HUT RI ke 74, LBH PMKRI Gelar Diakusi Publik

0

LEAD.co.id | Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pengurus Pusat PMKRI (PP PMKRI) Sanctus Thomas Aquinas, menyambut 74 tahun kemerdekaan Indonesia dengan menggelar acara diskusi publik bertema “Makna Proklamasi Dalam Konteks Berbangsa dan Bernegara”, Rabu (14/09/19).

Diskusi yang berlangsung di Hotel Istana Ratu, Jakarta Pusat tersebut, menghadirkan pembicara dari kalangan aktivis mahasiswa, politisi dan akademisi dan intelektual NU seperti Adrianus Pala, Budiman Sudjatmiko, Lidia Natalia Sartono, Abdul Ghopur.

Ketua Lembaga Bantuan Hukum PP PMKRI, Bojes Pala memaparkan bahwa, semangat Proklamasi sudah menjadi kewajiban para pemuda untuk menghayati jalan kemerdekaan sebagai kemenangan yang mulia bagi seluruh warga bangsa.

Baca :  Bendera Merah Putih Selimuti Setu Parigi Tangsel

Menyambut kemerdekaan bangsa Indonesia, Lanjut Adrianus, yang kini menapaki usia yang ke 74 tahun, kita harus merfleksikan kembali gagasan besar dan kekuatan bangsa yang tertanam dalam Proklamasi.

Adrianus menyinggung sebuah ujaran Soekarno yang sangat imajiner. Dalam konteks kemerdekaan, Soekarno pernah menyatakan pandangannya terhadap situasi dan masa depan bangsa Indonesia. Soekarno berujar “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri”.

“Hal ini membuktikan bahwa Sukarno tidak sekadar sebagai peletak kemerdekaan, tetapi Sukarno adalah pembaca tanda-tanda zaman yang baik,” Ungkar Adrianus yang juga selaku tokoh muda Ende tersebut.

Baca :  KKA Gelar Forum Diskusi Krisis Perlindungan Anak

Faktanya, tambah Adrianus, musuh kita hari ini adalah bukan lagi dijajah secara fisik, namun kita mengalami sebuah situasi yang cukup memprihatinkan. Kita memang merdeka secara fisik. Tapi tidak merdeka dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan teknologi.

“Di zaman penjajahan, para pemuda mendesak para penguasa untuk segera mengeluarkan Indonesia dari penjajahan. Di zaman ini pemuda lebih nyaman melakukan ritual menghamba pada kekuasaan. Sehingga para pemuda cenderung cacat dalam pikiran dan nurani untuk bagaimana mengevaluasi kepemimpinan yang cacat dalam memperjuangkan kemerdekaan,” tegas tokoh muda Ende tersebut.

Baca :  Diskusi dan Teater Kebudayaan, PB Inspira Angkat Isu Toleransi

Lebih lanjut Adrianus berpesan kepada para pemuda bahwa, sebagai penerus perjuangan bangsa dan cita-cita kemerdekaan, pemuda harus membatasi diri dalam sikap menghamba pada kekuasaan.

“Kita boleh dekat dengan penguasa, tapi tidak boleh nyaman dengan penguasa. Apalagi segala hal yang dilakukan pemerintah jauh dari cita-cita kemerdekaan. Tugas kita adalah mengevaluasi penguasa. Bukan tunduk dan takut pada penguasa,” ungkapnya. (Ul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here