“The Circular Economy” dan Peran SG – CEO Kencana Group

0
Apendi Arsyad, Kasih, Sayang, Ibu
Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, MSi (Pendiri-Dosen Assosiate Profesor pada Prodi Agribisnis UNIDA Bogor, Konsultan dan Aktivis Ormas di Bogor)

Dr. Apendi Arsyad

Terima kasih informasinya add Dr. Ahmad Mukhlis Yusuf (AMY) untuk kesekian kalinya telah memposting ide2 segar di WAG alumni Sanggar Felicia (SF) IPB University, kali ini tentang konsep Sirkulasi Ekonomi (The Circular Economy=the CE) yang begitu menarik kita diskusikan agar kita paham dengan baik dan benar apa dan bagaimana the CE serta manfaatnya untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) di dunia saat ini.

Berbicara mengenai the CE tersebut, saya menjadi teringat dengan tugas2 akademik yg sedang dilakukan di kampus sebagai Dosen, yg cukup lama mengasuh dan mengajarkan apa dan bagaimana tentang Pembangunan Pertanian Berkelanjutan (Sustainaible Agriculture Development/SAD) dan usaha pertanian yang ramah lingkungan. Selanjutnya saya juga tiba2 jadi teringat akan sepak terjang sahabat Sanggar the Feliciano (SF) kita Ir.Sonson Garsoni (SG) di Bandung, Jawa Barat, yang sudah lama menekuni dan berjuang mengembangkan konsep dan aplikasi SAD ini dalam dunia bisnis dan sosio-enterpreunernya, yang menurut pendapat cukup berhasil.

Dalam kesempatan ini izinkan saya menarasikan tentang hal2 yg saya ungkapkan diatas, agar lebih jelas detailnya tentang apa dan bagaimana The CE ?; dan narasi mengenai kiprah sahabatku Ir.SG, CEO Kencana Grup secara singkat.

Oh ya “the Circuler Economy” (the CE) yang telah diposting adinda Dr. AMY itu adalah salah satu topik dari materi kuliah Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan (SDAL) yg saya ajarkan melalui aktivitas perkuliahan dan praktek kepada para mahasiswa Semester 5 pada program studi Agribisnis Faperta Universitas Djuanda Bogor, sebuah Universitas yang saya dirikan bersama kawan2 pada thn 1986. Kegiatan perkuliahan sudah berjalankan cukup lama, dan telah berlangsung hampir 2 dasa warsa bahkan lebih, sehingga semua orang semakin sadar bahwa supply SDAL semakin terbatas (limited), sedangkan demand manusia terus meningkat, seiring bertambahnya populasi dan selera masyarakat moderen. Saat ini kita berada dalam situasi ancaman krisis pangan dan energi akibat kelangkaan sumberdaya alam (scarcity of natural resources). Oleh karena itu, mindset dan pola budaya kita sudah harus berubah, diantaranya menerapkan konsep the CE, SAD dan SD di lingkungan keseharian kita.

Senang juga mempelajari dan mengajarkan ilmu pengetahuan SAD ini, dan saya begitu menjiwai dan dipraktekan dalam keseharian. Hal ini saya buktikan dalam kegiatan proses daur ulang (pengkomposan), yang telah berjalan selama ini di pekarangan rumah saya yg “hijau” dan sempit, tapi penuh dengan berbagai tanaman hijau dan berbunga (small green park). Sedangkan di belakang rumah ada tanah tidak begitu luas (sempit) saya tanami pisang dan sayur2an, dimana pupuk komposnya saya ambil dari dedauan2 pepohonan (material organik) yg gugur berserakan di halaman pekarangan berasal dari beberapa jenis vegetasi yg ada seperti pohon Salam, Belimbing, Mangga, Beringin, Bongenvile, Mawar, dll. Itulah salah satu agenda pekerjaan sehari-hariku, dengan menyapu sampah dedaun sekaligus berolahraga utk bisa badan berkeringat agar tetap bugar dan sehat di pagi hari. Di belakang rumahku ada beberapa pohon pisang Kepok baik jenis berukuran kecil dan besar, yang diberi pupuk kompos dari material dedaunan. Dan alhamdulillah tanaman pisang tersebut selalu menghasilkan buahnya yg enak secara berkelanjutan. Saya pun bisa hidup berbagi (bersedekah) buah pisang dengan para tetangga, teman sejawat, mantan dosen yg sudah sepuh aku antar ke rumahnya, dan para dunsanak dekat. Mereka bisa diakses agar menikmati pisang organik tsb dalam rangka merawat silaturrahmi, alhamdulillah wasyukurillah bisa terlaksana.

Baca :  Lesson Learn Bupati Nganjuk dan Harapan kepada Kaban Riau, Jakarta

Menarik sekali memang, kita membicarakan dan memahami konsep the CE tsb yang prakteknya sehari-hari dalam kehidupan sosial cukup menantang tapi memiliki multi purpose and multi utilities. Seandainya pola pikir (mindset) the CE tsb menjadi budaya masyarakat kita, dan diamalkan setiap manusia Indonesia akan berdampak positif terhadap sistem pengelolaan lingkungan yg sehat dan bersih (zero waste or minimize residual management) dan juga penghematan (efisiensi) penggunaan material dari sumberdaya alam dan jasa2 lingkungan di muka bumi dan diatas langit yg merupakan ciptaan dan karunia Allah SWT.

The CE model, best practices jika bisa diimplementasikan, maka perwujudan lingkungan hidup ug sehat dan bersih serta cita2 meraih masyarakat adil dan makmur tidak terlalu sulit dicapai. Seperti yang kita alami saat ini begitu banyak bencana alam dan pencemaran lingkungan (eksternalitas negatif), karena kita belum bahkan tidak melaksanakan the CE model di lingkungan pemukiman-perumahan kita, seperti pengelolaan sampah dan limbah terpadu, zero waste, pembuatan kompos, coastal and marine zone management, mematuhi hukum tata ruang pembangunan, etc.

Dengan konsep dan aplikasi “The CE Culture” bumi dan langit (atmosfer) kita tidak terlalu berat memerima tekanan limpahan limbah (waste) dari proses konsumsi rumah tangga yg berlebihan (over consumtion, moral hazard, keserakahan), dan kegiatan industri yg mencemari di tanah, air dan udara kita, sehingga bumi dan langit kita menghadapi problem2 besar, yang sangat menghawatirkan dan krisis ekologis yg kita hadapi saat ini tengah terjadi begitu parah, seperti pencemaran lingkungan (baik tanah, air dan maupun udara), penyusutan sumberdaya alam yang tidak dapat pulih (unrenewable natural resources deplation), kepunahan flora (vegetasi, aneka tanaman) dan fauna (hewan, binatang dan biota laut) yang terus berkurang dan hilangnya keanekaragaman hayatinya (biodiversity) di bumi ini, etc. Padahal SDAL itu adalah sumber utama kehidupan dan kemakmuran bersama rakyat dan ummat manusia, yang seharusnya wajib kita jaga kelestariannya. Ingat !, pasal 33 UUD 1945 telah mengamanatkan kepada kita semua bangsa Indonesia, bahwa bumi dan air beserta kandung-isi di dalamnya dikuasai negara, yang digunakan hanya untuk kemakmuran rakyat sebesar-besarnya, bukan untuk kaum oligarki, para konglomerat (orang perseorangan) para taipan dan cukong2 seperti yg terjadi saat ini.

Pola budaya berbasis the CE mempengaruhi perilaku setiap individu masyarakat akan mendukung misi pembangunan berkelanjutan (sustainable development/SD). SD didefinisikan suatu upaya pembangunan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengabaikan kebutuhan generasi yang akan datang anak-cucu kita. SD sudah dirumuskan, disepakati para Pemimpin dunia di sejumlah World Summit dibawa kendali PBB, dan menjadi agenda pembangunan di abad ke 21 (millenial era), bersifat mengikat serta harus dijalankan oleh setiap negara anggota PBB, termasuk Indonesia.

Pembangunan Berkelanjutan (SD) telah memiliki sebanyak 17 agenda strategis, yg harus dilaksanakan Pemerintah bersama masyarakatnya di era millenial sekarang ini, untuk mencapai sejumlah target, yg disebut Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yang bermuara pada kesejahteraan dan kemakmuran bersama (social well being). Salah satu buku yg membahas topik the CE yang cukup menarik adalah Economics of Natural Resourse and The Environment by David W Pearce and R.Kerrey Turner (1990), khusus Chapter 2. The Circular Economy (CE) merupakan diskusi pendahuluan yg terpenting dari sejumlah implikasi interaksi ekonomi dan lingkungan dalam konsep bagaimana ekonomi itu berkerja yg muncul menjadi suatu sistem yg linear (p=product, c=consumption, u=utility (walfare).

Baca :  Kapolresta Bogor Urang Kita Kuansing

The CE diberi pengertian sebagai sebuah model keseimbangan material, yang mampu mengidentifikasi 3 fungsi ekonomi lingkungan sekaligus yaitu sebagai penyedia sumberdaya, pengasimilasian limbah (amenities) dan pemanfaatan langsung sumberdaya barang dan jasa-jasa ( as a direct source of utility). Ketiga fungsi ekonomi lingkungan ini semuanya akan bernilai dan berharga positif (positive price): jika kita transaksi (jual-beli) dilakukan dalam suatu lokasi pasar yg mereka buat semua harganya positif, tidak ada yang terbuang melalui hasil rekayasa green technology (Pearce and Turner, 1990). Green technology dapat dikerjakan melalui teknik 5 R (reduce, reuse, recycle, recover and repair), sehingga membawa dampak eksternalitas positif dan positive price bagi para pemangku kepentingan jasa-jasa lingkungan (environment services of stakeholders).

Setiap bidang dan semua sektor pembangunan nasional seharusnya sudah mengacu pada konsep dan praktek SDGs tsb, yang tercermin dalam pelaksanaan setiap program dan kegiatan (proyek) Pemda dengan Dinas2/SKPDnya.
Di sektor pertanian kita nengenal konsep dan aplikasi Pembangunan Pertanian Berkelanjutan (Sustainable Agricultural Development/SAD) sebagai perwujudan dan implementasi SD-Agenda 21 untuk mencapai SDGs.

Sebenarnya, begitu banyak model2 dan sistem aplikasi atau praktek2 SAD yg telah diupayakan di berbagai lingkungan sosial masyarakat Indonesia oleh para pemangku kepentingan (stakeholders) SAD seperti sistem pertanian organik (organic farming), sistem pertanian terpadu (integrated agriculture management) di bidang budidaya tanaman, perkebunan, peternakan- perikanan dengan kolam ikan-kandang ayam (“longyam”); sistem pengolahan limbah; sistem pertanian masukan luar rendah (low external input sustainable agriculture/LEISA); sistem pengendalian hama terpadu (integrated pest management), pola terasering dengan aneka tanaman dan hortikultura di lereng perbukitan, etc. Agar lebih jelas konsep model2 SAD disarankan bisa dibaca buku “Sistem Pertanian Berkelanjutan” ditulis oleh Karwan A Salikin, 2003, penerbit Kanisius Jogyakarta).

Sebenarnya pihak Kementan RI sudah membuat kebijakan dan program sektor pertanian “Go Organic Farming” dideklarasikan sejak tahun 1990an, dan pada tahun 2010 yang lalu Indonesia diharapkan negara kita sudah menjadi sentra produk pertanian organik terbesar dunia. Hal ini cukup realistik dan beralasan karena ditinjau dari sisi supply dan demand negara kita memiliki potensi sumberdaya yg besar, kaya-raya dengan sumberdaya hayati (megabiodiversity) flora dan fauna, lahan pertanian yg sangat luas, dan ketersediaan tenaga kerja yg besar. Saya pun tidak mengetahui persis apakah itu targetnya tercapai atau tidak? wallahu’alam bissahab. Saya kira publik tahu sukses atau gagalnya program organic farming nasional tsb, yang pernah direncanakan bisa tercapai thn 2010 yang lalu.

Ambisi Indonesia untuk menjadi the firts class of organic farming in the World (produsen organik pertanian terbesar di dunia) sangat masuk akal. Beberapa alasannya bahwa NKRI memiliki potensi besar untuk usaha organic farming baik ditinjau dari sisi persediaan (supply site) potensi SDAL yg kaya dan melimpah, dan sisi permintaan (demand site) karena berpopulasi penduduk terbesar nomor 4 di dunia. Selain itu Indonesia juga memiliki kekayaan sumberdaya hayati, berkat kemurahan Allah berupa mega biodiversity dengan alam tropika; Indonesia memiliki lahan yg masih luas dengan aneka agroklimat dan lokalita spesific; Indonesia memiliki sumberdaya manusia (SDM) yang banyak untuk bekerja namun harus disiapkan, dididik menjadi pelaku pertanian yg handal dan tangguh melalui kegiatan2 diklatluh Kementan yg tepat sasaran dan berkelanjutan; dan penduduk Indonesia yg berpopulasi besar dengan kelas menengahnya semakin meningkat dan berpenghasilan tinggi sebagian besar punya kesadaran dan peduli untuk mendapatkan makanan sehat dan bergizi, terutama tanaman pangan, peternakan dan perikanan, etc. Termasuk peluang ekspor untuk memenuhi kebutuhan produk pertanian organik di negara2 maju terbuka lebar, sehingga bisa mengungkit ekonomi perdesaan kita, dan meningkatkan serta menghemat devisa negara kita. Bukan seperti sekarang situasi “Indonesia Paradoks” yg pernah saya tulis, yang banyak (jor-joran) mengimpor berbagai komoditas sayur2an dan buah2an (hortikultura) dan termasuk daging dari negara2 produsen lainnya. Akibat masih kuatnya pengaruh dan cengkraman “mapia pangan” dalam tata niaga komoditas pangan strategis di negeri ini. Hal ini juga sebagai pertanda masih gagalnya pelaksanaan program ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia, yg telah menjadi misi besar regim Pemerintahan yg berkuasa (the ruling party), khususnya Kementan RI.

Baca :  Pelurusan Sejarah Kuansing

Kesemua faktor yang disebutkan tersebut diatas, sungguh amat menjanjikan untuk mempercepat berkembangnya usaha2 pertanian organik (organic farming) di Indonesia, prospek bisnisnya sangat baik, bankable dan menguntungkan (profitable).

Apa2 yang telah dikerjakan sahabat alumni Sanggar Felicia IPB kita ini, yaitu CEO Dr (HC).Ir. Sonson Garsoni, dengan menggunakan merek dagang Kencana Group Bisnis dan Konsultannya, saya mendengar telah banyak mengembangkan produk2 green technology Alsintan 3-R (reduce, reuse and recycling) termasuk kinsep “The Sawah Fortable”nya yg tengah dipromosikan di era pandemi Covid 19 untuk memperkuat ketahanan pangan di dalam keluarga dengan pemanfaatan ruang di sekitar rumahnya. Menurut pendapat saya, akang Ir. Sonson dkk sahabatku ini telah berperanserta dalam mendukung SAD di Jawa Barat bahkan mungkin Indonesia, insyaAllah bisa mendunia.

Usaha dari teman2 di Kencana Grup Bandung itu, merupakan kerja2 yang begitu mulia untuk menyelamatkan lingkungan dan memperbaiki nasib kaum tani Indonesia yang masih marginal, serta memiliki prospek bisnis yg sangat baik dan bisa meraih keuntungan yg optimal. “The Sawah Portable” Kencana Group tsb, simpulan saya telah mengundang dan mengandung banyak manfaat ditinjau dari aspek ekonomi, ekologi dan ekososial yg elemennya saling berkaitan satu sama lainnya untuk terwujudnya sustainability development pada semua negara di dunia ini, tentunya termasuk Indonesia.

Apa2 yg telah dikerjakan SG, CEO The Kencana Grup Konsultan Bandung Jawa Barat sudah belasan tahun lamanya, diharapkan berkontribusi positif untuk mewujudkan sasaran SDGs di Indonesia. Hal ini sudah sepatutnya kita berikan appresiasi yg tinggi, dan salut buat kang Ir. Sonson yg telah bekerja keras, tekun dan profesional untuk mewujudkan ambisi dan cita2 mulianya membangun Indonesia kini dan masa depan yg gemilang.

Selamat dan sukses kang Ir.Sonson-Asgar Alumni SF IPB sbg pebisnis yg kreatif dan inovatif, yg semasa mahasiswa kami pernah satu asrama di Felicia IPB Sempur No. 20 Kota Bogor pada thn 1981-1985. Ir.Sonson teman diskusi kami yang serius dan handal (berbakat sbg konseptor, pemikir) dalam setiap kegiatan Focus group discussion (FGD) yang diselenggarakan Folapmi SF IPB yang pernah saya Ketuai, he… he….he maaf numpang noltalgia sejenak.

Demikian narasi singkat saya dalam rangka membangkitkan kesadaran akan pentingnya pembangunan pertanian berkelanjutan (SAD), dan appresiasi buat sahabat2ku yang berperilaku ramah lingkungan, dan mudah2an bermanfaat. Semoga Allah SWT memberkahi dan neridhoi amal usaha2 kita. Amin3 YRA. Wassalam.

Dr.Ir.H.Apendi Arsyad.MSi (Pendiri-Dosen/Assosiate Profesor pada Prodi Agribisnis Faperta Universitas Djuanda Bogor; Konsultan manajemen SDAL dan Aktivis Ormas di Bogor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here