Radikalisme dalam Framing

0

Oleh : Teddy Khumaedi

 

Istilah radikalisme berasal dari bahasa Latin “radix” yang artinya akar, pangkal, bagian bawah, atau bisa juga berarti menyeluruh, habis-habisan dan amat keras untuk menuntut perubahan.2 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, radikalisme adalah paham atau aliran yang menghendaki perubahan sosial dan politik dengan cara menggunakan tindakan kekerasan sebagai batu loncatan untuk menjustifikasi keyakinan mereka yang dianggap benar. Dari sini radikalisme bisa dipahami sebagai paham politik kenegaraan yang menghendaki adanya perubahan dan revolusi besar-besaran sebagai jalan untuk mencapai taraf kemajuan yang signifikan. Definisi ini cenderung bermakna positif karena bisa melahirkan kemajuan besar bagi peradaban dunia. Adanya pandangan positif dan negatif terhadap muculnya gerakan radikalisme sangat bergantung kepada keyakinan dasar penganutnya. Pengertian lain mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan radikal atau radikalisme itu adalah prinsip-prinsip atau praktik-praktik yang dilakukan secara radikal. Suatu pilihan tindakan yang umumnya dilihat dengan mempertentangkan secara tajam antara nilai-nilai yang diperjuangkan oleh kelompok (aliran) agama tertentu dengan tatanan nilai yang berlaku atau dipandang mapan pada saat itu.

Kata radikal juga diartikan sebagai keberpihakan, kecondongan, mendukung pada satu ide pemikiran saja, satu kelompok, atau suatu ajaran agama secara penuh dan bersungguh-sungguh serta terfokus pada suatu tujuan serta bersifat reaktif dan aktif. Secara harfiah, radikalisme atau fundamentalisme tidak memiliki sesuatu yang negatif. Namun secara etimologi, radikalisme dan fundamentalisme telah mengalami penyempitan makna yang bermakna negatif. Pada dasarnya, perlu dibedakan antara radikal, radikalisme dan radikalisasi. Menurut KH. Hasyim Muzadi (mantan Ketua PBNU dan pengasuh pesantren al-Hikam Malang), pada dasarnya seseorang yang berpikir radikal (berpikir mendalam, sampai ke akar-akarnya) boleh-boleh saja, dan memang berpikir sudah seharusnya seperti itu. Katakanlah misalnya, seseorang yang dalam hatinya berpandangan bahwa Indonesia mengalami banyak masalah (ekonomi, pendidikan, hukum dan politik) disebabkan Indonesia tidak menerapkan syariat Islam, oleh karena itu misalnya dasar Negara Indonesia harus diganti dengan sistem pemerintahan Islam (Khilafah Islamiyyah). Pendapat yang radikal seperti itu sah-sah saja.

pemikiran, tidak akan menjadi persoalan publik. Sebab pada hakikatnya, apa yang muncul dalam benak atau pikiran tidak pikiran tidak dapat diadili (kriminalisasi pemikiran) karena tidak termasuk tindak pidana. Kejahatan adalah suatu tindakan (omissi). Dalam pengertian ini, seseorang tidak dapat dihukum hanya karena pikirannya, melainkan harus ada suatu tindakan.

Kemudian KH. Hasyim Muzadi mendefenisikan radikalisme adalah radikal yang sudah menjadi ideologi dan mazhab pemikiran. Dalam pandangan peneliti, setiap orang berpotensi menjadi radikal dan penganut paham radikal (radikalisme), tergantung apakah lingkungan (habitus) mendukungnya atau tidak. Sedangkan yang dimaksud dengan radikalisasi, menurut Muzadi adalah (seseorang yang) tumbuh menjadi reaktif ketika terjadi ketidakadilan di masyarakat. Biasanya radikalisasi tumbuh berkaitan dengan ketidakdilan ekonomi, politik, lemahnya penegakan hukum dan seterusnya. Jadi, jangan dibayangkan ketika teroris sudah ditangkap, lalu radikalisme hilang. Sepanjang keadilan dan kemakmuran belum terwujud, radikalisasi akan selalu muncul di masyarakat. Keadilan itu menyangkut banyak aspek, baik aspek hukum, politik, pendidikan, sosial, hak asasi, maupun budaya. Hukum adalah aspek tertentu, sedangkan keadilan adalah akhlak dari hukum itu.

 CIRI-CIRI RADIKALISME

Baca :  Kawal Jokowi, Aktivis 98 Konsolidasi Lawan Radikalisme

Ada lima ciri gerakan radikalisme, yaitu:

Menjadikan Islam sebagai ideologi final dalam mengatur kehidupan individual dan    juga politik ketatanegaraan. Nilai-nilai Islam yang dianut mengadopsi sumbernya (di Timur Tengah) secara apa adanya tanpa mempertimbangkan perkembangan sosial dan politik ketika Al-Quran dan hadits hadir di muka bumi ini dengan realitas lokal kekinian. Karena perhatian lebih terfokus kepada teks Al-Quran dan hadits, maka purifikasi ini sangat berhati-hati untuk menerima tradisi lokal karena khawatir mencampuri Islam dengan bid’ah. Menolak ideologi non-Timur Tengah termasuk ideologi barat, seperti demokrasi, sekularisme, dan liberalisme. Segala peraturan yang ditetapkan harus merujuk pada Al-Quran dan hadits

Gerakan kelompok ini sering berseberangan dengan masyarakat luas termasuk pemerintah. Oleh karena itu terkadang terjadi gesekan ideologis bahkan fisik dengan kelompok lain termasuk pemerintah.

FAKTOR PENYEBAB RADIKALISME

Baca :  Tangkal Radikalisme, ADMI Ajak Masyarakat Istigosah

Syamsul Bakri, dosen peradaban Islam STAN Surakarta, membagi faktor pendorong munculnya gerakan radikalisme kedalam 5 (lima) faktor.

Faktor-Faktor Sosial-Politik

Gejala kekerasan “agama” lebih tepat dilihat sebagai gejala sosial politik daripada gejala keagamaan. Gerakan yang secara salah kaprah oleh Barat disebut sebagai radikalisme Islam itu lebih tepat dilihat akar permasalahannya dari sudut konteks sosial-politik dalam kerangka historisitas manusia yang ada di masyarakat. Sebagaimana diungkapkan Azyumardi Azra bahwa memburuknya posisi negara-negara muslim dalam konflik utara-selatan menjadi penolong utama munculnya radikalisme. Secara histori, kita dapat melihat bahwa konflik-konflik yang ditimbulkan oleh kalangan radikal dengan seperangkat alat kekerasannya dalam menentang dan membenturkan diri dengan kelompok lain ternyata lebih berakar pada masalah sosial-politik.

Faktor Emosi Keagamaan

Harus diakui bahwa salah satu penyebab gerakan radikalisme adalah faktor sentimen keagamaan, termasuk di dalamnya adalah solidaritas keagamaan untuk kawan yang terindas oleh kekuatan tertentu. Tetapi hal ini lebih tepat dikatakan sebagai faktor emosi keagamaan, dan bukan agama (wahyu suci yang absolut) walaupun gerakannya radikalisme selalu mengibarkan bendera dan simbol keagamaan seperti dalih membela agama, jihad dan mati syahid. Dalam konteks ini yang dimaksud dengan emosi keagamaan adalah agama sebagai pemahaman realitas yang sifatnya interpretatif (nisbi dan subjekif).

Faktor Kultural

      Faktor ini juga memiliki andil yang cukup besar yang melatarbelakangi munculnya radikalisme. Hal ini wajar karena memang secara kultural, sebagaimana diungkapkan Musa Asyari bahwa di dalam masyarakat selalu diketemukan usaha untuk melepaskan diri dari jeratan jaring-jaring kebudayaan tertentu yang dianggap tidak sesuai. Sedangkan yang dimaksud fakor kultural disini adalah sebagai anti terhadap budaya sekularisme. Budaya Barat merupakan sumber sekularisme yang dianggap sebagai musuh yang harus dihilangkan dari bumi. Sedangkan fakta sejarah memperihatkan adanya dominasi Barat dari berbagai aspeknya atas negeri-negeri dan budaya muslim. Peradaban Barat sekarang ini merupakan ekspresi dominan dan universal umat manusia. Barat telah dengan sengaja melakukan proses marjinalisasi seluruh sendi-sendi kehidupan muslim hingga umat Islam menjadi terbelakang dan tertindas. Barat, dengan sekularismenya, budaya-budaya bangsa Timur, dan Islam juga dianggap bahaya terbesar dari keberlangsungan moralitas Islam.

Faktor Ideologi Anti Westernisme

Baca :  Radikalisme Tidak Terkait Agama Tertentu

Westernisme merupakan suatu pemikiran yang membahayakan Muslim dan mengaplikasikan syariat Islam. Sehingga simbol-simbol Barat harus dihancurkan demi penegakan syariat Islam. Walaupun motivasi dan gerakan anti Barat tidak bisa disalahkan dengan alasan keyakinan keagamaan tetapi jalan kekerasan yang ditempuh kaum radikal justru menunjukkan ketidakmampuan mereka dalam memposisikan diri sebagai pesaing dalam budaya dan peradaban. Di dunia Islam, westernisasi berlangsung bersamaan dengan proses dekolonisasi dan kebijakan industrialisasi. Hal ini telah membuat mobilitas vertikal dan horisontal di masyarakat menjadi terbuka dan sebagian elite-elite sosial memilik idealisasi kemajuan model Barat.

Faktor Kebijakan Pemerintah.

Ketidakmampuan pemerintah di negara-negara Islam untuk bertindak memperbaiki situasi atas berkembangnya frustasi dan kemarahan sebagai umat Islam disebabkan dominasi ideologi, militer maupun ekonomi dari negara-negara besar. Dalam hal ini elite-elite pemerintah di negeri-negeri Muslim belum atau kurang dapat mencari akar yang menjadi penyebab munculnya tindak kekerasan (radikalisme) sehingga tidak dapat mengatasi problematika sosial yang dihadapi umat.

Ditulis berdasarkan dari beberapa sumber referensi bacaan

 

Penulis adalah :

Sekretaris Jenderal Pusat Kajian Social Riset & Politic Development

“MADANI INDONESIA”

Wakil Ketua Komunitas Masyarakat Santri “KOMAS” Bogor Raya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here