Oleh: Apendi Arsyad
Subhanallah, jika saya tidak keliru, saya pernah mendapat kabar gembira melalui gambar postingan media sosial WA setahun lalu (tahun 2021). Bahwa proyek APBN untuk tahun 2021 akan digunakan untuk membangun Turap pengamanan Tebing daerah aliran sungai (DAS) longsor, salah satu di antara lokasi proyeknya adalah di kampungku Desa Kampung Baru Timur, Kecamatan Cerenti, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) Provinsi Riau.
Desa Kp Baru Timur itu adalah tempat saya dilahirkan dan dibesarkan semasa kecil, sehingga saya mengenal betul perubahan ekosistem lingkungannya, terutama ekosistem DAS dan perairan umum. Kondisi eksistingnya semakin lama, semakin menghawatirkan.
Wajar saya berharap hingga saat ini, agar mendapat perhatian yang serius Pemerintah, terutama dukungan anggota DPR RI di Senayan tersebut, sebab penganggaran proyek Turap karena besar diharapkan sumber dana dari pusat yakni APBN.
Saya berikan apresiasi dengan acungkan “jempol” buat wakil rakyat yang sudah peduli dan berjuang memikirkan perbaikan DAS Kuantan, demi keselamatan dan.menyelamatkan nasib rakyat Rantau Kuansing, tepatnya di Desa Kampung Baru Timur, Kecamatan Cerenti. Mudah-mudahan saja segera bisa terwujud proyek APBN tersebut.
Saya pulang ke Cerenti terakhir pertengahan Juni 2022, kemudian saya meninjau ke lokasi di bagian belakang pekarangan rumah ibu saya, kondisinya memang benar-benar sudah semakin parah dan membahayakan. Selama ini belum ada sentuhan sedikitpun berupa “proyek APBD satu Provinsi Riau dan atau APBD dua Kab. Kuansing) untuk mencegah dan penanggulangan tanah longsor (bahasa Cerentinya “tobiang ghuntuah”).
Kondisi eksisting Tebing Daerah Aliran Sungai (DAS) Kuantan yang melintasi Desa Kampung Baru Timur, Kecamatan Cerenti, Kabupaten Kuansing, Riau tampak jelas semakin parah.
Longsor tanah tebingnya sudah sampai dapur rumah sepupu saya uwo (kakak) Ratna binti Haji Ahmad Kahar, pepohonan baik kecil maupun besar bertumbangan, tanah liat yang berlumpur pun muncul. Juga Kantor Desa Kampung Baru Timur, rumah kakak saya tertua H. Baidar Arsyad dan gudang penyimpanan karet (ghotah) sebagai pedagang (induak somang) di kampung juga hampir roboh.
Begitu juga rumah abang Rusli, rumah. alm bpk Lani bencana alam tebing longsor sudah sampai merobohkan dapurnya dan pekarangan belakang rumahnya sudah hilang.
Di depan rumah abang Rusli yang dapurnya sudah hilang itu terdapat jalan raya beton Pekanbaru (Pku)-Rengat (Rgt) dan Padang/Bukit Tinggi (Bkt), jalan raya Provinsi/nasional itu merupakan jalur urat-nadi perekonomian nasional, yang jaraknya sangatlah dekat dengan mulut tebing longsor tersebut yakni sekitar 10-12 meter ke jalan besar.
Jalan raya Pku-Rgt dan Bkt tersebut merupakan jalur padat yang banyak dilalui oleh berbagai kendaraan pribadi sedan/minibus, mobil barang antar Provinsi, bus penumpang antar kabupaten dan provinsi, mobil barang dan truk besar (tronton) yang mengangkut hasil bumi dan alam Riau spt CPO/buah Sawit, kayu, batubara, tambang galian C, etc dengan tonase yang cukup besar.
Tonase kendaraan angkutan seperti truk tronton yang menggunakan jalan raya, kebanyakan tidak sesuai dengan kualitas dan kelasnya jalan yang ada di daerah Kuansing, sehingga banyak badan jalan yang rusak dan berlubang-lubang. Hal Ini barang-tentu akan mempercepat longsornya tanah tebing sungai yang sudah dekat ke pinggir tebing karena tekanan gaya berat dan getaran arus hilir-mudik kendaraan berat.
Dalam kontek ini, saya sudah bisa memperkirakan apa yang bakal terjadi, jika tebing longsor di Desa Kampung Baru Timur tersebut dibiarkan dan tidak segera diambil tindakan dan ditanggulangi dengan membuat kontruksi beton-baja (turap) penahan longsor yang kokoh. Akibatnya badan jalan yang berarus padat tersebut bisa terputus dan 5-7 rumah penduduk (KK) setempat yang berada di pinggir sungai akan roboh, dan bisa-bisa jadi akan memakan korban nyawa jika bencana alamnya terjadi tiba-tiba atau mendadak, apalagi terjadi di malam hari pada saat warga sedang tidur nyenyak, nauzubillahiminzaliq.
Saya bernarasi yang mendalam ini agar para pejabat negara dan pemerintahan tergerak hatinya untuk serius menyelamatkan rakyatnya dari ancaman bencana alam tebing longsor karena memang itu merupakan kewajiban dan kewenangannya.
Saya tahu betul keadaan yang sebenarnya di lapangan dari waktu ke waktu, karena posisi tanah longsor bersebelahan dengan rumah kakak (uwo) Ratna Ahmad, yang dapurnya sudah kena longsor itu adalah peninggalan rumah ibu kandung saya alm. Hj. Darana binti Djamin (wafat diusia 106 thn).
Ketika saya berada di kampung (Juni 2022), saya amati, jarak dapur rumah alm ibuku ke arah tebing sungai Kuantan, dan saya ukur terakhir pertengahan bulan Juni 2022, jarak bibir tebing longsor ke badan jalan raya kurang lebih 9-11 meter lagi. Simpulannya, kondisinya membahayakan bagi penduduk lokal, juga pengguna jalan raya, terutama industri jasa transportasi.
Melihat kondisi tebing yang terus longsor itu, saya sendiri memiliki kekhawatiran
sejak lama tentang keselamatan rumah orangtuaku dan nasib ibu saya semasa hidupnya di hari tua. Saya pernah meminta kepada adikku yang merawat ibu Latifah Arsyad (mantan Camat Cerenti), ketika itu untuk memindahkan ibuku ke rumah kakakku yang lebih aman.
Untuk merespon kekhawatiran saya ini, saya sudah “berteriak-teriak” menyuarakan aspirasi keluarga, warga dan rakyat Cerenti melalui beberapa tulisan /artikel opini di bulltin IKC dan mass media lokal AmanahNews Pekanbaru, serta media sosial WAG. Kemudian juga mendatangi dan meloby para pejabat (termasuk Bupati Drs. H. Mursini MSi tanggal 12 Desember 2019) dan beberapa orang wakil rakyat (DPRD Kuansing dan Provinsi Riau (al doeloe lewat adindaku Drs H. Adrian Ali di Pku dll) menjelas keadaan dan bahaya longsor tebing sungai Kuantan di Kec. Cerenti, Kuansing, Riau.
Terakhir bulan Juni 2022, saya pun sudah informasikan situasi lapangan terkini kepada Plt.Bupati Kuansing, abangku Suhardiman Amby, SE, Ak, MSi melalui WA japri. Beliau membalas WA saya bahwa proyek Turap tersebut, memang sepenuhnya kewenangan pembangunannya oleh Pemerintah Pusat.
Saya sudah jelaskan dan narasikan juga dalam beberapa tulisan di media secara objektif dan rasional, jika tanah tebing sungai (DAS) di Desa Kampung Baru Cerenti terus dibiarkan bertahun-tahun longsor, bahaya dan kerugian apa yang terjadi.
Menurut catatan sejarah Tebing longsor DAS Kuantan tersebut, yang saya tahu bahwa terjadinya tebing longsor ini sudah puluhan tahun lamanya kira-kira sejak tahun 1970 hingga sekarang. Setiap penggantian kepemimpinan Gubernur maupun Bupati di daerah ini (rantau Kuantan) kurang atau bahkan tampak tidak ada perhatian Pemerintah daerah secara serius.
Memang itulah kondisi nagori kita dewasa ini, dimana negara dan pemerintahan gerak geriknya (gusture) “belum dan atau tidak hadir” untuk melindungi rakyatnya sebagaimama amanat konstusi Pembukaan UUD 1945 tujuan bernegara. Maaf para pemimpin dan elite politik sibuk melayani dirinya sendiri, keluarganya dan para kroninya dengan berbuat kriminal korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), sehingga begitu kuatnya cengkraman oligarki dan dinasti politik, rakyat pun nampaknya tidak berdaya (powerless).
Jadi tidaklah heran pemberitaan di koran-koran mass media lokal di Pku seperti Riau Pos, Tribun Riau Pos dan Amanah News hampir setiap minggu memberitakan kasus korupsi dari para mantan Bupati dan para pejabat di Kab/Kota di Provinsi Riau, terutama Kabupaten Kuansing. Hal ini berakibat buruknya pelayanan sosial dan kurangnya perhatian terhadap nasib rakyat yang dipimpinnya.
Padahal akibat negatif longsor itu dan kerugiannya luar biasanya baik ditinjau dari perspektif dan dimensi kemanusiaan, ekonomi dan sosial budaya.
Dilihat secara kemanusiaan tanah longsor (abrasi) mengancam nyawa penduduk, dan memporak- porandakan kehidupan masyarakat sehari-hari, serta suasana kehidupan di rumah tidak akan nyaman dibuatnya, jika terus dibiarkan seperti itu. Ini perbuatan melanggar HAM dan menabrak hukum. Selanjutnya secara ekonomi, tanah tebing longsor akan menghantam jalan raya dan jalan pun bisa terputus bahkan ratusan kendaraan yang melintas sehari-hari akan terhambat dan mengancam perekonomian masyarakat lokal dan regional, sebab arus barang dan manusia terhambat.
Jika membangun jalan baru sebagai pengganti “jalan lama” barang-tentu akan menemui banyak kesulitan, tantangan karena medan landscape lahannya berat, dan berbiaya sangat besar (bisa Triliyunan Rp) ketimbang membangun bangunan turap besi-beton untuk menyelamatkan badan jalan raya yang ramai digunakan saat ini.
Kemudian akibat bencana longsor tebing Sungai Kuantan di lokasi Desa Kampung Baru jika tetap dibiarkan beberapa tahun lagi, maka beberapa desa dan kelurahan pemukiman penduduk berikut fasos dan fasumnya seperti: bangunan pasar rakyat (kios-2) dan rumah tokoh (ruko), masjid, perkantoran, sekolah, sejumlah tanah pemakaman warga dan kuburan Rajo yang ada di desa Kampung Baru Timur, kelurahan Pasar Cerenti, Kota Peraku dan Desa Koto Cerenti akan hancur dan bisa berangsur-angsur hilang, punah.
Belasan kampung-kampung tradisional (tradisional villages) di mana tempat bermukimnya para warga asli setempat dan sejumlah “artefak dan harritages” warisan dari para leluhurnya yang memiliki adat istiadat (local wisdom) dan pola kebudayaan Melayu Islam yang dianut masyarakat Cerenti itu sendiri akan sirna, karena tercabut dari akar budaya aslinya, pudar dan akan hilang ditelan bumi.
Jika hal ini sampai terjadi ?, dimana hilangnya sebagian pemukiman penduduk dan putusnya jalan raya kelas nasional, maka ‘kehancuran nagori” dan sosial budaya Islam-Melayunya bakal terjadi. Oleh karena itu kerugian besar yang tiada taranya bagi masyarakat Cerenti Kabupaten Kuansing tidak terelakkan. Nauzubillahi minzalik.
Saya bersyukur kepada Allah SWT sudah puluhan tahun lamanya menanti adanya perhatian Pemerintah baik Pusat dan Daerah.
Beberapa bulan lalu, ketika saya berada di kampung, saya pernah mendengar dari para keponakan saya yang kini duduk menjadi anggota DPRD Kuansing, ketua BPD Desa Kp Baru Timur, dan aktivis LSM bahwa katanya insyaAllah pada tahun anggaran 2021 sudah ada proyek yang akan dimulai pembangunan Turap Pengamanan tebing longsor di Desa Kampung Baru Timur Kec. Cerenti.
Akan tetapi kenyataannya setelah saya cek di lapangan baru-baru ini, ketika pulang ke kampung Cerenti, tepatnya pertengahan Juni 2022, belum ada aktivitas keproyekan apa-apa untuk perbaikan lokasi tebing yang longsor tersebut. Dan yang sudah tampak ada, baru tanda-tanda berupa “patok-kayu” yang bercat warna merah di belakang rumah orangtuaku.
Apakah itu merupakan hasil pengukuran pihak kontraktor, saya pun belum tahu. Kebetulan lokasi tebing itu terletak persis di halaman bagian belakang dari “rumah tua” warisan orangtuaku, dan beberapa rumah para Dunsanakku di kampung Bukit Gudang Cerenti.
Harapannya dengan dibangun Turap penahan longsor bisa menyelematkan areal pemukiman dan nyawa penduduk setempat dari ancaman bencana alam tebing longsor (ghuntua, bahasa Cerentinya) di DAS Sungai Kuantan tersebut.
Alhamdulillah, dulu saya pernah membaca berita baik di medsos pada postingan gambar di WA, yang dijapri oleh salah seorang kemenakan saya (Ardan Ismail dari Kota Bekasi), yang berisikan kalimat dan bahasanya begini:
H. Syahrul Akil Masrat Lc., MA anggota DPR RI Fraksi PKS dapil Kuansing-Kampar Riau telah mendukung dan berjuang dalam proses pengusulan pembangunan Turap di Desa Kampung Baru Cerenti Kabupaten Kuansing dengan judul projek “Pengamanan Tebing Sungai Desa Kampung Baru Timur Kecamatan Cerenti”.
Terus terang saya agak senang membaca berita gembira tersebut. Sebab memang sudah lama ditunggu-tunggu masyarakat. Barang-tentu kami sebagai warga dan orang Cerenti sangat bersyukur akan hal itu dimana Pemerintah pusat mulai memberikan perhatiannya terhadap permasalahan DAS Kuantan itu.
Saya dan kita berharap sekali, semoga rencana kegiatan proyek Turap ini bisa segera dirancang Kementerian PUPR RI dan anggaran APBN atas usulan ustadz H. Syahrul dan disetujui DPR RI kemudian segera dirialisasikan pembangunan fisiknya, katanya pada tahun 2021 yang lalu, tetapi hingga sekarang (Juni 2022) belum juga berwujud.
Harapannya proyek bangunan Turap tebing itu sudah dikerjakan pembangunannya sebelum musim hujan dan banjir besar tahunan datang, yang menimpa DAS Kuantan.
Projek pencegahan tebing longsor ini, sebenarnya sudah menjadi dambaan, dan penantian yang cukup lama dari rakyat Cerenti. Saya atas nama tokoh masyarakat dan warga Cerenti, termasuk yang berada di perantauan.
Kami mengucapkan terima kasih kepada ustadz Syahrul Akil Masrat/anggota DPR RI Fraksi PKS atas inisiatif usulan dan perjuangannya ke Pemerintah Pusat guna membangun fasilitas “Turap Pengaman Tebing Longsor di Desa Kampung Baru Cerenti” tersebut.
Kemudian, saya juga berharap adanya pengawasan yang baik dan ketat dari DPR RI agar kualitas pekerjaan berkualitas terjamin dan anggarannya jangan sampai dikorupsi oknum-oknum tertentu yang serakah (greedy), sehingga kualitas pekerjaan fisiknya rendah dan daya tahannya berkurang, akibat pekerjaan konstruksinya menyimpang dari bestek (project design), dan akhirnya umur ekonomis bangunan Turapnya menjadi pendek, tidak bisa ratusan tahun bertahan dan dinikmati masyarakat.
Perbuatan kriminal seperti itu, janganlah sampai terjadi. Kita harus merasa kasihan dengan nasib rakyat setempat dan janganlah anggaran negara yang ada dihamburkan secara percuma.
Semoga Allah SWT menjadikan amal soleh, bernilai ibadah dengan pahala yang melimpah bagi para pendukung dan pejuang terealisasinya proyek ini, karena telah menyelamatkan kehidupan rakyat, khususnya masyarakat dan para Dunsanak di kampungku Cerenti Kuansing. Salam hormat.
Penulis adalah Pendiri-Dosen/Assosiate Professor pada Prodi Agribisnis Universitas Djuanda Bogor, Konsultan K/L, Aktivis beberapa Ormas di Bogor dan Pemerhati Sosial. Orang asli Cerenti, sekarang mukim di Ciawi Bogor





