Bikin Resah, Kajian Dampak Summarecon Bogor Dipertanyakan

0
Resah, Kajian, Dampak, Summarecon, Bogor
Megaproyek perumahan elite Summarecon Bogor, yang berlokasi di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor.

LEAD.co.id | Kajian dampak Sosial dan Ekonomi Megaproyek perumahan elite Sumarrecon Bogor kembali dipersoalkan. Pasalnya, akibat proyek ini, banyak warga asli yang kehilangan tempat tinggal.

Pasalnya, ploting Megaproyek Summarecon Bogor di empat wilayah terdampak yakni Desa Cibanon, Nagrak, Sukatani dan Gunung Geulis, Kecamatan Sukaraja, ditaksir mencapai ratusan hektar. Artinya perlu kajian aspek teknis maupun umum terkait pengembangan kawasan ini.

“Kalau Ploting lahan Summarecon itu, target seluas 245 Hektar dari total yang kena ploting 290 hektar artinya hanya ada lahan sisa 45 Hektar nantinya, bisa dibayangakan seperti apa,” ungkap Sekretaris Desa Cibanon, Nurdin Cahaya saat ditemui tim LEAD.co.id,  pada Kamis (26/11/2020).

Selaku warga asli (pribumi), dia merasa prihatin dengan kondisi ini meski ada dampak ekonomi bagi harga tanah Desa kisaran Rp. 3 jutaan per-meter, sesuai harga pasaran. Karenanya, dia berharap, Desa Cibanon tidak tinggal nama karena warga asli banyak yang pindah.

Baca :  Band Legendaris Bogor, 14 Tahun Oncom Hideung Berkarya

“Istilahnya saya ga mau nanti warga lama ga ada, malah datang warga asing,” tambah Nurdin mengungkapkan keresahan warga.

Menurutnya, dampak positif dan negatif dari Summarecon memang ada. Tapi, pihak desa telah jauh hari menimalisir gangguan dan hambatan dari proyek ini dengan adanya MOU dengan Summarecon terkait kesepakatan serapan pekerja.

Hal lain yang disepakati untuk kepentingan warga desa yakni berupa Fasos dan fasum semisal pemakaman umum, dan pihak desa menyerahkan persoalan itu kepada Summarecon menentukan lokasi, namun dekat dan terjangkau jaraknya.

Sebelumnya, sekitar 20 orang warga Desa Nagrak, Kecamatan Sukaraja juga telah mendatangi Kantor Bupati Bogor, pada Jumat (20/11) untuk mempertanyakan lahan yang akan dibangun perumahan oleh pihak Summarecon.

Baca :  Menjelang Pilkades Serentak, Ketua Karang Taruna Desa Cibatok Dua Angkat Bicara

Lahan yang dipersoalkan berfungsi sebagai jalan yang digunakan oleh warga. Namun, pihak Summarecon menjadikan lahan itu sebagai perumahan. Sayangnya, Bupati Bogor saat itu tidak bisa menemui warga.

“Kalau Solusinya masih belum memuaskan hasilnya, karena belum menemukan titik temu. Kami ingin permasalahan ini ada sebuah solusi yang menyenangkan terhadap warga yang dirugikan,” kata Herry N. P. Hutapea, selaku kuasa hukum warga Nagrak, Kecamatan Sukaraja.

Terkait dampak Megaproyek Summarecon Bogor, LSM Analisis Riset Monitoring Indonesia (ARMI) meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) agar ‘peka’ untuk membuat kajian SOSEC (Sosial dan Ekonomi) agar hak – hak dasar warga tidak terampas.

“Saya minta Pemkab (Bogor) tahu dan paham akan adanya hak dasar atau hak azasi manusia,” kata Arahman selaku Divisi Biro Investigasi dan Hukum LSM ARMI.

Baca :  Menangkan Jokowi di Bogor, Barjab Dapil 4 Gelar Deklarasi dan Bimtek

Dirinya juga mengaku siap bergandengan dengan Perguruan Tinggi dan Pemkab Bogor dalam menyusun draft dan analisa SOSEC demi nasib ribuan warga yang dipertaruhkan di Megaproyek ini.

“Pemkab jangan hanya berpikir PAD atas pajak, retribusi serta perijinan saja tapi hak hidup dan hak dasar warga juga harus terjamin,” sebut LSM ARMI.

Atas hal itu, LSM ARMI menyatakan segera membuka forum aduan dan kosultasi publik pada warga di empat Desa Kecamatan Sukaraja ini. “Kami akan bergandeng dalam aliansi LSM peduli lingkungan serta forum antar organisasi dan akademisi,” pungkas Arahman.

Penulis: Agusbagja
Editor: Aru Prayogi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here