Oleh: Dr Apendi Arsyad
Terima kasih atas respon Tetehku Ny. kang Dayat (istrinya alm. Prof. Hidayat Syarif) atas respon terhadap tulisan saya berjudul “Inmemorial alm Prof. Dr. Ir. H. Hidayat Syarif L, MSc,” seniorku di HMI, Kahmi dan ICMI Bogor, beberapa waktu lalu.
Apa yang telah Teteh pikirkan dan niatkan dinarasikan agar terus menjadi ibu yang baik bagi anak2 beserta cucu-2nya, saya senang membacanya. Demikian itu adalah sikap yang sangat tepat dan terpuji. Kita harus bertekad untuk selalu mendampingi dan mengawal anak2 kita keseharian hidup mereka, agar berjalan pada rel yang benar (on the track), jangan sampai tersesat atau salah jalan. Kita harus berusaha memberikan arahan dan nasehat-2, agar melahirkan generasi yang kuat dan cerdas serta berahklaq mulia yang membahagiakan orangtuanya.
Dengan kata lain sebagai orang tua hendaknya kita selalu berusaha mencetak anak, cucu dan cicit menjadi kader yang bermanfaat bagi keluarganya, masyarakat/ ummat, bangsa, dan negaranya di sebagaimana yang telah dicontohkan oleh senior saya, suami Teteh almarhum Kang Dayat yang sukses dalam hal kehidupan, berkarier sbg guru/dosen/GB, ilmuan, pejabat negara dan kepala keluarga. Pilihan Teteh untuk menjadi ibu yang baik bagi keluarganya, setelah suami tiada, sekali lagi itu adalah sikap mulia dan momentumnya sangat tepat, merupakan pilihan cerdas.
Dengan sikap Teteh ingin menjadi seorang ibu yg sukses mengayomi keluarga, mau dan mampu mendidik, mengajar dan mengajar anak-2nya berikut zuriatnya adalah sebuah karakter yg terbaik dan terpuji. Sikap ibu yang beginilah yang sebenarnya menjadi tumpuan harapan, keinginan dan kebutuhan untuk membangun sebuah keluarga yang penuh kasih dan sayang (sakinah mawaddah warohmah=Samarah).
Dengan sikap Teteh demikian itu, mengingatkan saya kepada seorang sosok ibundaku yang malang Hj. Darana binti Djamin (106 thn) seorang janda yang juga ditinggal suami yang dicintainya, ayahku H. Arsyad bin Kahar wafat pada Selasa malam tgl 21 Maret 1971 di Desa Kampung Baru Kec.Cerenti Riau.
Saya punya pengalaman hidup apabila kita bicara sosok ibu berstatus janda tersebut, dimana saya telah memperoleh manfaat yg luar biasa dari seorang sosok dan vigur ibundaku yg berstatus janda yang luar biasa, kreen dan heubat serta mantap betul (mantul) istilah generasi milenial zaman now.
Izinkan saya bernarasi singkat soal ini.
Saya terlahir dari keluarga dengan tingkat kehidupan yg sedikit kurang beruntung. Berbeda sekali nasibnya dengan kawan2ku di masa kecil, mereka teman2ku di masa remajanya memiliki ayah dengan hidup normal.
Di usiaku sekitar 11 thn, waktu itu masih duduk di kelas 2 SD dan saya sangat disayang ayahku, sering juga ditimang-timang, diajak tamasya ke kota, dan dimanja, ayah kandungku H.Arsyad Kahar berpulang kerahmatullah. Memang berat jika ditinggal orang dicintai, begitulah nasibku doeloe. Saya pun menjadi anak yatim, miskin dengan hidup sehari-hari penuh dgn keprihatinan, termasuk persoalan ketersediaan bahan makan dan lauk-pauk di rumah, serba terbatas. Sekali-kali muncul rasa iba, kasihan dan kesedihan melihat ibu sedang berjuang memenuhi kebutuhan dan nafkah keluarga, dilakukannya praktis sendirian (single parent). Untuk.meringankan beban ibuku, aku sering membantu ibu berjualan di pasar, membantu pekerjaan di sawah dan ladang (kebun), dan bergembala ternak (ayam, kambing dan sapi), serta mencari ikan di sungai Kuantan untuk menambah penghasilan keluarga (household income).
Kondisi kehidupan keluarga kami, memang saat itu sangat sulit (elit=ekonomi sulit) setelah kehilangan sosok seorang ayah yg amat kami hormati, sayangi dan dibutuhkan kehadiran di tengah2 keluarga, telah pergi untuk selama-lamanya, sedih sekali hati ini, berbulan-bulan lamanya wajah ayahku terbayang-bayang dalam ingatan, dan akibatnya saya pernah jatuh sakit, tapi alhamdulillah bisa sembuh dan saya ikhlaskan kepergian ayah dgn selalu berdoa agar berada di surgajannatunnaim, terutama doa dipanjatkan setelah selesai sholat. Kemudian aku pun bangkit dengan terus bersekolah, penuh semangat belajar, pernah meraih juara umum di SDN dan SMPN serta juara kelas di SMA, hingga berhasil menjadi sarjana (insinyur) dan bahkan pascasarjana, berkat usaha, pengayoman dan doa yang tulus ikhlas dari ibuku tercinta.
Alhamdulillah, Ibuku dimasa hidup sempat menyaksikan langsung aku diwisuda sarjana, magister dan doktor di kampus IPB University Bogor Ketika itu ibuku begitu sangat berbahagianya, dan akupun demikian berbahagia, sebuah kenangan indah yang tak akan terlupakan. Allah SWT telah memberikan nikmatnya kepada kami sekeluarga yang begitu berharga. Ibuku adalah sosok dan vigur yang sukses memanusiakan anak yatim seperti aku, bisa menjadi sarjana yang berguna, insyaAllah berperan sebagai orang terdidik dan terpelajar.
Alm ayah dan ibu, alhamdulillah dikaruniai 10 org anak, kami keluarga cukup besar akan tetapi yang baru berkeluarga hanya 4 orang, dengan kondisi ekonomi yang jauh dari berkucukupan, dimana kakak2ku pada waktu masih hidup pas2an.
Saya melihat ketika saya masih kecil, begitu berat beban ibuku sepeninggalan ayahku. Ayahku bukan pegawai negeri, jadi ibuku
tidak mewariskan dana pensiunan dari ayah. Ayahku tempo doeloe hanyalah seorang pedagang kelas kampung dan juga rajin bertani di sawah dan kebun, beternak serta mencari ikan di sungai. Ayah adalah tulang punggung ekonomi keluarga telah pergi, tetapi alhamdulillah saya dianugerahi sosok ibu yang suka bekerja keras (ulet), ibuku hidup dengan penuh kesabaran dan kesungguhan. Ibuku seorang single parent mendidik dan mengajar anak-2 dan cucu-2nya dalam keluarga.
Alhamdulillah subhanallah ibuku berhasil mengantarkan anak2nya, termasuk saya untuk mencapai tingkat kehidupan yg layak, diantara kami adik beradik ada yg berprofesi pengusaha (saudagar), guru, dosen dan ada yang sukses menjabat di Pemerintahan, adikku pernah menjadi camat Cerenti bertugas di kampung dll. Artinya anak2 ibuku tidak ada terlantar (gembel) hidup miskin dan melarat menjadi beban masyarakat.
Di masa usia sangat lanjut (usia renta), alhamdulillah ibuku Hj.Darana bin Djamin diangerahi umur yang agak panjang hingga 106 thn, dan wafat 23/9-2021 di rumahnya di kampung Desa Kampung Baru Cerenti.
Ibuku setelah “pensiun”, tidak bekerja lagi, banyak tinggal di rumah, rajin beribadah sejak muda dalam menjalankan syariah agama Islam (sholat, tadharus, shaum, berkorban, gemar bersedeqah untuk kaum dhuapah dan anak yatim, etc).
Di rumah Tuonya apabila kami bertemu, kami sempatkan bercengkrama dengannya bersama anak2, cucu2 dan cicit2nya. Kami sebagai anak yg telah “sukses” dibesarkannya sangat menyayanginya, mencintainya dan memuliakan hidupnya.
Jujur saya berkata, walaupun saya hidup di rantau (Ciawi Bgr), sedangkan ibuku di Cerenti.Riau, saya selalu menyempatkan untuk berkomunikasi rutin dengan ibuku untuk meminta berbagai nasehat dan kiriman doa, apalagi di saat saya menemui kesulitan dan cobaan2 dalam kehidupan, ibuku adalah tempat bertanya minta pendapat, tempat curhat dan bersandarku agar tetap berdiri kokoh dan tegar menghadapi segala godaan dan cobaan hidup di perantauan.
Sosok ibuku adalah segalanya bagiku, saya terus menjaga kebutuhan hidupnya sehari-hari bersama kakak dan adikku yang merawatnya, apa dia mau untuk makan enak-bergizi atau berpergian bersenang-senang, kami wajib melayani apa yang beliau perlukan. Demi membahagiakan ibuku dalam hidupku tidak ada kata tidak, no money and no time, buat ibu always ready. Jika ibuku perlu perhatian dan bertemu di rumah, segala kesibukan tugas-2 dan pekerjaan wajib saya tinggalkan demi ibuku. Kami sangat memuliakan ibu kami yg telah berusia renta agar beliau selalu hidup senang dan berbahagia. Ibu adalah ladang amal sholeh, kami sadar akan ajaran etik dan moral itu sebagaimana firman Allah dalam Al Quran.
Ibuku adalah sumber kebahagiaan dan keberhasilanku, itu fakta bukan fiksi. Alhamdulillah saya beserta istri dan ketiga orang anakku begitu mendapat nikmat, senang dan berhahagia apabila bertemu ibuku, nenek (ino) mereka. Setiap ada acara keluarga besar the Arsyad Family yang penting di kampung Cerenti spt resepsi perkawinan anak kemenakan di Cerenti Kuansing saya berusaha bisa pulang sambil menjenguk ibuku.
Jika hari lebaran idul fitri dan atau idul adha, saya dan keluarga pulang (baliak) ke kampung untuk bersembah sujud di pangkuan dan kaki ibuku. Apalagi ada peristiwa duka, sakit dan atau kematian sanak keluarga saya berupaya keras untuk bisa pulang ke kampung dan alhamdulillah bisa sekaligus bertemu ibuku yg sdh lansia renta menghabiskan hari tuanya di desanya, sangat mengharapkan kehadiran anak kesayangannya.
Jujur saya berkata, ketika bertemu ibuku di rumahnya di desa/ kampung, begitu senang dan berbahagia hati ini, perasaan lega. Kebiasaanku jika bertemu ibuku, aku bersalaman dengan mencium tangannya, mencium kening dan pipinya, serta bahkan saya cium kedua belah ujung kakinya. Rasa kasih sayang dan perasaan rindu dgn ibuku tercurahkan, linangan airmata kebahagiaan pun mengalir dan membasahi pipiku. Begitupun istri dan anakku ikut merasakan kebahagiaan apabila bertemu dengan ibuku. Saya tatap wajah ibu dengan penuh kasih sayang, ibuku juga merasakan kebahagiaan bertemu anaknya saya, menantu dan cucu2nya, serta lama menahan rindunya.
Alhamdulillah ibuku di hidup hari tuanya sehat walaaffiat, sepengetahuan saya ibuku tidak pernah dirawat inap di rumah sakit, pikiran dan perasaannya masih sangat normal, penglihatan normal sehingga bisa membaca kitab suci Al Quran berhuruf kecil tanpa kacamata. Walaupun ibuku sedikit agak pikun karena faktor usia, terkadang banyak lupanya, ibu bertanya berulang-ulang dgn cucunya ketika kami lama mengobrol. Untuk menghadapinya kami pun ikut bersabar mendengar dan menjawabnya, sehingga kami sekeluarga bisa berkomunikasi dengan baik dengan beliau pada batas2 tertentu.
Selanjutnya kami juga bercengkrama, melucu, dan terkadang kami meminta kepada ibuku untuk bercerita tentang sejarah keluarga di masa lalu, sejarah pola kehidupan masyarakat di kampungku tempo doeloe (zaman Belanda dan penjajahan Jepang dan awal kemerdekaan, sunhanallah ibu masih ingat), siapa saja anggota kerabat garis keturunan ayah dan ibu: dimasa mudanya ibu/nenek bagaimana, nenek (ino) bertemu datuk kapan, dimana dan bagaimana dll pertanyaan lucu2 lainnya. Itulah sumber hiburan kami sekeluarga dan kami sungguh berbahagia menikmatinya. Berkat ada keberadaan ibu kandungku yang sdh lansia (tua renta) di tengah keluarga ini, bisa mengisi relung-2 kosong dalam hati dan pikiran kami selama ini.
Kemudian hal yang teramat penting minta nasehat dan doa kepada ibuku, agar kami yang tengah menjalani hidup ini selamat baik dunia maupun akhirat.
Demikianlah narasi singkat tentang begitu besarnya manfaat keberadaan ibu lansia (tua renta) yang ada tengah-2 keluarga kita yang bahagia, dan saling berkasih sayang (sakinah mawaddah warohmah) antar sesama. Semoga kita bisa menarik pelajaran (lesson learned) dari cerita ini untuk menjaga dan merawat ibu2 kita yang berusia lanjut (renta), karena itu merupakan sumber kebahagiaan dan keselamatan kita baik di dunia, insyaAllah di akhirat kelak.
Penulis adalah Dosen, Konsultan K/L, Pegiat dan Pengamat Sosial





