang ini. Hal ini bisa diyakini bahwa WNI yang proPancasila dan ummat beragama Islam, penganut agama lainnya dan tetap setia pada UUD 1945 akan menemui nasib susah-sengsara. Kita akan banyak dibunuh dan atau hidup di penjara, atau kita melarikan diri dengan mengungsi dan minta suaka politik ke negara2 lain, yg mau menerimanya. Jika tidak, kita akan terlunta-lunta hidupnya di camp2 pengungsi yg kumuh, kraudit dan menyedihkan. Kejadian ini pernah dialami, seperti yang terjadi pada warga negara Vietnam dan Kamboja, pada thn 1980an, negaranya konflik politik, yang kemudian dikuasai partai komunis Kmeer Merah/rezim keji Polpot, yang membunuh rakyatnya yg tak berdosa, sebagian menyelamatkan diri warganya lari, meninggalkan negerinya dengan menggunakan kapal dan perahu seadanya, sederhana mengarungi lautan lepas yg berbahaya. Mereka mengungsi diantaranya sampai ke negara kita yakni ke Pulau Galang Batam Kepulauan Riau. Saya pernah menyaksikan langsung nasib malang para pengungsi Vietnam di pulau Galang, kebetulan saya ada tugas akademik penelitian utk menyelesaikan skripsi Sarjana Sosial Ekonomi Perikanan IPB thn 1984an. Pulau Galang, Karas, Penyengat, Pangkil dan sekitarnya, dimasa itu merupakan daerah pemukiman nelayan artisanal yang menjadi objek riset saya. Saya mengamati begitu sengsaranya kehidupan kaum pengungsi akibat kekejaman ajaran komunis Kmeer Merah regim jahat Polpot di Vietnam.

Baca :  Perilaku Elite Politik yang Paradoks

Alhamdulillah kita tidak terjadi kasus pembantaian rakyat di Vietnam di negar kita, NKRI, dan kita harus bersyukur kepada Tuhan Yang Mahaesa, Allah SWT, dan juga berterima kasih kepada para pejuang pimpinan TNI dan ABRI yang telah berhasil menumpas Gerakan penghianatan PKI ke akar2nya di masyarakat dan birokrasi Pemerintahan RI, sehingga NKRI tetap kuat dan kokoh, bersatu, damai, berdiri tegak hingga kini. Menurut pendapat saya, kita saat ini tinggal lagi, sudah waktunya kita banyak mensyukuri berbagai nikmat kemerdekaan,… Hidup Merdeka ini, yang dilakukan mengisi kemerdekaan dengan usaha2 dan kegiatan2 (ikhtiar) pembangunan dalan berbagai bidang dan sektor secara propesional, kerja keras, kerja cerdas dan ikhlas serta bertanggungjawab. Kemudian para ASN, kaum birokrat dan elite politik (the ruling party) belajar dan berbuatlah bebas dan bersih dari perbuatan jahat korupsi (KKN), sehingga kita untuk meraih cita2 mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran bersama tidak terlalu sulit (maaf, bukan kemakmuran orang perseorangan, para oligarki) dalam wadah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 (versi tgl 18 Agustus 1945).

Demikian narasi singkat tentang refleksi sejarah kekejaman G 30 S PKI 1965 yang tidak pernah lupakan sepanjang masa.
Adanya tulisan saya ini hanya sekedar mengingatkan kita semua untuk sadar dan waspada terhadap bahaya laten komunis Indonesia yang gejala2 sosialnya mulai berani menampak jati dirinya ke permukaan (public), dan barangtentu kita harus dan wajib meningkatkan kewaspadaan nasional demi agama, bangsa dan negara kita yang terhormat dan hidup mulia serta bermartabat.

Semoga Tuhan Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang, Allah SWT selalu melindungi dan menolong kita hambaNya yang soleh, beriman-bertaqwa dan gemar berbuat kebajikan karena Allah taalah. Amin3 YRA.
Sukron barakallah. Wabillahit taufik walhidayah Wr Wb.

Judul asli: Refleksi Menolak Lupa Kekejaman 30 S PKI 1965, Berkhianat terhadap NKRI

Dr.Ir.H.Apendi Arsyad, MSi (Pendiri, Dosen/Assosiate Profesor pada Prodi Agribisnis Faperta Universitas Djuanda Bogor, Konsultan dan Aktivis ICMI, KAHMI Bogor dan Ormas serta LSM lainnya).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here