Pengalaman Haji dan Wukuf di Padang Arafah

oleh -1,698 views
Haji, Wukuf, Padang Arofah, Apendi Arsyad

Para jemaah haji melewati terowongan Mina, ada yang jalan biasa dan ada naik eskalator). Lalu lintas saya lihat sangat padat baik pada waktu itu, mereka berselisihan ada yang datang maupun yang pulang setelah melempar jumrah Ula, Wustha dan Aqobah, terutama pada jam-jam tertentu, terutama di pagi hari, memang para jemaah sangat
padat. Pada waktu ini, para jemaah harus berhati-hati, jangan sampai terjadi kecelakaan dan musibah karena saling dorong antar rombongan jemaah hajji dari berbagai negara.

Rombongan jemaah (kloter) hajji saya AA, waktu melempar jumrahnya dilakukan di pagi hari sekitar jam tujuh-an waktu di Mina,.dengan kepadatan jalan cukup tinggi. Saya pun baru sampai di tenda sangat terlambat akibat bus mogok; dan tidak sempat istirahat sedikit pun. Tapi cek tensi darah, alhamdulillah normal; aneh bin ajaib ada.karunia Allah. Pagi itu saya dengar; pihak otoritas Haji pun sudah mengingatkan melalui alat pengeras suara (mikrophone) agar rombongan jemaah haji lebih berhati-hati dan tertib berjalan, antri dengan teratur, serta mentaati rambu-rambu jalan.

Sebenarnya waktu melontarkan jumrah dengan batu kerikil tersebut, menurut syari’i (fiqih) bisa dilakukan mulai lewat tengah malam hari nahar sampai magrib. Bahkan, apabila mengalami kesulitan bisa dilakukan pada malam hari hingga subuh. Sedangkan melontar jumrah pada hari tasriq bisa juga dilakukan setelah tergelincir matahari hingga terbenam matahari atau setelah terbenam matahari hingga subuh.

Baca :  Display Sejarah ICMI di Arena RPD-MPW ICMI Bogor 2020

Tapi saya tidak tahu persis alasannya mengapa pimpinan rombongan jemaah hajji kami Ustadz KH Warnuddin ZM (pimpinan KBIH Syamsul Huda Ciawi Kab.Bogor, almukkarrom telah wafat tgl 11/7-2021 ybl) memilih waktu melempar jumrah di pagi hari sekitar jam 7 waktu setempat, saya dengar alasannya, katanya lebih afdhol.

Berdasarkan pengalaman ini saya melihat selama beribadah haji tersebut tingkat kekhusukan seseorang Calhaj memang berbeda-beda kualitasnya, dan ada pula yang muncul tabiat yang “aneh-aneh” misalnya suka tiduran di maktab/hotel, enggan sholat berjemaah di masjidil haram Mekkah dan masjid Nabawi Madinah, suka kumpul mengobrol-ngobrol di mahtab, banyak merokok dan gemar berbelanja yang agak berlebihan padahal barang-barang yang dibeli itu, sebenarnya ada yang diperdagangkan di pasar Tanah Abang Jakarta, ada juga yang terjebak berperilaku menyimpang seperti berkata jorok (rafas), “bertengkar”, konflik antar sesama, terkadang suami-istri, membuat keributan (jidal), dll sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Baqarah ayat 197, para jemaah, harap berhati-hati berkomunikasi antar sesama jemaah, terlebih dengan pasangannya.

Baca :  Semarak Reuni Armada 17-80 Tahun 2022

Godaan syaitan begitu banyak terjadi pada saat beribadah haji apalagi ketika kita beristirahat di maktab, hotel, dan penginapan (rumah-rumah warga penduduk yang sewa untuk jemash hajji).

Oleh karena itu kita sebaiknya bisa menarik pelajaran (iktibar) dari beribadah hajji dan umroh ini, dengan meluruskan niat karena Allah SWT semata. Biaya hajji seharusnya dari sumber rezeki yang halal (bukan dana korupsi atau sejenisnya).

Selama berada di tanah suci, luangkan waktu dan rajin mempelajari ilmu-ilmu agama Islam (Dinnulislam) dengan baik dan benar berdasarkan ayat-ayat Al Quran dan Hadist, terutama ilmu pengetahuan agama mengenai tata cara beribadah Haji dan Umrah dengan baik dan benar. Sebelum berangkat haji, usahakan seserius mungkin mengikuti kegiatan pembekalan di acara Manasik Haji yang diberikan ustadz KBIH dan pejabat Kandepag setempat.

Berikutnya akan lebih paham tata cara beribadah haji agar membaca buku Pedoman Haji dan Umroh yang diterbitkan Ditjen Bimas dan Urusan Hajji- Kemenag RI. Dalam buku tersebut, cukup lengkap diterangkan segala ketentuan persyaratan rukun dan sunnah, landasan hukum dan riwayat (sejarah) serta tata cara melaksanakan rukun haji, terutama tawwab, sai (bukit saffah-marwah) dan wukuf di padang Arafah dan melempar jumrah di Mina dll.

Baca :  Menag: Kuota Haji 221 Ribu, Tidak Ada Pembatasan Usia

Agar ibadah haji mabrur, yang menjadi idaman Calhaj. Makanya kehutuhan ilmu- ilmu-pengetahuan beribadah hajji dan umrah harus dipahami jauh hari sebelum berangkat ke tanah suci, dipraktikkan atau diamalkan dengan ikhlas-ikhlas karena Allah SWT.

Dengan menyaksikan wukuf di padang “pasir” Arafah, dimana kita tinggal sementara waktu di tenda-tenda sesuai maktabnya. Pada saat wukuf, kita selalulah bertafakkur dan banyak berzikir kepada Allah SWT, sehingga bisa merenung, menarik pelajaran dan hikmah dalam dinamika kehidupan ini serta bertaubatan nasuha, dengan banyak beristighfar. Jika khusuk berdoa, boleh jadi air mata kita menetes dan berlinang di pipi, mengingat dosa-dosa yang pernah diperbuat selama ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *