JAKARTA (LEAD.co.id) – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai eksistensi radikalisme yang mempunyai banyak pintu masuk baik secara Daring (dalam jaringan) maupun Luring (luar jaringan).
Radikalisme masih dianggap sebagai musuh bersama, menjadi ancaman bagi ketertiban dan keamanan negara. Eksistensi radikalisme memiliki banyak pintu masuk baik secara luring maupun daring sehingga mulai dari kalangan orang tua hingga anak muda cukup rentan terpapar.
Ketua Bidang PTKP PB HMI Akmal Fahmi mengatakan, di tengah pesatnya kemajuan teknologi, penyebaran konten radikalisme sangat mudah dilakukan bahkan efektif untuk mendoktrinasi generasi muda untuk mendukung ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.
Terkait itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Boy Rafli Amar beberapa pekan lalu mengatakan bahwa para teroris juga menggunakan internet dalam melakukan pendanaan untuk mendukung aksi terorisme. Selama pandemi berlangsung, terdapat kenaikan 101% transaksi keuangan mencurigakan.
“Untuk mengantisipasi lonjakan paham radikalisme dan instoleran tentu masyarakat Indonesia agar mampu menguatkan kembali ideologi Pancasila sebagai landasan berbangsa dan bernegara,” ujar Akmal.
Akmal juga mengumbau mahasiswa dan untuk memperkuat ideologi Pancasila sebagai landasan dalam bernegara, begitupun para pemuka agama. Karena, radikalisme bukan tantangan yang ringan meski BNPT sudah pernah merilis bahwa angka radikalisme pada tahun 2021 menurun.
“Jangan sampai Indonesia mengikuti negara-negara seperti Timur Tengah yang selalu berkonflik antarsatu dengan yang lainnya. Apalagi, konflik yang mengatasnamakan agama.Ia juga mengatakan bahwa agama sudah semestinya digunakan untuk mendamaikan dan mencerahkan umat manusia, bukan sebagai alat untuk adu domba. Pungkasnya.
Akmal mengatakan, BNPT sebagai lembaga yang konsentrasi pada persoalan pencegahan dan penanganan Radikalisme dan instoleran harus mampu berkolaborasi dengan seluruh elemen masyarakat dan kaum milenial dalam menekan penyebaran paham tersebut.
Untuk itu, dia berharap BNPT bisa berkolaborasi dengan PB HMI melalui program Duta Siber yang dirancang dengan melibatkan beberapa bidang terkait untuk menangkal paham radikalisme dan intoleransi yang merebak di berbagai media sosial.
“Tentunya kami sangat siap untuk melakukan gerakan tersebut di seluruh wilayah Indonesia,” tutup Akmal.
Reporter: M Ikhsan
Editor: Aru Prayogi

