Oleh: Apendi Arsyad
Syukron kmd Sepniwati, AMd dari Perawang Kabupaten Siak Sri Indrapura, Riau telah memposting narasi “Waspadai Hari Arafah”, dengan uraian penuh pesan-pesan moral, peningkatan kualitas iman taqwa kita kepada Allah SWT.
Kemudian selama ibadah wukuf di padang Arafah, apa-apa yang harus kita amalkan untuk kita memanfaatkan waktu beribadah wukuf dalam rangka menambang pahala dari Allah SWT.
Bagus postingan tersebut, untuk dibaca dan dipelajari guna menambah pengetahuan agama Islam (Dinnulislam) kita.
InsyaAllah juga pada sore hari nanti diperkirakan Jumat 8 Juli 2022, waktu besoknya berdasarkan kalender, yakni tanggal 9 Zulhijjah jatuh pada hari Sabtu, 9 Juli 2022, merupakan hari raya Idul Adha 1443 H. Maka, bagi mereka yang berkesempatan menunaikan ibadah haji, kini sedang melakukan ibadah wukuf di padang Arafah sebagai salah satu rukun haji.
Sedangkan mereka tidak menunaikan haji, dianjurkan untuk berpuasa (shaum) Arafah, dalam upaya menambang pahala yang datang dari Allah SWT sebagaimana isi QnS, kemudian kita berusaha berbuat kebajikan dengan berinfaq, beramal sholeh karena Allah Taalah (Lillahi taalah).
Pada hari Arafah ini (pada tgl 9 Dzulhijjah 1443 H) semua jemaah haji berasal dari seluruh dunia telah wajib berkumpul di padang Arafah sejak siang dan sore kemaren.
Mereka berpakaian ihram (berpakaian jubah warna putih dan tanpa dijahit) berangkat dari Kota Suci Mekkah Al Mukarromah menuju padang Arafah dan harus tiba hari ini, dengan menempati tenda-tenda, berkemah yang telah disediakan dan diatur Panitia Hajji Pemerintah Saudi Arabia, sesuai dengan pembagian maktabnya negaranya masing-masing.
Untuk saat ini (thn 2022), pada suasana era pandemi Covid-19 dengan dilaksanakan pembatasan prokes pencegahan pandemi Covid-19, (era new normal) hanya diquota sebanyak 60 ribu orang calhaj (calon haji) dengan seleksi dan pengawasan yang sangat ketat. Barang tentu kepadatan jalan raya dan hunian kemah-kemah (camps) yang mengisi kawasan padang Arafah tidak begitu “crawded”, longgar-berjarak, dan hilir-mudik-derubkenderaan bus yang mengangkut jemaah haji di jalan raya pun tidak akan sepadat, sebising pada waktu hajji biasa, yang normal.
Aktivitas musim haji situasi normal, kota suci Mekkah / Masjidil Haram bisa menampung tamu Allah sebanyak 2.5 sd 3 juta orang jemaah hajji. Sebelumnya lk 2 tahun, tertutup akibat mewabahnya (pandemi) Covid-19 di seantero dunia, termasuk Arab Saudi.
Sejak kemarin dan hingga pagi hari pada tgl 9 Dzulhijjah 1443 H itu, menurut syariatnya jemaah hajji akan berkumpul di padang Arafah. Setibanya di tenda-tenda (camp) para jemaah wajib melakuan ibadah wukuf selama di padang Arafah, yang merupakan salah satu rukun haji.
Wukuf adalah berada di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah 1443 H (menuru kalendernya akan diperkirakan jatuh pada hari Jumat 8/7-2022) dari saat tergelintir matahari sampai waktu fajar tgl 10 Dzulhijjah. Wukuf dinilai syah, walaupun dilaksanakan hanya sesaat selama rentang waktu tersebut, akan tetapi diutamakan mendapat sebagian waktu siang dan waktu malam (Buku Pedoman Bimbingan Manasik Hajji dan Umrah, KBIH Syamsul Huda Al Amaliyah, Ciawi Bogor, 2013).
Kemudian waktu wukuf nanti telah tiba, diperkirakan Jumat tgl 8/7-2022 menurut kalander, pada malamnya, setelah selesai menunaikan ibadah wukuf, para jemaah hajji dari seluruh dunia berangkat menuju Mina, meninggalkan Arafah {Al Quran 2 (199)} Dugaan saya penyelenggaraannya, insyaAllah akan berjalan lancar, dan tidak akan berdesak-desakan (crowded), disebabkan anggota jemaah haji, jumlahnya sangat sedikit. Jika dibandingkan dengan kondisi berhaji pada delapan tahun lalu, sangat jauh berbeda.
Pada tahun 2013, rombongan jemaah hajjinya sangat padat sekitar 2.3 juta orang jemaah hajji masuk- tumplek di kota suci Mekkah dan Madinah, bandara Jeddah dan Madinah serta jalan raya (tol) pun dipenuhi jemaah calhajj sangatlah padat dan juga tingkat kebisingan begitu tinggi.
Sesampai di kota Mekkah dan Madinah tampak para tamu Allah sangat ramai dengan berbagai aktivitas ibadahnya, dan bukan ibadah seperti berbelanja di pasar, dan atau jiarah (plesiran) ke lokasi-lokasi bersejarah, destinasi wisata religi yang ada di sekitar kawasan Mekkah Almukkaromah spt lokasi perjanjian Hudaybiyah, Gua hira, dll. Sedangkan di Madinah jangan lupa berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW, dsb.
Pengalaman saya AA bersama istriku beribadah berhaji lk 10 tahun yang lalu, izinkan saya akan menarasikannnya dengan harapan berbagi pengalaman, mana tahu ada manfaatnya.
Pada saat saya beribadah wukuf di padang Arafah pada tahun 2013 itu, seketika itu saya mendapatkan kesan dan kenangan yang cukup manis dan mengesankan,
mengingatkan (sweet memory). Saya bersama istriku yakni Ocu dan Amai, berada di padang Arafah Saudi Arabia mendapat berbagai jenis pengalaman spiritual keagamaan, yang sulit diungkapkan kata-kata dalam tulisan ini.
Walaupun cuaca begitu panas pada siang itu, namun ibadah wukuf tetap berjalan khusuk, berzikir mengingat kebesaran Allah, talbiyah, beristighfar atas dosa, dan berdoa minta keselamatan hidup di dunia (terutama keluarga dan kerabat) serta berdoa untuk kehidupan akhirat bahwa semua kita makhluk bernyawa akan mati (wafat).
Suasana wukuf padang Arafah, ketika itu ada juga peristiwa naas yang mengejutkan; tenda-tenda (kemah) sudah ber-AC roboh disebabkan pada malam harinya disiram hujan dan diterjang angin kencang. Sebagian tenda-tenda (camp) rombongan rusak dan terbang, tapi terjadi di maktab yang lain, alhamdulillah bukan di kemah kami.
Selama ibadah wukuf di padang (gurun sahara) Arafah itu, saat berhajji hari ini kita dianjurkan untuk membaca doa-doa serta memperbanyak membaca kitab suci Al Quran, berzikir mengingat kebesaran Allah SWT, dengan bertasbih, tahmid dan takbir, serta beristighfar minta ampun kepada Allah SWT atas perbuatan berbagai dosa yang dilakukan selama ini, sambil berderaikan air mata bagi mereka yang merasakan emosi-berhaji. Kemudian kita di tenda (siang atau sore ini) mendengar khotbah yang disampaikan oleh ustadz pendamping jemaah haji kloter yang sama.
Selanjutnya, kita mendengarkan khutbah wukuf pada siang/sore ini di tenda agak besar dengan khusu dan tawadhu, sambil terus berzikir, membaca talbiyah baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri (Allahumma Labbaik), dan berdoa meminta keselamatan hidup baik di dunia maupun akhirat, serta banyak-banyak minta ampun kepada Allah SWT, melafazkan kalimah “astafgfirullah”, minta ampun atas segala dosa yang pernah kita diperbuat selama ini di dalam kehidupan pergaulan sosial kita dan kelalai kita dalam mengamalkan perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.
Barang tentu, dengan doa dan sholat yang khusu selama di tanah suci, dan banyak beristighfar (baca Q 2 (195 sd 200), saking khusuknya terkadang tanpa sadar air mata kita pun berlinang di pipi, karena mengingat kebesaran Tuhan Allah SWT Sang Maha Pencipta (Al Khalik). Harapan kita dengan banyak berdoa, semoga Allah SWT mengkabulkan dan diijabah Allah sehingga memperoleh hajji yang mabrur/mabruroh (maaf bukan hajji “mabur”, suka kabur dari ritual menimba pahala dari Allah SWT).
Pada saat wukuf di padang Arafah di saat-saat ini, kita manusia akan merasakan sebagai hambaNya, kehadiran kita pribadi tidak ada apa-apanya, diantara lautan manusia (jutaan manusia) yang memenuhi padang pasir Arafah.
Pengalaman saya ketika itu, di sela-sela waktu beribadah wukuf di padang Arafah, sejenak keluar dari tenda, menatap lautan manusia yang memutih memenuhi areal perkemahan, dimana posisi (status) kita sama dihadapan Tuhan Allah dengan simbol berpakaian ihram, memang tidak tampak manusia kaya-miskin, cerdas-awam, pejabat-rakyat, dsb, semuanya sama.
Dari gejala sosial yang seperti itu, yang pernah dialami maka pada waktu otakku mulai menangkap, merenung dan berpikir mungkin beginilah kita jalani nanti suasananya di padang Mahsyar, setelah wafat bahwa semua kita akan menghadap Allah SWT Sang Khalik, dimana status kita sama sebagai hamba Allah, akan dihisab segala pahala dan dosa untuk menentukan status kita sebagai penghuni surga (golongan kanan) atau penghuni neraka (golongan kiri).
Maka, beruntunglah mereka yang lulus golongan kanan, wajah mereka berseri-seri dan berbahagia, dan sebaliknya mereka masuk golongan kiri wajahnya hitam- suram, bersedih, sengsara dan mendapat azab yang pedih, sebab semasa hidup di dunia gemar berbuat dosa dan zholim antar sesama manusia.
Berikutnya, setelah ibadah wukuf, mendengar khutbah di padang Arafah, kemudian sorenya jemaah berangkat menuju ke Mina, melewati dan singgah / hadir pada saat tertentu (mabit) di Muzdalifah, sebuah lokasi / padang untuk mengambil 7 butir batu kerikil yang akan digunakan untuk acara-ritual melempar jumrah yang sebesar kelereng kecil.
Makna melempar jumrah, kita mengusir setan-setan yang terus menggoda agar hidup kita sehat, dengan simbol pelemparan jumrah ini, berarti kita bertekad untuk berakhlaq mulia, menjauhi perbuatan syetan yang terkutuk itu dalam keseharian hidup kita.
InsyaAllah sepulang beribadah haji dari Mekkah, dan kembali ke tanah air pola tingkah laku (alkhlaq) kita membaik, meninggalkan perbuatan jahat dengan sesungguh-sungguhnya (taubatan-nasuha), rajin dan tertib beribadah, terutama disiplin menegakan sholat 5 (lima) waktu, tidak korupsi lagi, tidak berbohong dan menipu lagi, dan atau tidak berzina, dan tidak berbuat zholim antar sesama, sebagaimana watak seseorang yang mendapat “hajji mabrur/mabruroh”.
Haji bukan untuk mendongkrak status sosial di lingkungan sosial, akan tetapi ibadah haji merupakan instrumen perbaikan akhlaq, yakni berperilaku mulia (aklaqul-karimah).
Pada saat itu, menuju Mina pada tahun 2013, memberangkatkan kami menggunakan kendaraan, karena jemaahnya padat, “berebut” bus secara bergantian. Kondisi ini menuntut kesabaran yang tinggi dalam antrian dan desakan antar jemaah. Harap maklum jemaah yang dilayani ketika itu sekitar 2,3 juta orang.
Dari suasana malam keberangkatan dengan massa yang sangat padat itu, berbagai godaan setan pun datang bertubi-tubi. Sebagian orang-orang/jemaah haji yang kurang sabar dan lupa akan cobaan dan ujian dari Allah SWT. Mereka spontan memperlihat tingkah laku yang aneh-aneh “marah-marah”, dengan kata-kata kurang baik dan tidak enak didengar di telinga.
Ternyata selama perjalanan malam dari Arafah, mampir di Muzdalifah terus ke Mina setan-2 selalu menggoda anak Adam (calhajj) yg tengah beribadah hajji.
Dalam kondisi berada di kenderaan bus rombongan jalan raya yang padat, dan bising, kita harus banyak bersabar, istighfar dan berzikir mengingat Rahman dan RahiemNya serta Maha besarnya Tuhan Allah SWT, pemilik alam jagat raya ini, bumi dan langit beserta isinya (Al Mulk).
Saya pernah mengalami menumpang bus yang AC-nya mati seketika dalam perjalanan; dan beberapa kali mengalani mogok, mesin mati di jalan.
Di sini lah aneka pola perilaku manusia Calhaj tampak bawaan aslinya (watak baik dan buruknya) muncul dan diperlihatkan Tuhan seketika, ada yang diam sambil berzikir, ada yang marah-marah “ribut/protes”. Mereka sangat gelisah dan ada juga yang berkata-kata “kasar”, emosional di luar kontrol, selama dalam bus mogok menuju Mina dari padang Arafah. Memang kondisi lalu lintas sangat padat pada malam itu, setelah selesai ibadah wajib berwukuf di padang Arafah.
Saya alhamdulillah, memilih sikap berdiam saja di bus sedang mogok, sambil berzikir, dan menahan panasnya di dalam bus yang AC-nya mati, badan pun bersimbah peluh (berkeringat), barang tentu badan letih-lelah (capek) akibat kurang tidur amat saya rasakan dalam perjalanan malam dari padang Arafah, Muzdalifah ke Mina di Saudi Arabia untuk menunaikan rangkaian ibadah lempar batu jumrah.
Sesampai jemaah rombongan kami di Mina pada pagi hari, setelah subuh karena mogok. Setiba di kamp-tenda saya istirahat sejenak, padahal kawan-kawan rombongan (kloter) yang menumpang bus berbeda, mereka duluan sampai. Mereka punya waktu istirahat (tiduran) yang cukup, sedangkan saya dengan beberapa teman-teman calhajj tidak berkesempatan tiduran-beristirahat di tenda.
Pagi itu diputuskan pimpinan Rombongan untuk bersiap-siap melontar jumrah, saya pun menarik napas sambil berdoa ya Allah ya Rabb berilah hambaMu ini kekuatan”.
Dengan mengucapkan basmallah, Al Fatihah, melafalkan surat-surat pendek (juz Ammah), dan membaca tasbih, tasmid dan taqbir pagi itu kami pun rombongan calhajj berjalan beberapa ratusan meter menuju tempat pelemparan jumrah.
Para jemaah haji melewati terowongan Mina, ada yang jalan biasa dan ada naik eskalator). Lalu lintas saya lihat sangat padat baik pada waktu itu, mereka berselisihan ada yang datang maupun yang pulang setelah melempar jumrah Ula, Wustha dan Aqobah, terutama pada jam-jam tertentu, terutama di pagi hari, memang para jemaah sangat
padat. Pada waktu ini, para jemaah harus berhati-hati, jangan sampai terjadi kecelakaan dan musibah karena saling dorong antar rombongan jemaah hajji dari berbagai negara.
Rombongan jemaah (kloter) hajji saya AA, waktu melempar jumrahnya dilakukan di pagi hari sekitar jam tujuh-an waktu di Mina,.dengan kepadatan jalan cukup tinggi. Saya pun baru sampai di tenda sangat terlambat akibat bus mogok; dan tidak sempat istirahat sedikit pun. Tapi cek tensi darah, alhamdulillah normal; aneh bin ajaib ada.karunia Allah. Pagi itu saya dengar; pihak otoritas Haji pun sudah mengingatkan melalui alat pengeras suara (mikrophone) agar rombongan jemaah haji lebih berhati-hati dan tertib berjalan, antri dengan teratur, serta mentaati rambu-rambu jalan.
Sebenarnya waktu melontarkan jumrah dengan batu kerikil tersebut, menurut syari’i (fiqih) bisa dilakukan mulai lewat tengah malam hari nahar sampai magrib. Bahkan, apabila mengalami kesulitan bisa dilakukan pada malam hari hingga subuh. Sedangkan melontar jumrah pada hari tasriq bisa juga dilakukan setelah tergelincir matahari hingga terbenam matahari atau setelah terbenam matahari hingga subuh.
Tapi saya tidak tahu persis alasannya mengapa pimpinan rombongan jemaah hajji kami Ustadz KH Warnuddin ZM (pimpinan KBIH Syamsul Huda Ciawi Kab.Bogor, almukkarrom telah wafat tgl 11/7-2021 ybl) memilih waktu melempar jumrah di pagi hari sekitar jam 7 waktu setempat, saya dengar alasannya, katanya lebih afdhol.
Berdasarkan pengalaman ini saya melihat selama beribadah haji tersebut tingkat kekhusukan seseorang Calhaj memang berbeda-beda kualitasnya, dan ada pula yang muncul tabiat yang “aneh-aneh” misalnya suka tiduran di maktab/hotel, enggan sholat berjemaah di masjidil haram Mekkah dan masjid Nabawi Madinah, suka kumpul mengobrol-ngobrol di mahtab, banyak merokok dan gemar berbelanja yang agak berlebihan padahal barang-barang yang dibeli itu, sebenarnya ada yang diperdagangkan di pasar Tanah Abang Jakarta, ada juga yang terjebak berperilaku menyimpang seperti berkata jorok (rafas), “bertengkar”, konflik antar sesama, terkadang suami-istri, membuat keributan (jidal), dll sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Baqarah ayat 197, para jemaah, harap berhati-hati berkomunikasi antar sesama jemaah, terlebih dengan pasangannya.
Godaan syaitan begitu banyak terjadi pada saat beribadah haji apalagi ketika kita beristirahat di maktab, hotel, dan penginapan (rumah-rumah warga penduduk yang sewa untuk jemash hajji).
Oleh karena itu kita sebaiknya bisa menarik pelajaran (iktibar) dari beribadah hajji dan umroh ini, dengan meluruskan niat karena Allah SWT semata. Biaya hajji seharusnya dari sumber rezeki yang halal (bukan dana korupsi atau sejenisnya).
Selama berada di tanah suci, luangkan waktu dan rajin mempelajari ilmu-ilmu agama Islam (Dinnulislam) dengan baik dan benar berdasarkan ayat-ayat Al Quran dan Hadist, terutama ilmu pengetahuan agama mengenai tata cara beribadah Haji dan Umrah dengan baik dan benar. Sebelum berangkat haji, usahakan seserius mungkin mengikuti kegiatan pembekalan di acara Manasik Haji yang diberikan ustadz KBIH dan pejabat Kandepag setempat.
Berikutnya akan lebih paham tata cara beribadah haji agar membaca buku Pedoman Haji dan Umroh yang diterbitkan Ditjen Bimas dan Urusan Hajji- Kemenag RI. Dalam buku tersebut, cukup lengkap diterangkan segala ketentuan persyaratan rukun dan sunnah, landasan hukum dan riwayat (sejarah) serta tata cara melaksanakan rukun haji, terutama tawwab, sai (bukit saffah-marwah) dan wukuf di padang Arafah dan melempar jumrah di Mina dll.
Agar ibadah haji mabrur, yang menjadi idaman Calhaj. Makanya kehutuhan ilmu- ilmu-pengetahuan beribadah hajji dan umrah harus dipahami jauh hari sebelum berangkat ke tanah suci, dipraktikkan atau diamalkan dengan ikhlas-ikhlas karena Allah SWT.
Dengan menyaksikan wukuf di padang “pasir” Arafah, dimana kita tinggal sementara waktu di tenda-tenda sesuai maktabnya. Pada saat wukuf, kita selalulah bertafakkur dan banyak berzikir kepada Allah SWT, sehingga bisa merenung, menarik pelajaran dan hikmah dalam dinamika kehidupan ini serta bertaubatan nasuha, dengan banyak beristighfar. Jika khusuk berdoa, boleh jadi air mata kita menetes dan berlinang di pipi, mengingat dosa-dosa yang pernah diperbuat selama ini.
Mari kita berdoa, terus berharap, bermunajat, semoga para dunsanak (kaum kerabat) terutama bagi anak-kemenakan, serta para cucu kita, atas kehendakNya berkesempatan menunaikan ibadah rukun Islam ke 5 yakni Berhajji bagi mereka yang berkemampuan.
InsyaAllah warga the Arsyad Family bermampu semuanya baik material (kesehatan fisik dan finansial) maupun spiritual (sikap mental, ikhlas beribadah hajji) Aamiin3 YRA.
Saran saya, alangkah baiknya jauh hari, anggota keluarga berniat untuk menunaikan haji, buatlah tabungan haji di BSI (dulu Bank Mandiri dan BNI Syariah etc). Sejak sekarang mulailah menyisihkan sebahagian rezeki, penghasilan keluarga (household income) kita yang halal dan toyyib.
Saya sendiri berdasarkan pengalaman, menabung haji pada Bank Mandiri Syariah Bogor selama lk 12 tahun, baru terkumpul untuk kupon haji. Ingat pembiayaan ongkos haji yang lumayan besar, dan sumber dananya harus berasal dari penghasilan yang halal dan toyyib. Jangan sekali-kali dari penghasilan yang haram seperti dana korupsi, sogok menyogok, suap menyuap (grafitasi), menipu apalagi mencuri harta orang lain.
Dalam buku Pedoman Berhaji, terbitan Ditjen Bimas Islam dan Hajji Kemenag RI (2007) mengingatkan, “jika dana yang digunakan untuk berangkat haji, bersumber dari uang dan harta haram, maka tanah suci Mekkah, langitnya seakan-akan runtuh menyambut calhajj tersebut”.
Oleh karena itu saya tidak henti-hentinya bersyukur diberi umur, kesehatan dan kesempatan dapat quotanya (yang umumnya sangat terbatas, ada daerah Kabupaten/kota yang belasan tahun baru dapat kupon berhajji), sehingga selama berada di tanah suci Mekkah-Al Mukarromah dan Madinah Al Munawarah, saya manfaatkan waktu beribadah semaksimal mungkin (tidak menyia-nyiakan waktu), dengan mengikuti rangkaian kegiatan ibadah spt sholat berjemaah, sholat sunnat terutama sholat sepertiga malam/tahajjut, bertadarus Al Quran dengan membaca Terjemahan agar paham akan makna isi kandungan Al Quran (firman Allah), membaca buku-buku agama yang bermutu antara lain seperti Sejarah Mekkah, Sejarah Madinah Munawwarah dan Makna Haji dikarang oleh intelektual aliran Syiah Dr. Ali Syariati, pemikir Revolusi Islam Iran, ikut pengajian (tausyiah) agama Islam dengan para guru/ustadz Masjidil Haram di sudut-pojok masjid, dan sholat fardhu dan sunnah di masjidil haram Mekkah dan masjid Nabawi Madinah (40 waktu full), berziarah ke makam nabi dan para Suhada TP Ramala, posisinya agak dekat masjid Nabawi.
Kemudian berziarah ke tempat-tempat bersejarah lainnya, juga bersilaturrahmi dengan sahabat di Mekkah, jalan-jalan “shopping window” ke mal dan atau toko-toko buku dan menikmati kuliner masakan menu Nusantara pada waktu-waktu senggang (jeddah) di luar waktu shalat fardhu bersama istri tercinta di masjid Nabawi dsb.
Barang tentu kesemua aktivitas tersebut, yang bermanfaat, karena kita tinggal selama lk 40 hari berada di tanah suci Mekkah dan Madinah untuk paket hajji reguler. Jenuh (boring) juga tidak mencari selingan waktu untuk kegiatan-kegiatan itu.
Keberadaan jemaah calon haji di tanah suci tergantung aturan pemberangkatan atau gelombang kloter, yang kloter awal langsung ke Jeddah Mekkah, setelah selesai menunaikan rukun hajji, baru ke Madinah, untuk beribadah sholat arbain (menegakan sholat 80 rakaat terus menerus di madjid Nawawi), sedangkan kloter agak belakangan pada umumnya calon haji singgah dulu ke Madinah.
Jemaah haji reguler setelah lk 40 hari di tanah suci, pulang ke Indonesia, meninggalkan tanah suci melalui bandara udara Jeddah Mekkah atau bandara Madinah. Para jemaah haji diperiksa dengan ketat, sebelum naik pesawat terbang untuk pulang.
Ada beberapa jenis barang-barang dilarang dibawa, terutama yang bervolume besar dan berat. Banyak barang-barang hasil berbelanja di tanah suci disita di bandara. Kejadian ini banyak dialami oleh jemaah haji kaum ibu, yang gemar berbelanja peralatan rumah dan dapur. Saran saya agar jemaah haji lebih berhati-hati dan selektif berbelanja di tanah suci.
Dengan narasi pengalaman berhajji dan ibadah wukuf di padang Arafah ini, bisa menginspirasi dan memotivasi sanak keluarga dimana pun kalian berada.
Semoga Allah SWT memberikan Rahmat, Karunia dan HidayahNya kepada para dunsanak: anak-kemenakan, cucu dan cicit kita untuk bisa berhajji pada waktunya, apabila sudah ada kemampuannya… insyaAllah.. Amiin-3 YRA.
Demikian lah sekelumit cerita pengalaman beribadah haji dan aktivitas beribadah wukuf di padang Arafah di tanah suci Mekkah Mukarromah, mudah-mudahan ada manfaat bagi para pembaca tulisan ini. Mohon maaf apabila ada hal-hal yang kurang berkenan dengan isi artikel ini.
Syukron barakallah Aamiin-3 YRA.
Penulis adalah Pendiri-Dosen Universitas Djuanda Bogor, Konsultan K/L, Aktivis Ormas, Pekerja dan Pemerhati Sosial

