HRW: Militer Myanmar Menghilangkan Paksa Ratusan Orang

0
Militer, Kudeta, Myanmar, Aung San Suu Kyi
Penampakan pasukan militer Myanmar saat di Balai Kota, Yangon, Myanmar, pada Senin, 1 Februari 2021. [File: Reuters / Stringer]

LEAD.co.id | Human Rights Watch (HRW) melaporkan bahwa, Junta Militer Myanmar telah menghilangkan secara paksa terhadap ratusan orang sejak kudeta 1 Februari 2021. Mereka yang hilang di antaranya para aktivis, jurnalis, polisi, dan demonstran di Myanmar.

“Pasukan keamanan telah menangkap banyak orang yang dicurigai berpartisipasi dalam demonstrasi anti-kudeta atau oposisi Gerakan Pembangkangan Sipil selama penggerebekan malam hari di rumah-rumah di seluruh negeri,” ungkap Brad Adams, direktur HRW Asia dalam siaran pers pada Jumat (2/4/2021)

HRW menyebutkan, pihak berwenang Myanmar telah menahan mereka dan menolak untuk mengkonfirmasi lokasi mereka atau mengizinkan akses bagi pengacara atau anggota keluarga.

Menurutnya, Lembaga swadaya masyarakat, Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, telah mengatakan kepada HRW bahwa, mereka hanya dapat memastikan lokasi sebagian kecil dari lebih dari 2.500 tahanan baru-baru ini yang telah mereka identifikasi.

Baca :  Shuttle Diplomacy Indonesia: Konsisten Bersama Rakyat Myanmar

“Penggunaan penangkapan sewenang-wenang dan penghilangan paksa oleh junta militer secara luas tampaknya dirancang untuk menimbulkan ketakutan di hati para pengunjuk rasa anti-kudeta,” kata Brad Adams.

Human Rights Watch mengaku telah berbicara dengan anggota keluarga, saksi, dan pengacara dari 16 orang yang diduga telah dihilangkan secara paksa sejak kudeta.

HRW mengungkapkan, pada tanggal 1 Februari, empat tentara berseragam dan seorang pria berpakaian sipil tanpa surat penangkapan telah menangkap Mya Aye (55) di rumahnya, kota Mingalar Taung Nyunt, Yangon. Mya Aye merupakan seorang aktivis dari Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).

Hingga akhir Maret, pihak keluarga Mya Aye mengatakan bahwa, pihak berwenang masih belum memberi tahu di mana Mya Aye ditahan dan belum memberi akses ke pengacara.

HRW juga mengungkapkan, pada 6 Maret, polisi mendatangi pemakaman pengunjuk rasa yang ditembak mati, menyebabkan mereka yang hadir melarikan diri dengan panik. Saat itu, seorang aktivis terkemuka, Nyi Nyi Kyaw jatuh dan ditangkap polisi.

Baca :  Puluhan Aktivis Perempuan Diserang dan Ditahan di Kirgistan

Teman Nyi Nyi Kyaw mengatakan bahwa, pihak berwenang tidak memberi tahu keluarganya di mana dia berada, dan mereka bersembunyi karena takut akan dijadikan sasaran sebagai anggota keluarga.

Pada 9 Maret, truk militer tiba dan parkir di luar kantor Karmayut Media di Yangon untuk mengambil salah satu pendiri outlet media, Han Thar Nyein (40) dan editor-in-chief, Nathan Maung (45). Keluarga mereka masih belum diberitahu keberadaan mereka.

“Kami sangat cemas tentang di mana mereka berada, dan kami mengkhawatirkan kesejahteraan mereka,” kata anggota keluarga Han Thar Nyein kepada HRW.

Dalam siaran pers yang dipublikasi di laman resminya, HRW juga membeberkan banyaknya teman dan anggota keluarga pengunjuk rasa anti kudeta yang telah ditangkap. Mereka melaporkan kepada HRW bahwa, “tidak tahu persis di mana orang tersebut ditahan”.

Baca :  Demonstran Myanmar Dibantai, Belasan Orang Tewas

Terkait itu, HRW menyatakan bahwa, penghilangan paksa merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional. Jika dilakukan secara sistematis terhadap penduduk sipil, maka itu merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

“Penghilangan paksa adalah kejahatan keji, paling tidak karena kesedihan dan penderitaan yang ditimbulkan pada keluarga dan teman,” kata Adams.

Adams mengatakan, pasukan keamanan Myanmar terus mengabaikan penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM), “tetapi mereka harus tahu bahwa mereka akan dimintai pertanggung-jawaban atas hilangnya orang-orang ini dan untuk pengembalian yang aman dari semua orang yang dihilangkan secara paksa.”

Reporter: M Ikhsan
Editor: Aru Prayogi
Sumber: Human Rights Watch

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here