Pengalaman Haji dan Wukuf di Padang Arafah

oleh -1,699 views
Haji, Wukuf, Padang Arofah, Apendi Arsyad

Mari kita berdoa, terus berharap, bermunajat, semoga para dunsanak (kaum kerabat) terutama bagi anak-kemenakan, serta para cucu kita, atas kehendakNya berkesempatan menunaikan ibadah rukun Islam ke 5 yakni Berhajji bagi mereka yang berkemampuan.

InsyaAllah warga the Arsyad Family bermampu semuanya baik material (kesehatan fisik dan finansial) maupun spiritual (sikap mental, ikhlas beribadah hajji) Aamiin3 YRA.

Saran saya, alangkah baiknya jauh hari, anggota keluarga berniat untuk menunaikan haji, buatlah tabungan haji di BSI (dulu Bank Mandiri dan BNI Syariah etc). Sejak sekarang mulailah menyisihkan sebahagian rezeki, penghasilan keluarga (household income) kita yang halal dan toyyib.

Saya sendiri berdasarkan pengalaman, menabung haji pada Bank Mandiri Syariah Bogor selama lk 12 tahun, baru terkumpul untuk kupon haji. Ingat pembiayaan ongkos haji yang lumayan besar, dan sumber dananya harus berasal dari penghasilan yang halal dan toyyib. Jangan sekali-kali dari penghasilan yang haram seperti dana korupsi, sogok menyogok, suap menyuap (grafitasi), menipu apalagi mencuri harta orang lain.

Dalam buku Pedoman Berhaji, terbitan Ditjen Bimas Islam dan Hajji Kemenag RI (2007) mengingatkan, “jika dana yang digunakan untuk berangkat haji, bersumber dari uang dan harta haram, maka tanah suci Mekkah, langitnya seakan-akan runtuh menyambut calhajj tersebut”.

Baca :  Pengenalan Seputar ICMI dan Program Kerjanya

Oleh karena itu saya tidak henti-hentinya bersyukur diberi umur, kesehatan dan kesempatan dapat quotanya (yang umumnya sangat terbatas, ada daerah Kabupaten/kota yang belasan tahun baru dapat kupon berhajji), sehingga selama berada di tanah suci Mekkah-Al Mukarromah dan Madinah Al Munawarah, saya manfaatkan waktu beribadah semaksimal mungkin (tidak menyia-nyiakan waktu), dengan mengikuti rangkaian kegiatan ibadah spt sholat berjemaah, sholat sunnat terutama sholat sepertiga malam/tahajjut, bertadarus Al Quran dengan membaca Terjemahan agar paham akan makna isi kandungan Al Quran (firman Allah), membaca buku-buku agama yang bermutu antara lain seperti Sejarah Mekkah, Sejarah Madinah Munawwarah dan Makna Haji dikarang oleh intelektual aliran Syiah Dr. Ali Syariati, pemikir Revolusi Islam Iran, ikut pengajian (tausyiah) agama Islam dengan para guru/ustadz Masjidil Haram di sudut-pojok masjid, dan sholat fardhu dan sunnah di masjidil haram Mekkah dan masjid Nabawi Madinah (40 waktu full), berziarah ke makam nabi dan para Suhada TP Ramala, posisinya agak dekat masjid Nabawi.

Baca :  Dengan Kolaborasi Penta Helix Kita Membangun Nagori Kuansing Riau

Kemudian berziarah ke tempat-tempat bersejarah lainnya, juga bersilaturrahmi dengan sahabat di Mekkah, jalan-jalan “shopping window” ke mal dan atau toko-toko buku dan menikmati kuliner masakan menu Nusantara pada waktu-waktu senggang (jeddah) di luar waktu shalat fardhu bersama istri tercinta di masjid Nabawi dsb.

Barang tentu kesemua aktivitas tersebut, yang bermanfaat, karena kita tinggal selama lk 40 hari berada di tanah suci Mekkah dan Madinah untuk paket hajji reguler. Jenuh (boring) juga tidak mencari selingan waktu untuk kegiatan-kegiatan itu.

Keberadaan jemaah calon haji di tanah suci tergantung aturan pemberangkatan atau gelombang kloter, yang kloter awal langsung ke Jeddah Mekkah, setelah selesai menunaikan rukun hajji, baru ke Madinah, untuk beribadah sholat arbain (menegakan sholat 80 rakaat terus menerus di madjid Nawawi), sedangkan kloter agak belakangan pada umumnya calon haji singgah dulu ke Madinah.

Jemaah haji reguler setelah lk 40 hari di tanah suci, pulang ke Indonesia, meninggalkan tanah suci melalui bandara udara Jeddah Mekkah atau bandara Madinah. Para jemaah haji diperiksa dengan ketat, sebelum naik pesawat terbang untuk pulang.

Baca :  Catatan Singkat Webinar Oligarki dan Pilpres 2024, Cides ICMI

Ada beberapa jenis barang-barang dilarang dibawa, terutama yang bervolume besar dan berat. Banyak barang-barang hasil berbelanja di tanah suci disita di bandara. Kejadian ini banyak dialami oleh jemaah haji kaum ibu, yang gemar berbelanja peralatan rumah dan dapur. Saran saya agar jemaah haji lebih berhati-hati dan selektif berbelanja di tanah suci.

Dengan narasi pengalaman berhajji dan ibadah wukuf di padang Arafah ini, bisa menginspirasi dan memotivasi sanak keluarga dimana pun kalian berada.

Semoga Allah SWT memberikan Rahmat, Karunia dan HidayahNya kepada para dunsanak: anak-kemenakan, cucu dan cicit kita untuk bisa berhajji pada waktunya, apabila sudah ada kemampuannya… insyaAllah.. Amiin-3 YRA.

Demikian lah sekelumit cerita pengalaman beribadah haji dan aktivitas beribadah wukuf di padang Arafah di tanah suci Mekkah Mukarromah, mudah-mudahan ada manfaat bagi para pembaca tulisan ini. Mohon maaf apabila ada hal-hal yang kurang berkenan dengan isi artikel ini.
Syukron barakallah Aamiin-3 YRA.

Penulis adalah Pendiri-Dosen Universitas Djuanda Bogor, Konsultan K/L, Aktivis Ormas, Pekerja dan Pemerhati Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *