GAR ITB Menuduh Prof Din Syamsuddin Radikal, Siapa Sebenarnya ?

0
Moeldoko, KAMI, Arogansi, Zaman
M. Din Syamsudin saat mengikuti Deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), di Tugu Proklamasi, Jakarta, pada 18 Agustus 2020.

Oleh: Dr. Apendi Arsyad

Saya baca postingan di beberapa Sosmed (sosial media), antara lain isi pesannya “ada 2000 orang alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Bandung dicatut namanya oleh GAR ITB”. Saya selaku warga yang berkecimpung lk 30 tahun dalam dunia pendidikan tinggi (kampus) di negeri ini merasa terpanggil untuk meluruskan perbuatan-perbuatan sebagaimana yang diberitakan dan viral di berbagai media massa.

Melihat kasus GAR ITB yang memperkarakan Prof Dr Din Syamsuddin/ Ketua KAMI, dengan melaporkan ke aparat Kepolisian Negara dengan tuduhan telah berbuat “radikal”, betul-2 tindakan yang bodoh, konyol dan amoral. Sungguh sesat, menyesatkan dan memalukan bagi mereka yang waras dan berhati nurani.

Kita kaget, prihatin dan bisa “marah”juga atas tuduhan seperti ini. Artinya kebodohannya para penuduh ini, diperlihatkan ke publik bahwa mereka para “oknum” ini, kok mereka tidak mengetahui mendalam mengenai apa dan bagaimana kiprah, pengabdian dan prestasi serta dedikasi Prof. Din Syamsudin terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (NKRI) selama ini.

Yang saya tahu dari perilaku dari Prof. Din Syamsudin, beliau seorang nasionalis-religius sejati, statement-satatementnya di publik ter-refleksi sebagai manusia yang sangat mencintai Indonesia (NKRI) dan landasan berpikir beliau sangat jelas yakni agama dan sains, yang memerintahkan berbuat “amar makruf nahi mungkar”.

Kurang elok juga, jika di WA pada saat ini saya beritahu kepada kawan-kawan, mereka penggerak dan pendukung GAR ITB tentang siapa sebenarnya Prof. Din berdasarkan riwayat hidupnya (curriculum vitae), rasanya terlalu panjang untuk ditulis disini, lembaran kertasnya terlalu banyak jika ditulis lengkap.

Baca :  Radikalisme Tidak Terkait Agama Tertentu

Jadi saran saya sebagai warga Indonesia yang baik, mereka yang ada di “komunitas GAR” ini sebelum bertindak melaporkan Prof Din dengan tuduhan “radikal”, agar belajar lagi (dulu) mempelajari latar belakang seorang tokoh publik yang ada di NKRI, apalagi sosok Prof. Din Syamsudin publik sangat mengenal beliau sebagai vigur pemimpin di masyarakat, bukan saja bereputasi level nasional bahkan internasional (dunia) terutama aktif di forum-forum perdamaian dunia dan artikel-beliau beliau tersebar di sejumlah media massa, dan banyak lagi yang lain.

Perbuatan mereka memperkarakan dan menuduh Prof. Din Syamsudin mantan Ketum PP Muhammadiyah, mantan Ketum Pemuda Muhammadyah, Dosen dan Guru Besar IAIN Ciputat Jakarta, pernah juga beliau aktif di birokraksi Pemerintahan diantarannya sebagai Dirjen di suatu Kementerian, Depnakertrans RI, duta negara/utusan khusus Presiden RI Jokowi untuk perdamaian dunia Islam, etc. Artinya dapat kita simpulkan perbuatan GAR ITB sangat gegabah, ceroboh dan konyol.

Sekali lagi GAR ITB telah memperlihatkan kebodohannya di masyarakat dan dihadapan publik Indonesia.

Jadi sangat logis Ketum DPP Pemuda Muhammadyah saat ini siap menantang dan marah atas sikap merendahkan martabat seniornya. Bahkan masuk di akal juga ada statement yang dikemukakan Menkopolkam RI bpk Prof. Dr. Mahfud MD terpublikasi dan viral di medsos bahwa Pemerintah tidak akan pernah menuduh sosok Prof. Din Syamsudin sebagai “radikal”, dan istilah “radikal”.

Baca :  Radikalisme dalam Framing

Kita sangat dimengerti istilah radikal itu sendiri juga bersifat masih bisa diperdebatkan secara ilmu pengetahuan dan filsafat, tentang apa arti dan makna yang sebenarnya.

Sebenarnya GAR ITB itu bukan saja nama pribadi alumni ITB saja yang telah dicatut,
tapi yang dahsatnya adalah mereka telah mencemarkan nama besar ITB Bandung sebagai institusi Pendidikan Tinggi yang kita kenal terkemuka di Indonesia (excellent high education) dan bahkan ITB itu sudah masuk kelas dunia.

Kita wajar prihatin melihat kelakuan teman-2 yang mencatut nama “ITB” ini, kok untuk urusan “ecek-2” menuduh seorang tokoh nasional dan internasional Prof.Din Syamsudin yg tidak jelas landasan moralnya dan kaidah-2 ilmiahnya, tragisnya mengatasnamakan ITB Bandung lagi.

Saya kira Rektor, Warek, Direktur, Dekan, WMA, Dewan GB dan para Mahasiswa (CIVA) ITB Bandung seharusnya merasa terganggu, tersinggung dan bahkan “marah” atas pencatutan nama-nama 2000 orang alumni ITB untuk perbuatan konyol tersebut.

Menurut saya wajar dan wajib kira Rektor ITB Bandung menertibkan “perbuatan-2 liar”, melanggar kode etik dan tradisi akademik (amoral) seperti ini agar tidak meraja lela perbuatan membawa simbol-simbol pendidikan tinggi, yang visi dan misinya tinggi dan mulia, bukan terjebak dgn urusan ecek-ecek seperti politik praktis etc.

Kita sangat paham bahwa tradisi ilmiah dan integritas pribadi dan kolektif (institusional) dijaga benar-2 dan dikawal ketat di lingkungan Universitas, misalnya jika ada oknum insan kampus (Dosen dan mahasiwa) melakukan plagiat, pimpinan PT akan sigap memprosesnya dan jika terbukti, dijatuhkan sanksi berat kepada pelaku plagiat itu.

Baca :  Radikalisme Menguat, PB HMI Temui Dubes Australia

Jika tindakan sanksi tersebut tidak dilakukan, maka tidak fair kiranya GAR ITB yang telah mencatut nama 2000 orang alumni ITB lebih berat kadar kejahatannya dari perbuatan plagiat, itu diabaikan atau dibiarkan (permisif). Karena pencatutan tersebut, dampak pencemaran nama baik terhadap keberadaab institusi pendidikan tinggi sekelas ITB Bandung sangatlah luar biasa daya rusaknya.

Semoga kasus menyimpang ini menjadi bahan pelajaran berharga dan perenungan kita bersama agar urusan dan kepentingan publik (berbau politik) tidak dicampur adukan (mengintervensi) dengan urusan pendidikan tinggi (berkultur ilmiah) di negeri ini. Dalam arti kata janganlah sistem nilai dan norma-norma agama (Dinulislam), dan falsafah serta ideologi Pancasila dan UUD 1945 yang sangat dijunjung tinggi masyarakat ilmiah direndahkan dengan perbuatan tuduh menuduh radikalisme yang “debatable” dan sarat dengan nuansa politik praktis untuk mengawetkan kekuasaan sebuah regim, ketimbang perbuatan ilmiah untuk menemukan suatu kebenaran.

Sekian dan terima kasih, semoga Allah SWT melindungi dan menolong hamba-hambaNya yang soleh dan gemar berbuat kebajikan dan teguh dalam menegakkan kebenaran Amin-3 YRA.. barakallah.

Penulis adalah Pendiri-Dosen (Assosiate Professor) Universitas Djuanda Bogor, Konsultan K/L, Aktivis Ormas diantaranya: Pendiri ICMI/kini Ketua Dewan Pakar ICMI Orwilsus Bogor dan Sekwanhat MD KAHMI Bogor, dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here