Oleh: Dr.H. Apendi Arsyad
Oh yo adinda Rahmita terima kasih informasinya, ternyata kita sama2 lulusan (alumni) SMPPN No.49 Kota Pekanbaru/Pku, tetapi berbeda angkatan, dan saya seniornya adinda.
Saya masuk sebagai siswa SMPPN 49 Pku pada thn ajaran 1976/1977 setelah baru lulus dari SMPN Cerenti Kab.Indragiri Hulu, sebelum pemekaran menjadi Kab.Kuantan Singingi thn 1999, dan alhamdulillah lulus SMPPN No.49 Pku pada tahun 1980 agak mundur “korban” kebijakan Mendiknas bpk Dr. Daud Yusuf yahg diundur kira2 satu semester waktu kelulusannya di semua sekolah di tanah air.
Angkatan pertama SMPPN 49 Pku masuk thn 1975, merupakan siswa pindahan dari SMAN No.1 Pku, sedangkan siswa SMPPN 49 yang asli lewat test (murni generasi pertama) sebenarnya adalah angkatan saya dkk, yang diterima masuk pada thn 1976 itu. Kami peserta pendaftaran yang ditest yg dikelola mandiri oleh kepanitiaan PPSB SMPPN No.49 Kota Pku.
Sejak awal berdirinya sekolah kita itu, memang sudah mendapat fasilitas yg sangat lengkap saptasnya, dengan guru2 senior di SMAN seperti SMAN No.1 Pku dll dimutasi ke sekolah yg baru SMPPN 49. Berbagai bantuan sapras pendidikan dari dana CSR perusahaan minyak Caltex juga cukup banyak. Jadi tidak heran SLTA berstatus negeri ini bisa meraih berbagai prestasi dengan banyak mendapatkan penghargaan baik tingkat daerah maupun nasional. Di bawah kepemimpinan Kepseknya alm.bpk Drs. Abdul Muis Bilmun, seorang pendidik senior yang sangat disiplin, SMPPN 49 berkembang maju begitu pesat. Maaf ada sedikit informasi bahkan sekolah SLTA kita itu bisa meraih peringkat nomor satu di Riau, dimana sebelumnya SMAN No.1 yang sangat favaorit kemudian bergeser ke SMPPN No.49 Kota Pku waktu itu. Untuk tahun2 selanjutnya ini, saya pun tidak tahu sejauhmana perkembangan SMPPN 49, apakah masih terbaik ?
Angkatan yang masuk thn 1976 memang berasal kebanyakan para juara SMP se Riau, yang nampak tersaring dari proses seleksi masuk SMPPN No.49 Pku tsb, termasuk diantaranya saya dari SMPN Cerenti sebagai lulusan terbaik (juara umum). Semasa itu, saya menghadapi “persaingan” bersama para lulusan SMPN yg hebat2 se Riau, terutama mereka lulusan SMPN yang favourit dari Kota Pku. Saya tidak perlu sebut namanya khawatir “salah tebak”. Jika ditanya sama om Arman LW sahabat dekat saya, pasti tahu siapa2 mereka para “jagoan” di SMPPN 49 Pku di masa itu, yang kemudian mereka berhasil diterima di ITB, UI, IPB, Undip, Unand, Unair, Unibraw, USU, etc.
Saya bersyukur, sebagai anak yatim dari kampuang yang jaraknya jauh dari kota (ketika itu perlu 4 hari 4 malam, baru sampai ke Pku dari Cerenti naik mobil bus mini “oplet”, karena kondisi jalan raya yang sangat buruk, belum beraspal san begitu banysknya rakit penyeberangan di sungai2 di daerah Riau). Saya berasal dari Desa Kp Baru Cerenti yg agak “tertinggal” mutu pendidikannya, disebabkan langkanya fasilitas sapras sekolah dan sedikitnya guru2 yg berpengalaman mengajar, dan dapat dikatakan sebenarnya “nyasar” bisa masuk ke SMPPN No.49 Pku. Artinya saya tidak merencanakan dari kampung untuk masuk SMA. Saya hanya waktu itu (thn 1976) mendapat secarik kertas berupa Surat Rekomendasi dari Kepsek SMPN Cerenti (bpk Ali Imran) tentang keterangan keluarga “miskin” untuk bisa diterima masuk ke STMN yang beralamat di jln Pattimura Kota Pku. Dengan iming2 dan harapan ingin mendapat keringan biaya dan dukungan beasiswa dari Pemerintah, agar bisa bersekolah di SLTA di perkotaan yang lebih berkembang maju.
Maklumlah saya berasal dari keluarga yang tidak punya alias keluarga miskin, saya yatim sejak kelas 2 SD, ayahku sdh berpulang kerahmatullah. Tetapi waktu itu, entah mengapa tiba2 saya tidak tertarik masuk ke Sekolah Teknik Menengah (STM) yang dituju dan direkomendasikan. Bahasa “okem”nya agak merasa “pundung” alias “ngambek”, karena ada oknum guru STMN yang meminta uang pelicin lk Rp.150 ribu kepada ibu saya untuk bisa masuk STMN. Barangtentu uang sebesar itu, ketika itu cukup banyak jumlahnya bagiku. Saya tidak mungkin bisa memenuhinya, saya pun “marah” dan saya langsung merobek Surat Rekomendasi masuk STMN untuk memperoleh beasiswa itu. Dan begitu kesalnya saya, seraya meratapi nasib kok jadi begini,…kaget diluar dugaan saya sama sekali.
Memang saya sudah berniat merantau untuk melanjutkan sekolah SLTA ke kota, sebagai orang miskin modalnya hanya tekad dan semangat dengan mental juara umum di SMPN Cerenti, sedangkan modal uang tidak punya.
Maksudnya saya berani melanjutkan studi ingin merubah nasib dengan bermodal kemampuan otak, prestasi belajar, bukan uang atau kapital. Selain saya tidak punya uang, juga sikap saya sejak kecil sudah dididik ayah dan ibuku, agar anaknya harus berperilaku jujur dalam menjalani hidup. Saya memang tidak suka dan anti suap menyuap alias korupsi, merampas hak orang lain, itu haram hukumnya dalam ajaran agama Islam dan kita berdosa, apalagi terjadi di dunia pendidikan yg menjunjung tinggi moral dan etika tidak sepantasnya terjadi. Waktu kejadian ada pungli itu, saya marah besar, dan merobek surat rekomendasi dari Kepsek SMPN Cerenti yang ada di tangan saya, saking kesalnya.
Berikutnya saya pun mencari informasi lain, SLTA mana yang masuknya tidak pakai uang “sogokan” di kota Pku. Alhamdulillah saya menemukannya yaitu SMPPN No.49 Pku yang baru dibuka menerima murid baru saat itu. Informasi tentang SMPPN No. 49 Pku saya dapatkan dari alm bpk Drs.Bukhari Yakum, orang Cerenti, guru sejarah SMPPN tsb, masih ada hubungan dunsanak dengan istrinya. Saya pun bertanya? kepada beliau selaku bapak guru tentang apakah ada biaya pungutan di sekolah yang baru itu ?, kata beliau tidak ada, yang terpenting kamu sebagai pesertanya harus memenuhi syarat yaitu lulus testing. Saya senang sekali mendengar informasi itu..adanya “adu otak bukan adu duit”, akhirnya saya mendaftarkan diri ke SMPPN No.49 Pku, dan akhirnya alhamdulillah saya lulus dan diterima menjadi siswa baru thn ajaran 1976/1977.
Hingga kini sikap saya soal penolakan perbuatan korupsi tidak berubah dan bahkan saya “jijik dan muak”, insyaAllah, masuk IPB saya hanya bermodalkan otak semata, dan mencari sumber2 beasiswa agar studi bisa berjalan dengan baik dan lancar, biaya hidup terpenuhi ‘cukup’ dan alhamdulillah bisa berhasil mendapatkan dukungan beasiswa dari Kemendikbud dan dana CSR perusahaan swasta.
Selama belajar di SMPPN No.49 Pku saya juga tekun dan rajin belajar, juga ikut kegiatan kepanduan Pramuka, dan juga ikut Grup Paduan Suara lewat seleksi ketat oleh bpk Manurung. Panduan Suara SMPPN 49 sering juara pertama lomba tingkat SLTA se Riau. Dan yang berkesan dalam hidup, ada seorang guru yang berbaik hati, namanya ibu Sri Rejeki, walikelasku dan guru biologi, beliau pernah melunasi biaya SPPku yg hampir 3 bulan belum terbayar. Pak Joy bagian keuangan sekolah berkali-kali menegurku di kelas dan sambil “mengancam” bisa dikeluarkan. Akibatnya aku dipanggil ibu walikelasku ibu Sri, saya jelaskan kondisi saat ini yang saya alami bahwa aku belum dapat kirim wesel. Ibu guru yg berhati mulia, mengundangku untuk datang.ke rumahnya di komplek Gubernuran Riau (krn suaminya pejabat di BMKG), saya “ditugaskan” membabat tumbuhan- rerumputan di pagar pekarangan rumahnya, aku kerjakan dengan senang hati. Tapi kemudian ibu melarang aku meneruskan pekerjaan, ..maksudnya hanya “ngetest” aku apa benar ini “anak baik”.., dan kemudian memanggil aku di teras rumah, sambil berkata: “mulai saat ini kamu Apendi jangan khawatir lagi nak !, besok ibu akan lunasi SPPmu yang menunggak itu”..” saya akan bilang ke pak Joy..dan kemudian untuk semester berikutnya ibu akan berusaha kamu bisa mendapat beasiswa dari Kemendikbud..”.
Terus terang, begitu senangnya dan leganya hati aku menerima uluran tangan ibu guru Wali kelasku itu.
Hingga sekarang aku ingin sekali bisa bertemu untuk bersimpuh dihadapan ibu yg bermurah mati tersebut, yang telah ‘menyelamatkan’ nasib studi aku ketika belajar di SMPPN No.49 Pku. Tetapi hingga kini hal itu belum kesampaian juga, menurut khabarnya ibu Sri tidak lagi di kota Pku, beliau sudah kembali ke negeri asalnya di Kota Malang menikmati hari tuanya sebagai pensiunan guru PNS, insyaAllah ibu sehat dan husnul khotimah. Dan alamat beliau jelas dimana lokasi tempat tinggalnya, saya belum dapatkan alamatnya. Dari ibu Sri inilah aku banyak belajar sebuah ketulusan dan makna hidup agar kita saling menolong antar sesama. Bagaimana kita seorang yang berprofesi Guru atau Dosen di sekolah dan Universitas, selain bertugas mengajar dan mendidik, juga selalu peduli akan nasib murid2nya dan para mahasiswa kita yg kurang mampu ekonomi (miskin) keluarganya, terutama bagi anak kemenakan kita, dan tentunya wajib kita bantu agar studinya bisa berhasil.
Alhamdulillah, walaupun saya hidup di kota Pku banyak kekurangan dana, terbatasnya kemampuan ekonomi, dan fasilitas yg serba terbatas karena sumber pendanaan dari kampung juga susah, sehingga saya terpaksa tinggal di rumah sewaan di pinggir kali (selokan air perkotaan) yang agak ‘kumuh’ (slum area) di daerah Kopan Kota Pku, yg waktu itu belum ada penerangan listriknya, alias saya hanya belajar menggunakan lampu minyak-tanah (lampu “Colok”) seadanya di malam hari, sambil mendengar berbagai bunyian hewan2 yang ada, terutama suara katak, burung rawa dan cangkrik dll, ekosistem daerahnya rawa dan agak semak. Akan tetapi subhanallah, tidak sampai mengendorkan semangat belajarku. Dan alhamdulillah masih bisa konsentrasi belajar dan meraih prestasi juara kelas, dan terakhir ketika lulus SMPPN No.49 Pku jika tidak salah meraih peringkat juara umum ketiga. Saya bersyukur kepada Allah SWT telah diberi kemampuan berpikir diatas rata2, padahal saya sejak kelas 2 SDN No.1 Cerenti sudah ditinggal ayahku sebagai anak yatim. Hidupku agak “sulit”, sejak kecil murid SD aku bekerja cari duit dengan jualan es di sekolah, berkebun cabe (lado), beternak ayam kampung di pekarangan rumah, beternak kambing dan sapi serta kerbau (milik kakakku) di padang pengembalaan Sianyir Desa Kp Baru Cerenti sambil membawa buku2– pelajaran, juga membantu kakakku tertua megurus karet (gotah, latex) dangannya, jaga warung kelontong etc, dalam arti saya mengandalkan kerja keras, disiplin memanfaatkan waktu (kapan bekerja, belajar dan berstirahat, hiburan) dan juga menunggu “belas kasihan” serta kebaikan kakak2ku dan para Dunsanak (kerabat) yg peduli dan sadar akan pendidikan keluarga. Padahal mereka juga tingkat kemampuan ekonomi keluarga mereka juga sangat terbatas alias “hidup pas-pasan” di masa itu, banyak yg belum mapan, tidak seperti kondisi sekarang.
Kembali ke cerita masa lalu masuk ke SMPPN 49, jujur saya berkata bahwa itu merupakan kejadian dan peristiwa yg tidak direncanakan semula, itu merupakan suatu “keberkahan” yang datang seketika, dan saya percaya itu takdir dari Allah SWT yg mengantarkan saya kemudian, bisa melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi (PT) yg exellence spt IPB di Bogor. Jika tadinya saya masuk STMN, menurut peraturan di masa itu saya harus bekerja selama 2 tahun, jika berprestasi baru bisa melanjutkan kuliah di perguruan tinggi, jika mau studi lanjutan. Kebanyakan orang para lulusan SLTA yang telah bekerja sangat jarang mau melanjutkan studi sarjana, apalagi pascasarjana.(kecuali guru dan dosen), karena sulit waktu, perizinan yang berbelit-belit di birokrasinya, dan sudah merasakan nikmatnya penghasilan sendiri bersama anggota keluarga Jadi saya sdh bisa membayangkan, jika saya tammat STMN pendidikan formal saya sangatlah terbatas, dan tidak mungkin bisa diraih seperti kondisi saat ini, saya bisa tammat S1/sarjana Sosek Perikanan (lulus 1986), S2/magister sains manajemen (mgt) sumberdaya alam dan lingkungan (1999) dan S3/doktor dalam bidang keahlian Manajemen SDAL kawasan pesisir, laut dan pulau2 kecil (2007), semuanya di almamater yang sama yakni IPB, disertai pendidikan kursus2 lainnya banyak saya tempuh dan menambah keahlian. Dari kapasitas SDM (skill) yg saya peroleh, pada akhirnya bisa berkiprah dan berkarier dengan baik, dengan memangku berbagai jabatan strategis baik di lingkungan kampus (Wadek, Dekan, Direktur dan Warek) maupun sosial kemasyarakatan (pimpinan Ormas, LSM dan Yayasan), serta alhamdulillah mampu bekerja sebagai tenaga ahli konsultan profesional untuk menyelesaikan tugas2 bermacam proyek studi dari beberapa sektor di Pemerintahan (Kementerian dan Lembaga2 Negara/KL) dan juga pekerjaan dari pihak Swasta di tanah air, saya bisa sambilan “travelling” gratis dari Sabang (Aceh) hingga Merauke (Papua) dan dari Mianggas (Sulut) ke pulau Rote (NTT), beberapa rute di daerah perbatasan negara RI pernah aku jelajahi darat, laut (akses ke pulau2 kecil terluar) dan udara, sekaligus rekreasi menikmati indahnya panorama alam Indonesia yang sangat kaya. InsyaAllah perbuatan tersebut, menjadi bukti sebagai manusia berguna, berbakti bagi nusa,
bangsa dan negara sebagaimana cita2 hidup yang pernah ditancapkan di dalam sanubariku sejak kecil… subhanallah, wal hamdulillah wallahu akbar. Itu semua berkat anugerah Allah SWT, yang begitu Maha Pemurah dan Penyayang kepadaku hambaNya, dan juga atas doa yg tulus dari ibunda tercinta dan sanak famili di kampuang yang berhati mulia yang bersedia bergotongroyong, saling membantu biaya pendidikan adiknya.
Saya masih ingat, ketika mendaftarkan diri menjadi mahasiswa baru IPB hasil testing Perintis Satu lulus pada pertengahan thn 1980, dalam kuisioner isian IPB ditanya, apa alasan memilih dan melanjutkan studi di IPB? Saya jawab dengan tegas dan lugas, saya ingin merubah “nasib keluarga”.
Alhamdulillah kemudian Allah SWT mengabulkan doa saya, dan juga doa ibundaku yang khusuk di kampuang yang tak henti-hentinya.
Sungguh begitu mengharukan dan mendebarkan hati, ketika nama saya muncul di koran-koran (mass media) nasional tentang pengumuman kelulusan Sipenmaru-Perintis 1. Alhamdulillah nama saya bertengger di urutan ke 156 dari lk 600 org mahasiswa baru yg diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) saat itu. Malam harinya sebelum esok kelulusan testing diumumkan, saya khusuk sholat, pasrah berserah diri, dan berdoa kepada Allah SWT setelah sholat tahajjut dan tadharus Al Quran di tengah malam. Saya memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa Allah SWT agar saya bisa masuk IPB. Saya sdh ungkapkan berkali-kali dalam doa saya…kira2 begini isi bahasa Indonesianya:
“….Ya Allah ya Rabb yg Maha Pengasih dan Penyanyang..
Anugerahilah kepada hambaMu ini kelulusan untuk diterima di IPB….
Ya Allah ya Rabb..saya sadar jika saya diterima ada peluang untuk merubah nasib ke arah hidup lebih baik.
Tetapi sebaliknya Ya Allah.ya Rabb. .jika saya gagal atau tidak lulus masuk IPB…saya pun menjadi seorang “gembel” (terlantar) di Jakarta yg saya tahu persaingan hidupnya begitu keras di kota metropolitan.
Karena saya pun sadar, jika pulang ke kampung akibat gagal testing program Sipenmaru-Kemendikbud RI, sesuatu yg amat sulit saya lakukan. Ada faktor rasa “malu” yang berlebihan di dalam diriku, karena terus terang banyak orang meragukan kemampuanku, dan bahkan setengah “mencibirku”, kok anak orang miskin bercita-cita ingin masuk IPB, kami saja yang di Jakarta ngak bisa.itu diantara kata2 yang pernah aku dengar di telingaku…ente ngak “ngaca”. Begitulah kira2 yg pernah saya rasakan dan alami selama mondar-mandir (pp) Jakarta-Bogor, nomaden dari rumah ke rumah “saudaraku” di masa proses pendaftaran dan persiapan testing untuk bisa masuk ke “exellence university”,…. “the big five of hight education in Indonesia”, yang ketika itu menjadi idaman banyak anak muda “pemberani”, bernyali dan nekat. Barang tentu juga sikap itu tetap masih terus ada untuk menjadikan IPB sebagai pilihan ‘nomor wahid’ hingga saat sekarang. Apalagi kondisi sekarang, IPB berdasarkan hasil evaluasi Kemendiknas RI pada tahun 2020, telah dipublikasikan bahwa IPB masuk peringkat pertama Perguruan Tinggi terbaik di Indonesia.
Bahkan diantara kakak2ku pun ada yang berpandangan pesimis “melarang” aku melanjutkan studi untuk berkuliah di PT, Universitas, ketika itu (1980an). Mereka tidak yakin bahwa aku bisa melanjutkan studi, karena memang faktor keterbatasan ekonomi keluarga, aku menerima sepucuk surat yang disertai isinya begitu tajam kritikannya dan “pedas” kepadaku. Pesannya menyuruh aku bekerja saja untuk mencari uang dari pada kuliah dan gagal. Apa yang dikatakan mereka, cukup “masuk akal”. Saya pun tidak pedulikan itu semua, dan bahkan tidak bergeming sedikit pun, tekadku tetap kuat, teguh pendirian dan tidak pernah padam. Saya memiliki rasa percaya diri bahwa saya bisa dan mampu. Dan saya hanya melihat ke depan, yang bisa merubah nasib seseorang anak manusia seperti saya, hanya bisa ditempuh melalui jalur pendidikan yg terbaik (it’s the best of hight education), dan belajar setinggi-tingginya. Aku pernah membaca firman Allah pada salah satu ayat di dalam kitab suci Al Qur’an, dan selalu terngiang-ngiang dalam benakku, bahwa “Sesungguhnya yang bisa merubah nasib suatu kaum, hanyalah kaum itu sendiri..”.
Setelah lulus SMPPN No.49 Pku, Maret thn 1980, saya pun pulang ke Cerenti, kampuang halamanku untuk menemui dan bersimpuh dilutut ibuku dan minta restu. Ketika saya pamit dan minta izin kepada ibundaku tercinta untuk melanjutkan studi dan merantau ke Jawa. Ibuku agak “terkejut” juga, dengan suara pelan, lirih dan terbata-bata dia pun bertanya kepadaku. Jika kamu kuliah di Jawa dari mana biayanya nak ? Bagaimana kamu bisa makan nak.?!.apabila kamu berada di rantau orang di daerah Jawa sana nantinya?
Seketika itu, bulu kuduk dan romaku pun merinding, mendengar suara lirih ibuku. Kemudian aku berusaha menenangkan diri.
Saya sangat paham arah dan isi hati, perasaan ibundaku ketika itu, …saya tatap wajah ibu dengan rasa kasih dan sayang, serta aku dekap badan ibuku dengan penuh haru, air mata kami pun mengalir begitu derasnya. Lantas, saya pun berpikir, sangat wajar kiranya rasa kekhawatiran omakku itu muncul begitu mendalam bagi seorang ibu yg telah melahirkan dan membesarkan selama ini, yang tentu ‘sangat berat’ dan sedih melepaskan anaknya “berpisah”, merantau ke negeri orang.
Beberapa selang waktu kemudian, sambil menarik napas, saya pun menjawabnya dengan santun untuk meyakinkan beliau, ibuku, seorang yang amat aku sayangi dan cintai.
Begini jawaban saya sebagai anak kepada ibuku…. saya ada sedikit uang tabungan beasiswa SMPPN 49 selama 2 thn, untuk modal berangkat kesana ke Jakarta/Bogor, insyaAllah, cukup mak !, sedangkan untuk biaya makan..omak (ibu) jangan khawatir, ananda kan bisa mengaji Al Qur’an dan bisa azan. Nanti di tanah Jawa saya akan membantu mengajar mengaji Al Qu’ran untuk anak2 remaja di sekitar masjid, dan sekaligus menjadi tukang azan (mu’azin) setiap waktu sholat fardhu berjemaah di masjid, jika perbuatan amal ini yang ananda lakukan, saya berkeyakinan pasti ada orang yang mau memberikan makanan dan minuman kepada ananda, sehingga tidak kelaparan..”…begitulah keterangan yang saya sampaikan kepada ibuku dengan penuh harap ada keikhlasannya sambil mengharapkan ridho dan restu yg tulus dari ibunda tercinta, Hj.Daranah Djamin, yg kini thn 2020 telah berusia 105 thn, manusia tertua di kampuang, alhamdulillah beliau sehat walaffiat, dan sedikit palupa sebagai lansia tua ibu mulai agak pikun. Tapi masih bisa bercengkrama dengan omakku, walaupun pikirannya terkadang “on off on off” dan lucu. Saya jika berada di rumah omak di kampung, saya menikmati betul, sungguh berbahagia bertemu ibundaku, alhamdulillah.
Saya lihat expresi, rawut wajah ibuku waktu itu, beliau ibundaku “terpaksa” dengan berat hati mengikhlaskan kepergian anaknya untuk merantau ke daerah tujuan Jakarta dan Bogor untuk melanjutkan studi.
Terakhir kata2 saya ketika pamitan, saya melangkah kaki meninggalkan rumah, setelah mencium tangan dan mengusap kening ibuku yg mulai agak keriput, aku membisikan lagi ke telinga omak (ibuku), agar selalu berdoa setiap selesai sholat, agar anaknya di rantau bisa berhasil meraih apa yang dia dicita-citakannya, dan dimudahkan segala urusannya. Akhirnya doa ibu dikabulkan Allah SWT, dan insyaAllah aku bisa membahagiakan ibuku di hari tuanya.
Begitulah narasi, cerita nostalgia saya disaat lulus SMPPN No.49 Pku yang penuh kenangan. Aku bangga menjadi alumni SMPPN 49 Pku. Saya bersyukur dan beruntung bisa belajar di SLTA almamaterku itu, SMPPN No.49 Pku dengan para guru dan pegawai yang hebat dan berdedikasi tinggi. Saya mengucapkan terima kasih yg tulus, seraya berdoa kepada Allah SWT agar mereka menjadi orang2 sholeh yg selalu diberkahi Allah SWT. Amin3 YRA.
Akhir kata, saya mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dengan tulisan ini. Maksud saya hanya sekedar “sharing” berbagi informasi pengalaman hidup yang pernah aku jalani, bahwa keberhasilan studi seseorang tidak hanya semata ditentukan faktor uang (harta, kapital). Akan tetapi yang tidak kalah hebatnya, yang menentukan keberhasilan seseorang itu adalah faktor sikap-mental, motivasi yg kuat, dan kekuatan doa dari ibunda tercinta serta dukungan para Dunsanak yg menyayangi. Dan itu salah satu nasehat ibuku yg tidak akan aku lupakan agar saling menolong. insyaAllah. Cerita2 inilah yang sering saya sampaikan kepada para mahasiswaku di kampus, ketika mengikuti perkuliahan dengan saya agar bersemangat belajar untuk meraih cita2 mulia, merubah nasib keluarga. Terima kasih kepada semua orang yg tekah membantu keberhasilan studiku, teristimewa buat para guru dan dosenku yang berhati mulia, Sukron dan Barakallah. Amin. YRA.
Artikel oleh Dr. Ir. H. Apendi Arsyad MSi. Penulis adalah Pendiri-Dosen/Assosiate Profesor pada Prodi Agribisnis Faperta, Universitas Djuanda Bogor; Konsultan; dan Aktivis di beberapa Ormas di Bogor.





