Nasib Petani Kita di Era Jokowi-Makruf (Diskursus Alumni SF IPB)

0
Apendi Arsyad, Pengamat, Koperasi, Dosen, Universitas Djuanda
Dr. H. Apendi Arsyad (Pengamat Koperasi, Dosen Universitas Djuanda Bogor)

Oleh: Dr.Ir.H. Apendi Arsyad, MSi
(Dosen, Aktivis Ormas di Bogor/Alumni SF 1981-1985)

Alhamdulillah..
saya senang membaca dan mencermati dialog-diskursus, mengerahkan kemampuan intelektual para Sahabat Sanggar Felicia (SF) Institut Pertanian Bogor (IPB) pagi ini, yanf dikuti antar generasi di WAG- SF dalam beberapa hari ini. Adanya diskursus ini, berawal dari tulisan saya dengan topik “Anomali dan Paradoks Pertanian Indonesia” yang posting beberapa hari yang lalu.
Pada kesempatan ini saya akan tulis narasi agak singkat untuk merangkum “butir2 mutiara” pemikiran yg hebat antar warga SF yang merupakan “stakeholders” yg kebetulan orangnya beragam profesi, keahlian, pengalaman dan etnis.
Ada praktisi bisnis yg berbasis saintek agriculter (sosek iPB) yaitu kang Dr (HC) Dr.Sonson Garsoni;
Dan ada elite politik PKS berbasis saintek peternakan, alhamdulillah senior saya ini beruntung pernah mendapat amanah menjadi Mentan RI era Presiden SBY, siapa lagi dia adalah Dr.H.Suswono. Mas Sus, menurut saya punya segudang pengalaman dalam segi public policy pertanian. Tentunya beliau paham dan berpengalaman tentang bagaimana merumuskan dan praktek politik pertanian/kebijakan publik sektor pertanian di Indonesia, dengan berbagai persoalan dan permasalah yg komplek.

Ah ini yg menarik bagi saya tokoh pemikir muda adinda Ir.Bambang Sutrisno, MM yunior SF kita, yg sejak muda memiliki karakter kritis-orgnya cerdas, alumni Fateta IPB ( agroindustri). Adinda Bambang pada forum dialog WA SF berhasil sbg “pemantik” atau penggelitik utk merangsang kemampuan berpikir (intelektualitas) kita dengan statemen2 bernarasi samar dan agak bersifat menentang arus utama (“antagonis”). Fenomena anomali dan paradoks di sektor pertanian yg berlangsung ini cukup menarik, karena begitu banyak gejala2 yang “misterius”, koruptif, mapia pangan yang mengitari elite kekuasaan di negeri ini. Gejala misterius tersebut, terasa ada tetapi agak sulit dibuktikan, ibarat “seperti orang kentut, baunya ada tapi dari siapa orangnya kita tidak tahu persis”.

Akibatnya Bang Ir. Idris Zaini tergelitik dan bertanya, Adinda Bambang ini siapa? staf ahli Kementan atau konsultannya? atau orangnya Jokowi?.

Sayang belum dijawab add. Bambang, yg jelas adinda kita tsb tetap konsisten melempaskan gagasan2nya yg menggelitik, dengan arus yg berlawanan dengan “mainstream”.
Menurut saya argumentasi adinda Bambang tsb besarnya impor produks pertanian dari luar negeri ke Indonesia, bukanlah merupakan suatu problem nasional, yang telah menyengsarakan kaum produsen/komunitas para petani, peternak dan nelayan kita. Beliau lebih cenderung “membela” kaum konsumen dan pengusaha pemburu rente (rent seekers) sbgmana kita lihat pada rezim Jokowi terapkan spt kasus impor daging Sapi dari India yg harganya jauh lebih murah, sehingga membuat para peternak dibuat gulung tikar (collapse) usahanya, terutama usaha peternakan kecil dikelola rakyat banyak. Mas Dr. Suswono, pak Mentan RI era SBY sangat paham tentang kasus impor daging ini, memgapa bisa terjadi. Seolah-olah kita ini tidak berpihak kepada
ralyat dan bangsa kita sendiri (anasionalist). Ini yg membuat kita kesal, gemas dan marah. Maaf saya agak panjang mengomentari hal ini.

Baca :  Aku Bangga Sebagai Alumni SMPPN No.49 Kota Pekanbaru

Sekarang kembali.kita kembali ke proses diskursus yg cukup menarik ini tentang dampak impor pangan terhadap nasib pertani dan peternak kita.

Pandangan add Bambang yg menyimpulkan bahwa impor pangan tidak ada masalah, yang berlawanan arus tsb,.. selanjutnya dikritisi oleh praktisi dan konseptor agribisnis Kadin Jawa Barat , seniornya Ir.Sonson Garsoni/inovator Sawah Portabel, menurut Sonson adanya impor pangan hortikultura berupa sayur mayur (lk Rp 13 Triliyun) baru2 ini di masa pandemi.Covid 19 merupakan kebijakan pertanian yg kurang tepat untuk saat ini, terlebih di era Covid 19.
Kita mencermati dan menikmati alur pikirnya “diskursus” yg menggugah alam bawah sadar kita bahwa bicara sektor pertanian cukup komplek permasalahannya dan sistemik sifatnya. Cara berpikir kita untuk memahami haruslah bersifat menyeluruh (holistik) melihat dari berbagai sisi dan aspek. Untuk menjelaskan hal ini harap dibaca narasi mas Suswono balasan pesan WAnya kepada saya beberapa hari yang lalu bahwa impor pangan tersebut terjadi akibat berbagai kepentingan yang bermain (para importir).

Sementara tokoh LSM /mantan Direktur LP3ES yaitu Dr.Kuswanto sedikit nyeletuk bagaimana itu..implementasi program swasembada dan ketahanan pangan?, kok mandek era Jokowi-Makruf. Dunia Pertanian kita belum bahkan tidak berdaulat, dengan kata lain “kedaulatan pangan” Indonesia belum berhasil dicapai. Memang yang pas menjawab pertanyaan begini adalah add Bambang Sutrisno, yang nampaknya pandangan beliau sejalan dan mungkin sebagai “staf ahli” pendukung rezim yg berkuasa sekarang ini. Simpulan ini yang saya lihat dari narasi yg ada di WA SF ini bahwa add Bambang telah berperan sbg person dari the ruling party.

Baca :  Dibalik Kesulitan Ada Kemudahan

Tentang Bang Idris, ini senior SF yg sholeh, politisi dakwah Islam tapi moderat dalam bersikap. Walaupun beliau ini pernah terpilih menjadi anggota DPD RI. Sesuai dgn backgtound insinyur peternakan, saya mencermati suara dan konsepnya utk mengadvokasi nasib para peternak Indonesia yg malang, belum dan bahkan tidak ada suaranya. Senior saya ini lebih menyukai bersilaturrahmi membangun jejaringan, barangkali ingin meloby para pejabat dan elite politik lainnya. Sayang mas Suswono selama menjadi Mentan tidak diberi kesempatan untuk bertemu. Mungkin penyebabnya karena berbeda aliran politik dan bendera partai. Sebaiknya bang Idris ini masuk dan aktif di PKS. Menurut saya wajar beliau di PKS, dulu semasa mahasiswa, kita kan tahu siapa bang Idris, dia adalah pentolan da”i/ Ketua LDMI HMI. Sampai sekarang, insyaAllah beliau tetap konsisten. Buktinya bang Idris masuk dalam lingkaran senior HMI yg miliitan dan berintegritas tinggi (anti korupsi) Kakak kita YM Dr.Abdullah Hehamahua/mantan Ketum HMI yg legendaris setelah Dr Nurcholish Majid/mantan Ketum PB HMI yg melontarkan gagasan kontroversial di masa itu “Islam Yes dan Politik No”. Dua tokoh besar HMI yg wataknya sangat berbeda, yg satu “Islam fundamen” vs “Islam nasionalis” ditinjau dari gaya kepemimpinan dan pemikiran politik tapi hatinya sama tetap berimtaq atas landasan tauhid Laaillaahaaillah.

Itulah kader insancita HMI yg beragam “plural” sikap dan pemikirannya seperti yg kita amati profil dan gaya para stakeholder yg berdialog saat ini.

Oh ya hampir terlewatkan, saya juga akan berkomentar singkat ttg yunior SF kita add Ucok nama dari Ir.Ali Musa Nasution.MM (alumni Fateta dan pernah menjadi Ketum HMI Cabang Bogor spt yg dialami kang Son2 dan mas Kuswanto, kanda Soleh Khalid, Ir.Abdul Azis, M Saad, Dr.Farid Poniman, Ismail Anoman, Joko, Yayan, AmirTR etc). Ucok ini praktisi bisnis agroindustri, sepengetahuan saya adinda kita ini pernah bekerja di pabrik Bir Bintang yg beralkohol tsb. Beliau mengeluarkan pertanyaan2 singkat ttg konsep dan teori ilmu agribisnis. Karena memang adinda “belum” memahami konsep sistem agribisnis dan agriculture marketing, bukan budangnya, akhirnya statemen bisa direduksi oleh Mentan Suswono dan Sonson.

Baca :  Demo HTN, Bupati Pamekasan Dapat Piagam 'Bupati Gagal Hebat'

Lantas uda Ir.Erwin Syamsuar /banker Bukopin pernah aktif di PB HMI era bang MSK, statemen/opininya belum keluar di WAG…kurang muncul ide2 briliannya. Yang baru ada mengapresiasi dan memuji tulisan saya tentang “Perilaku Elite Politik yang Paradoks”. Nampaknya uda Erwin tertarik juga dan sependapat dgn saya..ya syukurlah uda. .Dia bilang salut saya tetap memilih “jalan lurus”, tidak di sebagian alumni SF yg lain.?! Maaf maksudnya apa dari statemen tsb saya ngak ngerti, uda Erwin yang bisa menjelaskannya. Harapan kita semua alumni SF tetap konsisten pada jalan lurus. Buat apa kita berHMI dan berada di Kahmi dengan warisan spirit NDP-NIK dan watak Insancitanya, jadi kita harus dan wajib menempuh “sirotal-mustaqiem”. insyaAllah..saran saya di atas 60 thn (lansia muda) kita para alumni SF sudah selesailah “ngurus diri sendiri” cukuplah, bersyukur kpd Allah SWT. selalu ingat kematian dan selalu ingat kehidupan akhirats sbg org berimtaq, .jagalah kesehatan nikmati hari tua dan hidup selalu berbahagia. Amin yra.

Hayoo..silakan kita bernalar dan berdiskursus ttg nasib dunia pertanian negeri ini di era Jokowi-Makruf. Apakah semakin maju, mundur atau biasa2 saja. Lantas mengapa itu terjadi? faktor2 apa penyebabnya “macetnya” pertanian Indonesia ? Solusinya bagaimana mengatasi permasalahan praktek2 pembangunan pertanian yang begitu komplek tsb? ini menarik semoga menjadi amal sholeh. InsyaAllah..kita dalam ridho Allah SWT..Amin3 YRA.

Demikian, terakhir saya dgn hati yg tulus, memohon maaf kpd para Sahabat SF, apabila tulisan saya ini kurang berkenan di hati …walaupun kita berbeda tapi…kita tetap bersaudara…indahnya persahabatan..kita. Yakusa..

Penulis adalah Dosen, Konsultan dan Pekerja Sosial, mukim di Ciawi Bogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here