Oleh: Ahmad Zacky Makarim
Ketiga institusi ini ibarat sebuah keluarga. Ada orang tua dengan dua anak. Orang tuanya adalah Pemerintah. Sedangkan dua anaknya adalah FPI sebagai adik dan Polisi sebagai kakak.
Hubungan kakak dengan adiknya kadang mesra ketika mempunyai agenda bersama. Walaupun tidak jarang hubungan mereka menjadi tidak akur karena suatu hal. Akhirnya timbul pertengkaran. Disinilah peran orang tua sangat vital dalam menjaga keharmonisan dalam keluarga.
Itu adalah bumbu-bumbu dalam rumah tangga. Termasuk yang sedang terjadi dalam rumah tangga yang bernama Indonesia. Belakangan ini terjadi peristiwa yang menjadi perhatian banyak pihak.
Yaitu bertengkarnya FPI (adik) dan Polisi (kakak). Peristiwanya terjadi di KM 50 tol Jakarta-Cikampek, Jawa Barat. Kejadiannya berlangsung pada dini hari pukul 01.30 WIB.
Ketika itu, Habib Rizieq Shihab (HRS) bersama keluarganya ingin menghadiri pengajian subuh di suatu tempat. Acaranya hanya untuk kalangan keluarga. Tidak terbuka untuk umum.
Dalam perjalanannya, HRS ditemani pengawal setianya dari Laskar Pembela Islam (LPI) beberapa orang. Rupanya, tanpa disadari rombongan HRS diikuti oleh sejumlah polisi berpakaian sipil. Menguntit di belakangnya.
Tidak tahu apa yang terjadi, 6 orang anggota FPI diberitakan tewas akibat bentrok dengan Polisi. Kendati demikian, Habib Rizieq berhasil lolos dari kejaran polisi untuk mengadakan pengajian subuh.
Siang harinya, linimasa media sosial dipenuhi berita terkait tewasnya pengawal Habib Rizieq. Stasiun TV secara mendadak mengadakan breaking news untuk memberitakan peristiwa tersebut. Belantara siber seketika dipenuhi dengan berita insiden tersebut.
Beragam spekulasi bermunculan. Dari pihak kepolisian mengatakan bahwa mereka diancam lebih dulu. Sehingga polisi yang berada di lapangan melakukan tindakan pembelaan dengan tegas dan terukur.
Sementara dari pihak FPI menyatakan bahwa anggota mereka diculik dan dibantai oleh pihak kepolisian. Tuduhan bahwa anggota FPI dipersenjatai juga dibantah oleh FPI. Hal ini dikutip dari pernyataan Sekretaris Umum FPI, Munarman.
Publik pun dibuat bingung karena masing-masing memiliki versi kebenarannya sendiri. Tidak tahu mana yang benar atau yang salah. Yang jelas, peristiwa ini memang harus diselidiki hingga tuntas. Khawatirnya muncul spekulasi extrajudicial killing yang merenggut nyawa manusia tanpa pengadilan.
Kejadian tersebut ternyata berbuntut panjang hingga hari ini. Setelah Habib Rizieq menyerahkan diri ke pihak kepolisian, simpatisan HRS mendatangi kantor polisi di beberapa tempat. Mereka menuntut keadilan dalam penegakkan hukum.
Dibalik peristiwa tersebut, banyak orang tua di luar sana yang prihatin melihat rumah tangga pemerintah yang gaduh. Mereka kasihan melihat kakak dan adiknya bertengkar hingga ada yang harus dikorbankan.
Salah satu tokohnya adalah Emha Ainun Nadjib. Atau yang dikenal dengan Cak Nun. Seorang budayawan cum filsuf cum ulama. Ia juga merupakan tokoh reformasi 98. Tokoh intelektual yang memiliki ribuan pengikut yang bernama Jamaah Maiyah.
Beliau angkat bicara terkait kasus tersebut. Dilansir dari Caknun.com, Cak Nun menyatakan bahwa peristiwa tewasnya anggota FPI merupakan akibat dari sebab yang belum kunjung selesai.
“Semua pertengkaran nasional yang tak ada ujungnya ini karena semua pihak tidak mempelajari, mendewasai, dan membijaksanai manajemen jarak antara musyawarah menuju mufakat dalam Sila-4 Pancasila,” imbuh Cak Nun.
Sebagai jalan tengahnya, Cak Nun seraya menyarankan agar pemerintah dan FPI mengadakan dialog. Komunikasi banyak arah. Di’wali‘i oleh Pak Jusuf Kalla atau KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) sebagai mediator. Bisa juga disusul dengan dialog yang lain.
Ada 3 prinsip yang harus dipegang. Pertama, menang bersama bukan menang sendiri. Kedua, semua InsyaAllah menjadi tenang dan adem dengan pertemuan itu. Ketiga, tidak boleh ada yang dipermalukan. Menang tanpo ngasorake.
Banyak pihak mengapresiasi saran Cak Nun. Namun, pelaksanaannya tentu tidak mudah. Dibutuhkan kebesaran jiwa untuk meletakkan ego dan kepentingan kelompok. Demi menenangkan suasana, baik di kalangan elit maupun masyarakat.
Bagaimanapun pihak-pihak yang bertikai adalah sesama Muslim. Tinggal di negara yang sama. Syahadatnya sama, sama-sama salat, dan semuanya merasa mencintai Indonesia.
Sebagaimana yang tertulis pada paragraf awal, dalam rumah tangga pemerintah pasti banyak cobaan dan ujian. Namun, yang harus disadari bahwa kekuasaan hanya sementara. Jabatan sifatnya temporer. Urip iku mung mampir ngombe (hidup cuma mampir minum).
Periode kekuasaan akan berganti suatu saat nanti. Tetapi negara akan tetap ada selamanya. Jangan korbankan rakyat hanya demi kepentingan sesaat. Yang terpenting adalah menjaga bahtera rumah tangga agar tetap stabil di tengah arus ombak yang besar.
Mudah-mudahan ada hikmah dibalik persoalan ini. Siapa tahu ada yang berubah pikiran dengan mengajak FPI, Polisi, dan Pemerintah untuk makan bersama. Ditemani dengan secangkir kopi hangat.
Lalu dalam suasana yang syahdu itu, orang tua dengan anaknya berdiskusi di bawah malam rembulan yang indah. Sambil menyadari bahwa Ibu Pertiwi sedang tidak baik-baik saja.
“FPI, Polisi, dan Pemerintah berdamailah”.
Penulis adalah Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malaysia

