Oleh: Ferdinandus Wali Ate
Aku melangkah kaki menuju ke kota
Aku menjumpai hiruk pikuk kota yang begitu berbeda dengan keadaan awalku beranjak melangkahkan kaki.
Aku Melangkahkan Kaki Sibuknya orang-orang di kota Jakarta dan berbagai macam penjuru disini tempat berkumpulnya.
Aku datang melangkahkan kaki untuk belajar mencari ilmu dan mencari pengalaman di kota.
Aku melangkahkan kaki dan bertemu dengan orang-orang banyak dari kalangan masyarakat maupun kalangan elite politik dan kaum kapitalisme.
Aku Melangkahkan kaki Disini aku belajar banyak hal kudapatkan dan sedikit kecewaan.
Aku melangkahkan kaki sambil menikmati pemandangan kota yang begitu megah dan berkemilau.
Aku Melangkahkan Kaki Seakan berada di atas surganya-surga.
Aku melangkahkan kaki sambil merongrong kedengaran suara-suara kebisingan teknologi canggih dan mesin pabrik di mana-mana.
Aku melangkahkan kaki seakan kaum miskin di jadikan alat permainan politik dan para elite terus beradu domba. Seperti mengakambing hitamkan.
Aku melangkahkan kaki melihat situasi kota seperti lembah jurang kematian.
Aku melangkahkan kaki di negeri pertarungan hitam putih.
Aku melangkahkan kaki oh negeriku Indonesia telah berduka cita.
Aku Melangkahkan kaki cerita petani dari ladang ke ladang menjadi sorotan publik dan media seakan acuh tak acuh.
Aku melangkahkan kaki… oh Indonesia miskin demokrasi dan kriminalisasi, rasisme di mana-mana serta korupsi yang mengotori bumi Pertiwi.
Aku melangkahkan kaki jeritan rakyat terus tertindas, hukum yang tumpul di kota negeri ini.!!!
Aku melangkahkan kaki politik busuk menyengsarakan masyarakat kecil.
Puisi Cipt : Ferdinandus Wali Ate
[Menteri Luar Kampus BEM KBM UNPAK. Aktivis Mahasiswa Universitas Pakuan, Jurusan Farmasi, Asal Nusa Tenggara Timur (Sumba Barat Daya)]





