Berikutnya, setelah ibadah wukuf, mendengar khutbah di padang Arafah, kemudian sorenya jemaah berangkat menuju ke Mina, melewati dan singgah / hadir pada saat tertentu (mabit) di Muzdalifah, sebuah lokasi / padang untuk mengambil 7 butir batu kerikil yang akan digunakan untuk acara-ritual melempar jumrah yang sebesar kelereng kecil.
Makna melempar jumrah, kita mengusir setan-setan yang terus menggoda agar hidup kita sehat, dengan simbol pelemparan jumrah ini, berarti kita bertekad untuk berakhlaq mulia, menjauhi perbuatan syetan yang terkutuk itu dalam keseharian hidup kita.
InsyaAllah sepulang beribadah haji dari Mekkah, dan kembali ke tanah air pola tingkah laku (alkhlaq) kita membaik, meninggalkan perbuatan jahat dengan sesungguh-sungguhnya (taubatan-nasuha), rajin dan tertib beribadah, terutama disiplin menegakan sholat 5 (lima) waktu, tidak korupsi lagi, tidak berbohong dan menipu lagi, dan atau tidak berzina, dan tidak berbuat zholim antar sesama, sebagaimana watak seseorang yang mendapat “hajji mabrur/mabruroh”.
Haji bukan untuk mendongkrak status sosial di lingkungan sosial, akan tetapi ibadah haji merupakan instrumen perbaikan akhlaq, yakni berperilaku mulia (aklaqul-karimah).
Pada saat itu, menuju Mina pada tahun 2013, memberangkatkan kami menggunakan kendaraan, karena jemaahnya padat, “berebut” bus secara bergantian. Kondisi ini menuntut kesabaran yang tinggi dalam antrian dan desakan antar jemaah. Harap maklum jemaah yang dilayani ketika itu sekitar 2,3 juta orang.
Dari suasana malam keberangkatan dengan massa yang sangat padat itu, berbagai godaan setan pun datang bertubi-tubi. Sebagian orang-orang/jemaah haji yang kurang sabar dan lupa akan cobaan dan ujian dari Allah SWT. Mereka spontan memperlihat tingkah laku yang aneh-aneh “marah-marah”, dengan kata-kata kurang baik dan tidak enak didengar di telinga.
Ternyata selama perjalanan malam dari Arafah, mampir di Muzdalifah terus ke Mina setan-2 selalu menggoda anak Adam (calhajj) yg tengah beribadah hajji.
Dalam kondisi berada di kenderaan bus rombongan jalan raya yang padat, dan bising, kita harus banyak bersabar, istighfar dan berzikir mengingat Rahman dan RahiemNya serta Maha besarnya Tuhan Allah SWT, pemilik alam jagat raya ini, bumi dan langit beserta isinya (Al Mulk).
Saya pernah mengalami menumpang bus yang AC-nya mati seketika dalam perjalanan; dan beberapa kali mengalani mogok, mesin mati di jalan.
Di sini lah aneka pola perilaku manusia Calhaj tampak bawaan aslinya (watak baik dan buruknya) muncul dan diperlihatkan Tuhan seketika, ada yang diam sambil berzikir, ada yang marah-marah “ribut/protes”. Mereka sangat gelisah dan ada juga yang berkata-kata “kasar”, emosional di luar kontrol, selama dalam bus mogok menuju Mina dari padang Arafah. Memang kondisi lalu lintas sangat padat pada malam itu, setelah selesai ibadah wajib berwukuf di padang Arafah.
Saya alhamdulillah, memilih sikap berdiam saja di bus sedang mogok, sambil berzikir, dan menahan panasnya di dalam bus yang AC-nya mati, badan pun bersimbah peluh (berkeringat), barang tentu badan letih-lelah (capek) akibat kurang tidur amat saya rasakan dalam perjalanan malam dari padang Arafah, Muzdalifah ke Mina di Saudi Arabia untuk menunaikan rangkaian ibadah lempar batu jumrah.
Sesampai jemaah rombongan kami di Mina pada pagi hari, setelah subuh karena mogok. Setiba di kamp-tenda saya istirahat sejenak, padahal kawan-kawan rombongan (kloter) yang menumpang bus berbeda, mereka duluan sampai. Mereka punya waktu istirahat (tiduran) yang cukup, sedangkan saya dengan beberapa teman-teman calhajj tidak berkesempatan tiduran-beristirahat di tenda.
Pagi itu diputuskan pimpinan Rombongan untuk bersiap-siap melontar jumrah, saya pun menarik napas sambil berdoa ya Allah ya Rabb berilah hambaMu ini kekuatan”.
Dengan mengucapkan basmallah, Al Fatihah, melafalkan surat-surat pendek (juz Ammah), dan membaca tasbih, tasmid dan taqbir pagi itu kami pun rombongan calhajj berjalan beberapa ratusan meter menuju tempat pelemparan jumrah.





