Dualisme Berakhir, PB dan DPP PARFI Sepakat Islah !

1

LEAD.co.id | Dualisme PARFI, berakhir sudah. Ditandai dengan ditandatanganinya Nota Kesepakatan untuk meleburkan kedua organisasi antara Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PARFI pimpinan Aktor Kawakan Senior Soultan Saladin sebagai Pjs Ketua Umum (ketum) dengan pimpinan Pengurus Besar (PB) PARFI Febryan Adhitya, sebagai Ketumnya, menjadi satu dalam bentuk suatu presidium.

Momentum bersejarah bagi dunia Perfilman ini disaksikan oleh Sekjen DPP Parfi Dr. Kun Nurachadijat dan Wakil Ketua Umum PB Parfi Yos Santo, bertempat di bilangan Pasar Bersih Sentul City, Jumat (30/8/2019).

“Ini momentum yang sangat bermakna, PARFI harus bersatu kembali supaya marwah PARFI kembali utuh seperti sebelum kongres XV di Lombok 2016” tutur Ketum PB PARFI Febyan dengan berkaca kaca.

Sedangkan menurut Yos Santo selaku wakil Ketum PB Parfi mengharapkan agar PARFI bisa segemilang pada era Soekarno M Noor dan penggabungan kedua PARFI ini dapat merekatkan kembali para aktor/aktris film senior yang kini terserak di organisasi organisasi perfilman lainnya diluar PARFI.

Baca :  Menjawab Kebingungan Pelajar, FEB Ubinawan Kunjungi SMKN 4 Bogor

“Kita malu kepada para senior, yunior dan masyarakat Iuas kalau seperti kemarin terus. Dualisme memang sudah harus diakhiri sekarang juga,” tegas Yos Santo.

PJS Ketua Umum DPP Parfi Soultan Saladin yang sudah aktif di PARFI semenjak 1971, lebih berorientasi PARFI untuk masa depan setelah penyatuan kembali. Soultan berharap Parfi lebih memiliki reposisi strategis, “Parfi baru, di era milenial. Kedepannya harus benar benar diisi oleh orang orang yang memang memiliki jiwa keartisan dan seni dalam arti luas. Tinggalkan sifat sifat yang terstigma tentang orang orang PARFI selama ini, suka hedon foya foya mau enaknya saja sehingga lemah dalam manajerial. Ini saatnya kita berjuang bukan atas nama kepentingan kelompok lagi tapi kepentingan nasional, dimana film film nasional harus menjadi pribumi di negerinya sendiri” ujar pemeran Soekarno dalam film Zu Enlai In Bandung ini.

Baca :  Strategi Terobosan PMB FEB Ubinawan Mutualis Program IKAPEKSI

Dalam perspektif Dr. Kun peristiwa ini adalah suatu sejarah. Ia sangat bersyukur dan sangat terharu, tidak hanya tahu pergulirannya tapi juga secara kebetulan menjadi bagian dari sejarah itu sendiri karena 2 tahun lebih Dr. Kun bersama Soultan Saladin “bergerilya” agar PARFI tidak vacuum of power, tetap memiliki denyut, hingga kini bersatu kembali. Baginya, upaya tetap menjaga agar roda organisasi PARFI tidak mati suri selama ini, meskipun secuil tapi setidaknya turut andil berjuang bagi bangsa membendung arus deras serbuan budaya asing pengoyak kearifan lokal yang menunggangi tsunami globalisasi, ditengah persatuan bangsa sedang diuji. Ini yang Kun lihat selaku profesional dan ahli manajemen. “Setidaknya ancaman perang modern, berupa perang “cuci otak” melalui film salah satunya, dapat diredam agar bangsa kita tidak kian asing dengan budaya sendiri. Dan semoga kita masih memiliki berkepribadian yang berkebudayaan ditengah liberalisasi dalam banyak hal” tutur pemain sintron dan talent iklan serta pemeran pembantu peran utama di salah satu film thiller besutan sutradara Bayu Pamungkas di 2009.

Baca :  Menkumham Yasonna Laoly Terima DPP Parfi Pimpinan Soultan Saladin

Pertemuan ini akan dilanjutkan pembentukan presidium bersama, kemudian menyusun care taker yang secara paralel dengan audiensi ke Menkumham RI, Mendagri dan Mendikbud dengan puslitbang filmnya. Target utama setelah islah ini, adalah kongres PARFI bersama ke XVI terselenggara secepatnya. (AP)

1 KOMENTAR

  1. Terbaik.
    PARFI sebagai bagian Terpenting dari dunia film dan perfilman Indonesia, adalah kebutuhan.
    Alhamdulillah, semua kembali pada pelukan hangat Ibu Pertiwi.
    Terimakasih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here