Catatan Piknik Kodelers ke Baduy Banten

oleh -559 views
Catatan, Pikni Kodelers, Baduy Banten, Apendi Arsyad
File: Apendi Arsyad

Oleh: Dr Apendi Arsyad

Alhamdulillah, sebagai warga Kelompok Delapan (Kodeler), yang pernah bersama-sama kawan-kawan lama, tempo doeloe pernah belajar dan kuliah bareng di tingkat persiapan bersama (TPB) IPB pada tahun 1980. Dari lk 2000an mahasiswa baru IPB yg diterima ketika itu, saya dengan kawan-2 lk 150 orang berada pada kelompok 8 dari lk 10 grup TPB IPB yang didesain pola pembelajarannya ketika itu oleh Rektor IPB legendaris bapak Prof. Dr. Ir. H. Andi Hakim Nasution MSc (kini sudah almarhum). Adapun 10 kelas TPB IPB berada disamping gedung Rektorat IPB lama di kampus Baranangsiang Kota Bogor, yang kini sudah berubah menjadi lokasi pusat perbelanjaan modern yakni Mal Botani Square dan Internasional Convention Hall IPB University.

Tujuan pengelompokan mahasiswa baru pada TPB ini, salah satu diantaranya untuk menyamakan kemampuan dan penguasaan (kompetensi) dalam ilmu-ilmu dasar seperti biologi, kimia, fisika etc bagi mahasiswa yg baru masuk dan diterima melalui jalur proyek perintis (PP) 1 dan 2 pada tahun 1980 itu. Jalur proyek perintis 2 adalah mereka yang diterima duluan beberapa bulan sebagai undangan karena berprestasi di sekolah SMA-nya, sedang proyek perintis 1 adalah mereka yang lulus ujian tertulis masuk ke IPB. Alhamdulillah saya AA masuk kategori lulus ujian tertulis proyek perintis 1 yang berjumlah lk sebanyak 600 org, hanya lk 30 % dari total populasi mahasiswa baru ketika itu.

Jika tak salah kelompok 1 sd 7 TPB IPB adalah diisi mereka yang diterima tanpa test krn “prestasi angka rapor” dan termasuk kategori top rangking di SMA asalnya masing-masing, dan telah mendapat pelayanan pembekalan belajar ilmu dasar selama lk 3 bulan di kampus IPB Baranang Siang Bogor, yang dinamakan program Matrikulasi.

Adapun saya dengan kawan-kawan mahasiswa lulus test proyek perintis 1, yang menyingkir belasan ribu peserta lulusan SMA yang mendaftar ke Panitia Seleksi PMB-IPB diperlakukan agak “diskriminatif” tanpa kegiatan pembelajaran matrikulasi. Kami mahasiswa proyek perintis (PP) 1 dan 2 diperlakukan sama dalam proses penilaian keberhasilan studi pada program TPB IPB, untuk berikutnya masuk ke pilihan Fakultas masing-masing berdasarkan evaluasi dan seleksi. Maaf saya tidak tahu persis karena tidak punya data apakah ada perbedaan hasil yang signifikan dari 2 pola rekruitmen PP 1 dan PP 2 mahasiswa baru TPB IPB ini?, apakah PP 1 yang lebih hebat atau sebaliknya.

Tapi yang saya agak paham dan tahu adalah adanya perbedaan karakteristik yakni mahasiswa TPB IPB PP 2 lebih “serius” belajarnya, sedangkan mahasiswa rekriutmen test PP 1 agak lebih “santai” (rileks), kelihatan lebih “kompak”, kadar soliditas lebih tinggi serta dinamis jika dibandingkan mahasiswa PP 2. Kemungkinan gejala sosial ini disebabkan faktor “diskriminatif”, ada perbedaan perlakuan sehingga memunculkan “anak emas” (PP 2) versus “anak tiri” (PP 1). Akibatnya anak tiri kurang perhatian, sehingga muncul perilaku agak “bandel” untuk mencari perhatian, akibatnya mahasiswa TPB IPB PP 1 lebih dinamis dan kohesi sosialnya agak membaik. Maaf, ini hipotesis saja, dan perlu riset untuk membuktikan kebenarannya.

Akan tetapi tanpa riset, faktanya di lapangan atau buktinya selama kuliah di TPB IPB tahun pada grup Kodel alumnus PP 1 memang cukup kompak, solid, sehingga banyak kesan-kesan dan kenangan manis yang dirasakan dalam pergaulan antar sesama ketika itu. Bahkan adanya kebersamaan dan persaudaraan (brotherhood) yang cukup kental baik suasana di kelas, di lapangan pertandingan olahraga basket, camping ke daerah pegunungan dan pantai, belajar kelompok kecil, dll. Walaupun setelah lulus pada TPB IPB, kami pun berpisah, bercerai-berai sebagian besar masuk ke Fakultas di IPB yg menjadi pilihannya, dan ada juga sebagian sangat kecil yang keluar dari IPB, dan pindah ke Universitas lain baik di dalam dan luar negeri akibat salah pilih dan tidak minat pada program studi yang dimasuki.

Baca :  Hidup Beragama Tetapi Tidak Bertuhan

Puluhan tahun atau beberapa dasa warsa, komunikasi sahabat Kodel sempat terputus dan menghilang tanpa ada interaksi sosial antar sesamanya. Akan tetapi alhamdulillah berkat adanya revolusi information and technology communication (ITC, era digital), muncul aplikasi Whats App (WA) grup, membuat pola relasi sosial yang pernah terbangun pada tahun 1980, kemudian hilang selama lk 40 tahun, kemudian bisa terbangun kembali jejaring sosial tersambung melalui WAG Kodel 1980.

Ada sarana WAG memang membuka ruang dan peluang untuk merekat kembali rasa kebersamaan dan persaudaraan bersemai kembali dengan berbagi informasi baik suka maupun dukanya, innalillahi ….di WAG Kodel 1980, termasuk munculnya gagasan kreatif dan inovatif untuk bertemu, bersilaturahmi dan bertamasya, rekreasi ke lokasi tertentu sbg destinasi wisata seperti daerah Ciboleger ini, desa etnis Baduy di Kabupaten Lebak Provinsi Banten.

Tepatnya hari Minggu 31 Oktober 2021, mereka warga Kodel, termasuk saya AA berkesempatan ikut toer wisata ke daerah Baduy Banten. Barang tentu selama seharian perjalanan Kota Bogor Jabar-Lebak Banten pulang pergi, kami berangkat pagi dan kembali petangnya di Kota Bogor. Apa-apa saja yang pernah saya lihat dan dengar, izinkan saya menarasikan kedalam beberapa catatan, yang saya anggap penting untuk kita perhatikan. Kemudian sebagian cacatan penting tersebut sudah ditulis kang Onny yakni “hilangnya jejak sejarah etnis Sunda Baduy” (jika tak salah kutif), yang telah diposting di WAG Kodel ini. Saya berupaya menarasikan hal-hal kehidupan etnis Baduy (terutama Baduy Luar) dalam perspektif sosial budaya (ekososial) dan lingkungan hidup- ekologi, serta peranan Pemerintah Daerah dalam membina dan mengembangkan wisata alam (ecowisata) dan budaya etnis Baduy sehingga mengungkit perekonomian daerah setempat.

Catatan perjalanan (toer) grup Kodel ke Baduy kali ini, sesungguhnya bagi mereka yang ikut, ada 17 orang, alhamdullilah telah mendapatkan kenikmatan berupa hiburan, penyegaran (refreshing) jiwa dan raga, naik bukit melatih jantung sehat, serta menambah pengetahuan dan wawasan budaya suku “terasing” Baduy di Lebak Banten.

Selama dalam perjalanan naik bus mini menuju destinasi wisata, dengan jalan yg berkelok-kelok, mendaki-menurun, dengan fanorama lanscap alan pegunungan dan lembah serta sungai yang indah, saya dan kami benar-benar mendapat hiburan dari berbagai lelucon dan banyolan yang dikomandani akang Roni Wahyu. Celetukan-celetukan, banyolan kang Roni kemudian ditimpali dan disahuti kawan-kawan secara bergantian, yang kemudian mengundang derai tawa karena lucunya, sehingga perjalanan tidak membosankan dan melelahkan.

Walaupun arah perjalanan bus sempat tersesat ke lain arah. Hal ini kang Onny selaku “petugas penunjuk jalan”(guide) karena faktor usia (lansia) sehingga lupa tanda-tanda arah jalan menuju kampung Baduy tersebut, yang memang di tepi jalan raya sangat kurang rambu-rambu petunjuk ke destinasi wisata Baduy, tetapi itu ternyata bukan menjadi masalah, justru kesesatan perjalanan menjadi bahan humor yang mengundang kawan-kawan tertawa lepas.

Baca :  Migran China Vs NKRI Dignity: Peranan ICMI !

Hatur nuhun kang Ronny, anda telah membuat kami tertawa lepas tanpa sekat-sekat psikologis-komunikasi kami “cair”, melepaskan energi negatif, kepenatan, akibat kejenuhan rutin bekerja di kantor-kantor atau bisnis lainnya. Itulah catatan kesan yang cukup menonjol yang telah kita dapatkan dan temukan selama dalam perjalanan.

Kemudian, setelah sampai di lokasi Ciboleger, perkampungan suku Baduy Luar, Kecamatan Cipanas Kabupaten Lebak Banten sebagai destinasi wisata Kodel. Saya mencatat ada beberapa hal yang menarik yang menjadi hiburan dan bertambahnya pengetahuan baru bagi kita selaku wisatawan nusantara (wisnu), dan atau ada juga hal-hal yang kurang menarik dari pengelolaan objek wisata alam dan budaya etnis Baduy ini yang patut kita kritisi. Harapan kita di kemudian hari, pembinaan dan pengembangan objek wisata yang sudah dikenal publik ini, perlu mendapat perhatian Pemda Lebak dan atau Pemprov Banten.

Berdasarkan hasil observasi singkat selama setengah hari di lokasi perkampung suku Baduy Luar. Sedangkan Baduy Dalam saya dan kawan-kawan Kodelers tidak berkesempatan hadir di lokasi pemukiman Baduy Dalam, karena posisinya sangat jauh jaraknya, perlu waktu lk 4 jam berjalan sampai kesana melalui jalan setapak. Saya AA berkesempatan mencatat, ada beberapa yang menarik untuk diceritakan yaitu sbb:

1. Sangat menarik pola kehidupan dan budaya etnis Baduy ini, mereka setiap rumah tangga memiliki tempat penyimpanan beras berupa bangunan yang bertiang dan berkerangka kayu dengan atap dedaunan rumbia, yang dinamakan “Leuit”, bahasa Melayu Riau atau Minangkabau bangunan sejenis ini namanya “Rangkiang”. Masyarakat Baduy, beras sebagai bahan makanan pokok, tabu atau dilarang hukum adat memperjual belikakannya. Artinya suku Baduy masih berperilaku memproduksi padi hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga sendiri, “subsistence agriculture”, dan tidak berorientasi budaya komersial. Mereka telah menjalankan konsep ketahanan dan kedaulatan pangan sebagaimana dicanangkan, yang terdapat pada kebijakan publik dan regulasi Kementan RI. Mereka suku Baduy tidak khawatir kelangkaan atau kehabisan bahan pangan dan energi (food and energy) untuk memenuhi dan menopang kehidupan mereka sehari-hari;

2. Susunan rumah dan tipe rumah hampir serupa terbuat dari bahan bangunan kayu, menunjukan kerukunan dan kedamaian hidup antar sesama di perkampuangan komunal Baduy terpelihara dengan baik (gemainscaft). Dilihat dari tingkat kehidupan cukup sederhana, masyarakat adat Baduy tidak mengkonsumsi barang sumberdaya alam (SDA) secara berlebihan, hemat energi, bahkan di kawasan perkampungan etnis Baduy Luar (apalagi Baduy Dalam) tidak memakai energi listrik sama sekali kecuali lampu “minyak kayu Jarak”, mereka tidak rakus dan hedonist seperti orang kota-modern.

Selain itu pola budaya kehidupan mereka, warga masyarakat adat berbusana sehari-hari dengan berbaju-celana (buat laki-laki) kain rok bagi kaum perempuan, tutup dan ikat kepala (Patopong bahasa Sunda Urang Bogor, bagi kaum laki-laki) etnis Baduy tampak relatif seragam jenis dan warnanya pada kategori usianya menurut jenis kelaminnya, lelaki atau perempuan. Kaum wanita mudanya suku Baduy berpakaian hitam yg khas, sdh berdandan dan berhias. Ada sejumlah anak gadis Baduy, yang bertugas menjaga “warung” di teras rumahnya, menjual berbagai sauvenir buatan asli (handicraft) suku Baduy dan menjual aneka minuman seperti kopi, jahe, gula aren, kelapa muda dll, dipandang sangat menarik, cantik- rupawan dan berparas elok- menawan, sehingga membuat kita betah sebagai pengunjung untuk menyanyakan berapa harga barang-barang Sauveunir-kerajinan tangan (handicraft) yang ada dan ditawarkannya si Geulis tersebut, sambil “mencuri pandang”. Mereka pun mengajak pengunjung berbelanja dengan bahasa Indonesia yang dipraktekan si Gadis Cantik para penjaga warung sangatlah pasih berkomunikasi, sehingga tidak diperlukan penterjemah.

Baca :  Pertanian Jepang Vs Indonesia

Dalam proses transaksi yang menakjubkan, mereka sebagian sudah menggunakan transaksi online dgn aplikasi digital merek tertentu, para pelanggan dan pemesan Sauvienir adalah para konsumen dari Jabodetabek, Bandung dan bahkan sampai ke Bali. Artinya masyarakat Baduy Luar sudah mengenal baik dan akrab dengan kemajuan era teknologi digital (masyarakat industri 4.0) dalam usaha perdagangannya; dan

3. Hal-hal yang kurang menarik, yang menjadi catatan saya AA selama berada di perkampungan Baduy Luar, dan perlu saya narasikan adalah lemah atau masih kurangnya perhatian Pemda dalam penataan ruang publik spt tempat parkir, tidak adanya sarana toilet yg bersih, jalan setapak/trotoar yg sempit, tak beraturan, tidak ada tempat (tong) sampah, kurangnya papan penunjuk jalan, tidak ada pos penjagaan dan pengelola karcis masuk yg resmi dan profesional (kita masuk per pengunjung rp 5 ribu tanpa ada karcis), pintu gerbang belum tertata rapi, belum adanya tempat penginapan (home stay atau hotel) pengunjung yg layak, papan iklan dan promosi wisata yang sangat kurang, dll.

Menurut saya hal-hal kelemahan dan kekurangan seperti yang disebutkan perlu dibenahi, dengan tata kelola yang baik (good governance) sehingga daerah destinasi wisata suku Baduy menarik untuk dikunjungi baik wisnu maupun wisman. Jika terjadi banyak pengunjung, perekonomian Kabupaten Lebak akan bangkit, maju dan berkembang dengan baik yang dihela dan dibangkitkan dari sektor pariwisata alam dan budayanya, jika dikelola secara profesional mengikuilti kaidah-kaidah ipteks Saya berkeyakinan bahwa kemajuan daerah Lebak ini bisa diraih dengan pesat, sebab kondisi insprastruktur jalan raya, aksesibilitasnya sangat bagus dan mulus (hotmix), terdapat beberapa ruas jalan tol menuju lokasi perkampungan masyarakat adat Baduy, kiri kanan jalan memiliki fanorama alam pegunungan, perbukitan dan lembah, daerah aliran sungai yg indah, dll.

Semoga narasi ini bermanfaat bagi para pembacanya. Seandainya ada hal-hal yang kurang berkenan, saya mohon dimaafkan. Maksud adanya catatan ini selain mendokumentasikan pengalaman perjalanan, bisa juga untuk memupuk kekompakan, solidaritas dari warga pendukung grup Kodelers TPB IPB tahun 1980 sebagai wahana menjalankan silaturrahmi, hiburan di hari tua/lansia, nostalgia dan pelepas rindu antar sesama, dalam upaya untuk mendapatkan kenikmatan dan insyaAllah kebahagiaan (the happiness), Amiin YRA.

Alhamdulillah, Toer Wisata Alam dan Budaya ke Perkampungan Baduy-Kodelers Ahad 31 Oktober 2021 yang lalu, telah memberikan sejumlah kenikmatan dan kebahagiaan bagi mereka yang menjalaninya. Hatur nuhun.

Penulis adalah Pendiri dan Dosen UNIDA Bogor, Konsultan, Aktivis Ormas, Pegiat dan Pengamat Kehidupan Sosial, dan kini bermukim di Ciawi Bogor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *