Update Korban Banjir Sentani, dan Tiga Faktor Penyebabnya

0
LEAD.co.id
Banjir Bandang, Sentani, Jayapura

LEAD.co.id | Korban Jiwa akibat banjir bandang di Distrik Sentani, Jayapura, Papua terus bertambah. Hingga Selasa (19/3/2019), pukul 22.50 WIB, total 89 orang yang meninggal, sementara 74 orang masih dinyatakan hilang.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 1.613 personil tim gabungan dari 23 instansi dan lembaga masih melakukan penanganan darurat bencana banjir bandang di Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Jumlah korban terus bertambah mengingat luasnya wilayah yang terdampak bencana, kata Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, kemarin.

Jumlah pengungsi juga terus bertambah. Banyak masyarakat memilih tinggal di pengungsian karena trauma dan takut banjir bandang susulan. Beberapa titik pengungsian juga telah berjubel oleh pengungsi. Tercatat ada 6.831 orang pengungsi yang tersebar di 15 titik pengungsian.

Sutopo mengatakan, dapur umum, pos pelayanan kesehatan dan posko sudah didirikan di beberapa lokasi. Namun masih diperlukan beberapa kebutuhan mendesak seperti MCK, air bersih, permakanan, matras, selimut, pakaian layak, genset, peralatan dapur, psikososial, dan sebagainya.

Baca :  Danrem 061/SK Peduli Warga Terdampak Banjir

Data dampak kerugian dan kerusakan juga terus bertambah seiring masuknya data laporan ke posko. Kerugian sementara akibat bencana banjir bandang di Sentani meliputi 350 unit rumah rusak berat 3 unit jembatan rusak berat, 8 unit drainase rusak berat, 4 jalan rusak berat, 2 unit gereja rusak berat, 1 unit masjid rusak berat, 8 unit sekolah rusak berat, 104 unit ruko rusak berat dan 1 unit pasar rusak berat. Total korban terdampak adalah 11.725 KK yang terdapat di tiga distrik (kecamatan) yaitu Distrik Sentani, Waibu dan Sentani Barat, kata Sutopo.

Kepala Basarnas, Bagus Puruhito juga terus membantu dalam pencarian, serta meningkatkan pencarian korban. “Kami juga membutuhkan peralatan berat (eksavator) untuk evakuasi dan pencarian korban,” teranngnya.

Faktor Penyebab Banjir Bandang Sentani

Berdasarkan pengamatan lokasi, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo menjelaskan tiga faktor penyebab bencana banjir bandang di Sentani, Jayapura, Papua.

Baca :  Presiden Jokowi: Segera Buka Akses ke Daerah Terisolir di Sukajaya

“Pertama karena intensitas curah hujan yang sangat tinggi, berdasarkan laporan BMKG, pada malam kejadian, total debit air mencapai 240 milimeter dan itu tak lazim, biasanya 100 milimeter itu sudah cukup tinggi,” ungkap Letjen Doni usai mengisi Kuliah Umum di Kampus IPB Dramaga, Bogor, Selasa (19/3/2019)

Kedua yakni faktor topografi dari lingkungan pegunungan cycloops di sekitar Sentani berstatus cagar alam dengan kemiringan 60-90 derajat, sampai yang di kaki gunung itu, sekitar 30 derajat. Ketiga, lanjut dia, berdasarkan informasi dari Bupati dan Wali Kota Jayapura, bencana banjir bandang juga disebabkan karena sebagian wilayah (pegunungan cycloops) itu telah dihuni oleh masyarakat tanpa menyadari dampak pembukaan ladang dan kebun serta menggunakan areal cagar alam sebagai tempat hunian itu berdampak negatif terhadap lingkungan.

“Jadi bencana banjir bandang di sentani karena tiga faktor, cuaca curah hujan tinggi, topografi gunung cycloops sendiri, dan perbuatan manusia,” katanya.

Baca :  Bencana Alam di NTT Akibat Cuaca Ekstrem

Adapun menurut Doni, sebagian besar korban meninggal akibat terbawa arus yang berisi kayu-kayu berukuran mencapai 30 meter dengan diameter lebih dari satu meter.

“Dan ini korban yang paling banyak justru sebagian besar berada di daerah aliran sungai. Jadi ketika debit airnya tinggi dengan curah hujan tinggi, tidak bisa terbendung, akibatnya perumahan – perumahan yang berada di dataran rendah, itu semuanya habis kena terjangan air banjir bandang yang disertai lumpur cukup tebal serta juga pasir,” ungkapnya.

Terkait jumlah korban meski pihaknya belum kembali mengupdate, namun diperkirakan akan terus bertambah. “Sebab tadi pagi saya terbang dari Papua pukul 08.45 sampai sekarang saya tidak mendapatkan data terkini. Tapi saya pikir ada kemungkinan bertambah, nanti untuk jumlah korban harus satu pintu sumber yaitu posko,” jelasnya. (BNPB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here