Dimensi Dakwah Kultural

45
0

Oleh : Teddy Khumaedi

Berita di media masa seakan tidak pernah habis-habisnya memberitakan bagaimana umat Islam baik itu di level nasional maupun internasional bahkan tidak beranjak dari isu saling melemahkan posisi satu sama lain. Sepertinya sudah tidak ada lagi KEPERCAYAAN (TRUST) antara satu sama lain untuk membangun kembali peradaban Islam dan terpuruk dalam kubangan kepentingan kelompok yang fana. Terlepas dari teori konspirasi yang sengaja diciptakan untuk melemahkan umat Islam, namun tetap saja umat Islam harus lebih dewasa dan bijak dalam melihat kepentingan Islam di atas kepentingan kelompok atau golongan.

Korelasi dengan kondisi diatas, pada kenyataannya di zaman sekarang hanya sedikit orang yang masih memegang teguh Islam sebagai pedoman dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dan bernegara. Indikatornya adalah banyak terjadi penyimpangan dari tingkat masyarakat bawah sampai pada taraf pemimpin negara. Perbuatan menyimpang norma susila seperti zina, pergaulan bebas, hamil sebelum menikah, tingkat kriminalitas yang  tinggi yang terjadi di level grass root sampai korupsi yang mewabah di instansi pemerintahan menjadi sebuah bukti  nyata belum diterapkannya syariat Islam khususnya di tanah air kita tercinta. Untuk mewujudkan penerapan syariat Islam tersebut mutlak dibutuhkan upaya dakwah yang mencakup segala aspek kehidupan. Setiap aspek kehidupan tersebut antara lain politik, sosial-budaya, hukum dan ekonomi adalah saling terkait dan tidak dapat saling menegasikan.

Dimensi Dakwah

Sekilas dinamika statement diatas terkait umat muslim dimedia, memunculkan berbagai cara atau pendekatan untuk dapat menyukseskan kembali misi dakwah. Dari dinamika yang berkembang muncullah istilah Islam struktural dan Islam kultural. Dua buah istilah tersebut lahir sebagai dampak pendekatan yang berbeda. Islam struktural adalah pendekatan dakwah di mana dalam pendekatan ini memandang proses islamisasi dilakukan secara legal formal melalui struktur kelembagaan. Karena proses islamisasi ini dilakukan secara legal formal maka untuk melakukannya membutuhkan bantuan dari berbagai perangkat sturktural. Jika kita berbicara dalam tataran negara, maka perangkat tersebut adalah parlemen. Di mana proses islamisi dimulai dari dalam tubuh parlemen dengan harapan jika proses ini berjalan dengan baik maka akan dihasilkan keputusan atau undang-undang yang mendukung tegaknya syariat Islam.

Pemikiran ini kemudian melahirkan pemikiran pentingnya masuk ke dalam ruang kekuasaan melalui partai politik, merebut berbagai posisi politik dalam lembaga legislatif dan eksekutif. Perlu dicatat, dalam eporia politik ini, institusi yudikatif hampir sepi dari sasaran rebutan kekuasaan. Ini bisa jadi menunjukkan lemahnya penguasaan bidang hukum dari kalangan pendukung Islam politik. Mereka lebih menguasai persoalan-persoalan administratif dan mobilisasi massa. Capaian akhirnya, tentu saja institusionalisasi politik Islam, yang dianggap sebagai jalan mujarab memperbaiki sistem politik yang korup dan mengabaikan kepentingan Islam.

Dakwah adalah usaha-usaha menyerukan dan menyampaikan kepada perorangan manusia dan seluruh umat menusia konsepsi Islam tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia ini, dan yang meliputi amar ma’ruf nahi munkar dengan berbagai macam cara dan media yang diperbolehkan akhlak dan membimbing pengalamannya dalam perikehidupan bermasyarakat dan perikehidupan bernegara. Dari sini kita harus lebih dalam memahami apa yang dimaksud Dimensi Dakwah Kultural?

Dakwah kultural adalah aktivitas dakwah yang menekankan pendekatan Islam kultural. Islam kultural adalah salah satu pendekatan yang berusaha meninjau kembali kaitan doktrin yang formal antara Islam dan politk atau Islam dan negara. Dakwah kultural hadir untuk mengukuhkan kearifan-kearifan lokal yang ada pada suatu pola budaya tertentu dengan cara memisahkannya dari unsur-unsur yang bertentangan dengan nilai-nilai dakwah kultural tidak menganggap power politik sebagai satu-satunya alat perjuangan dakwah. Dakwah kultural menjelaskan, bahwa dakwah itu sejatinya adalah membawa masyarakat agar mengenal kebaikan universal, kebaikan yang diakui oleh semua manusia tanpa mengenal batas ruang dan waktu. Dakwah Kultural memiliki peran yang sangat penting dalam kelanjutan misi Islam di Bumi ini. Suatu peran yang tak diwarisi Islam Politik atau struktural yang hanya mengejar kekuasaan yang instan. Oleh karena itu, dakwah kultular harus tetap ada hingga akhir zaman. Menurut Ketua PBNU Said Aqil Siradji, jika dilihat secara hiostoris dakwah kultural sudah ada sejak zaman Muawiyah yang dipelopori oleh Hasan Bashri (w. 110 H) yaitu dengan mendirikan forum kajian yang nantinya melahirkan para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu, hingga kemudian diteruskan oleh para Walisongo, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad dahlan dan lain sebagainya.

Dalam peranannya yang dimainkan oleh banyak cendekiawan Muslim, dakwah Kultural mempunyai dua fungsi Utama yaitu fungsi ke atas dan fungsi kebawah. Dalam fungsinya ke lapisan atas antara lain adalah tindakan dakwah yang mengartikulasikan aspirasi rakyat (umat muslim) terhadap kekuasaan. Fungsi ini untuk mengekspresikan aspirasi rakyat yang tidak mampu mereka ekspresikan sendiri dan karena ketidak mampuan para wakil rakyat untuk mengartikulasi aspirai rakyat. Fungsi ini berbeda dengan pola dakwah struktural karena pada fungsi ini lebih menekankan pada tersalurkannya aspirasi masyarakat bawah pada kalangan penentu kebijakan. Sedangkan pemahaman tentang fungsi dakwah kultural yang bersifat ke bawah adalah penyelenggaraan dakwah dalam bentuk penerjemahan ide-ide intelektual tingkat atas bagi umat muslim serta rakyat umumnya untuk membawakan transformasi sosial. Hal yang paling utama dalam fungsi ini adalah penerjemahan sumber-sumber agama (Al-Quran dan Sunnah) sebagai way of life. Fungsi dakwah kultular ini bernilai praktis dan mengambil bentuk utama dakwah bil hal. Peyebaran Islam ke berbagai wilayah di dunia ini, menyebabkan corak dan varian Islam memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri dari pada Islam yang berkembang di Jazirah Arab. Hal ini dapat dipahami karena setiap agama, tak terkecuali Islam, tidak bisa lepas dari realitas di mana ia berada. Islam bukanlah agama yang lahir dalam ruang yang hampa budaya. Antara Islam dan realiatas, meniscayakan adaya dialog yang terus berlangsung secara dinamis.

Kemunculan Islam kultural dapat disebut sebagai langkah strategis untuk menjaga dan mengembangkan keberadaan Islam dan umat Islam. Rusli Karim menyebutkan ada empat faktor yang mendorong kemunculan Islam kultural sebagai suatu gerakan pembaruan di Indonesia..Pertama, kemerdekaan yang dicapai bangsa Indonesia pada tahun 1945 telah menghilangkan sekat-sekat bagi umat Islam sehingga mereka mempunyai kesempatan yang sama dengan warga negara lainnya. Kedua, sebagai hasil dari sosialisasi nilai modern melalui “pendidikan umum” telah “membuka mata” umat Islam untuk lebih realistik dalam menghadapi realitas kehidupan sekarang ini. Ketiga, sebagai kesinambungan dari pencapaian pembaruan yang telah dirintis oleh kelompok modernis sepanjang abad ke-20. Keempat, sebagai realisasi dari tanggung jawab agama yang bertumpu kepada iman yang benar dan pemahaman yang cukup terhadap berbagai aspek ajaran Islam. Bila ditelisik lebih jauh, perkembangan Islam kultural di Indonesia merupakan keniscayaan sejarah. Sejak awal perkembangannya, Islam Indonesia adalah Islam pribumi yang disebarkan oleh Walisongo dan para pengikutnya dengan melakukan transformasi kultural dalam masyarakat. Islam dan tradisi tidak ditempatkan dalam posisi yang berhadap-hadapan, tapi didudukkan dalam kerangaka dialog kreatif, di mana diharapkan terjadi transformasi di dalamnya. Proses tranformasi kultural tersebut pada gilirannya menghasilkan perpaduan antara dua entitas: Islam dan Budaya lokal. Perpaduan inilah yang melahirkan tradisi-tradisi Islami yang hingga saat ini masih dipraktekkan dalam berbagai komunitas Islam kultural yang ada di Indonesia.

Konsep Dakwah Kultural

Baca :  Makna Hakiki Ied Mubarak

Pendekatan Islam secara kultural sebenarnya bermanfaat untuk mewujudkan masyarakat yang memiliki dan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan. Di sini peran ulama, kyai, modin atau pemuka agama memiliki peran vital karena apa yang menjadi perkataan kyai selalu dituruti masyarakat. Tentu bila dakwah Islam hanya dilakukan melalui kultural saja, apalagi menafikan, menegasikan, bahkan memusuhi gerakan dakwah lain tentu akan menjadi masalah. Konsep Islam apabila dipahami hanya dengan mengajarkan kesholehan pribadi, sifat sabar dan syukur, hidup untuk ridho Allah ternyata belum cukup untuk menolong saudara muslim Palestina yang menanti uluran tangan kita. Aksi itu belum cukup hanya dengan aksi solidaritas, mengutuk melalui media massa. Setan zionis sudah terlalu bebal dengan aksi-aksi macam tersebut. Sehingga butuh political will dari pemimpin Islam, dibutuhkan kekuatan Islam secara structural yang kuat dan memiliki bargaining position yang kuat di mata Internasional. Apabila posisi Islam di negara secara structural kuat, maka aka nada political will dan yang lebih penting lagi keberanian dari pemimpin-pemimpin Islam misalkan untuk boikot ekonomi terhadap produk zionis, pemutusan hubungan diplomatis, pengiriman bantuan tentara penjaga kedamaian dan lain sebagainya.

Ciri-ciri Konsep Dakwah Kultural yaitu :

Baca :  Makna Hakiki Ied Mubarak

1.Menggunakan dalil dan ayat al-quran.

2.Lebih menekankan pemahaman , persuasif terhadap sasaran dakwah agar sasaran dakwah melakukan amar maruf dan nahi munkar.

3.Tidak mengharuskan sang dai masuk ke system.

Pendapat penulis ada beberapa strategi di mana dakwah bisa menyelesaikan problem-problem yang ada di tengah Masyarakat antara lain sebagai berikut :

1.Dakwah harus dimulai dengan mencari kebutuhan masyarakat. Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan secara objektif dan kebutuhan yang dirasakan masyarakat setempat yang perlu mendapat perhatian.

2.Dakwah dilakukan secara terpadu.

3.Dakwah dilakukan dengan pendekatan partisipasi dari bawah. Hal ini bertujuan bahwa ide yang ditawarkan mendapat kesepakatan masyarakat.

4.Dakwah dilaksanakan melalui proses sistematika pemecahan masalah.

5.Dalam berdakwah gunakanlah teknologi yang sesuai dengan tepat guna.

6.Program dakwah dilaksanakan melalui tenaga dai yang bertindak sebagai motivator.

7.Dakwah didasarkan atas asas swadaya dan kerjasama. Hal ini bermaksud bahwa dakwah harus berangkat dari kemampuan diri sendiri dan kerjasama dari potensi-potensi yang ada. Dan bentuan dari pihak luar hanya dijadikan menjadi pelengkap saja.

Kesimpulan

Baca :  Makna Hakiki Ied Mubarak

Dari penjelasan di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa dakwah kultular adalah dakwah yang bersifat akomodatif terhadap nilai budaya sosial dan interaksi di masyarakat secara inovatif dan kreatif tanpa menghilangkan aspek subsatansial agama. Kedua, menekankan pentingnya kearifan dalam memahami kebudayaan, norma-norma sosial yang sudah menjadi panutan bagi masyarakat pada umumnya. Wallahu A’lam Bis Ashowab.

 

Penulis adalah :

Sekjen pusat Kajian Social Riset & Politic Development “MADANI INDONESIA”

Wakil Ketua Komunitas Masyarakat Santri “KOMAS” Bogor Raya

Sekretaris FANANIE CENTER Bogor Raya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here