Jalan Panjang Kota Berkeadaban

0
Integritas, Keselamatan, Pilkada, Depok
Dani Yanuar Eka Putra, S.E, A.k (Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kota Depok)

Oleh: Dani Yanuar Eka Putra, S.E, A.k

Diantara indikator peradaban adalah kejujuran. Dalam konteks agama, kejujuran menjadi ukuran keimanan seseorang. Bahkan jika tidak jujur atau berdusta maka lepas keimanannya. Sebagaimana hadist Nabi SAW  dari Shafwan bin Sulaim berkata; “Ditanyakan kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah seorang mukmin bisa menjadi  penakut?” Beliau menjawab: ‘Ya.” Kemudian ditanya lagi; “Apakah seorang  mukmin bisa menjadi bakhil?” Beliau menjawab: “Ya.” Lalu ditanyakan  lagi; “Apakah seorang mukmin bisa menjadi pembohong?” Beliau menjawab:  “Tidak.” (HR. Imam Malik No. 1571).

Dari dialog tersebut seolah Nabi Saw ingin menegaskan bahwa tidak ada toleransi pengakuan keimanan seseorang jika berperilaku dusta. Ketika dia berdusta maka lepaslah keimanannya. Karena iman dan dusta tidak akan pernah rukun dan sejalan. Inilah norma agama paling dasar dalam kehidupan bagi orang yang beriman.

Pada saat maret 2019, KPK memberikan sebuah data kepada masyarakat. Data tersebut adalah tentang apakah nilai2 kejujuran diajarkan oleh para org tua atau tidak kepada anaknya. Hasilnya mengejutkan bahwa hanya 5% orang tua yang mengajarkan kejujuran terhadap anaknya. Sebagian besar orang tua lebih khawatir terhadap capaian nilai akademik di sekolah dibandingkan dengan jika anaknya tidak jujur.

Baca :  Pemkab Pamekasan Terapkan Physical Distancing pada Marka Jalan

Pada tahun 2012, Anita E. Kelly profesor psikologi di University of Notre Dame melakukan proyek penelitian yang bernama “The Science of Honesty“. Hasil dari penelitian tersebut adalah, semakin sedikit orang berbohong, maka ia akan semakin berbahagia. Kebahagiaan diukur dengan ukuran untuk tidak berbohong.

Alain Cohn bersama dengan rekan-rekannya dari University of Michigan pada Juli 2019, melakukan penelitian dengan pengujian sosial menyebar “dompet hilang” sejumlah 17.303 di 40 negara kepada warga lokal. Hasilnya negara-negara Skandinavia adalah negara-negara yang teruji kejujurannya untuk mengembalikan dompet terutama dompet yang berisikan uang di dalamnya.

Negara-negara tersebut dengan urutan pertama adalah Swiss, urutan kedua adalah Norwegia, urutan ketiga Belanda, urutan keempat adalah Denmark, dan urutan kelima adalah Swedia. Sedangkan untuk urutan paling akhir yaitu Cina. Lalu dimanakah letak Indonesia? posisi Indonesia terletak pada urutan ke-33 setelah Ghana dan Uni Emirates Arab.

Baca :  Longsor, Jalan Penghubung Dua Desa di Kecamatan Tersono Tertutup

Dari tiga penelitian di atas bisa disimpulkan bahwa untuk menjadi negara beradab dengan kejujuran sebagai ukuran, sepertinya Indonesia masih jauh dari yang diharapkan. Indonesia sebenarnya tidak memiliki krisis dalam kecerdasan. Bahkan ribuan telah diluluskan di berbagai universitas. Baik di Indonesia ataupun luar negeri. Namun sepertinya yang memprihatinkan adalah dalam beberapa cerdasnya berlebihan berakibat pada seringkali mempermainkan dan menyiasati aturan dan hukum.

Lalu bagaimanakah dengan kota Depok?

Pada 9 Desember 2020 mendatang, Depok akan melaksanakan pemilihan calon Walikota dan Wakil Walikota. Permasalahan-permasalahan perihal kejujuran saat kontestasi masihlah menjadi permasalahan utama. Ketidakjujuran menjadi muatan moral sebagai definisi integritas selain iman, taqwa, dan intelektual masih akut dan mentradisi. Tanpa perlu ditegaskan dengan alasan kekuasaan suap-menyuap dalam bentuk mahar dan politik uangpun dilumrahkan oleh para elit.

Idealnya setiap perhelatan pemilihan kejujuran dikedepankan sebagai prinsip yang utama. Bukan mencurigai tawaran komitmen kejujuran, mengkalkulasi kejujuran sebagai dampak potensi kekuasaan, dan menghindari berbagai sikap dusta dalam lisan, perilaku, dan kepribadian. Hal-hal tuna moral tersebut haruslah dihindari oleh setiap stakeholder dalam pemilihan.

Baca :  Retak, Jalan Manunggal Kota Bogor Sementara Ditutup

Bagaimana mungkin pemimpin yang berkualitas dengan integritas akan lahir jika sebelum menjabat, saat berkontestasi enggan berkomitmen pada kejujuran. Yang lebih menyedihkan lagi adalah hampir semua dari kita telah menjadi bagian dari yang melumrahkan politik uang, emosional dalam pemilihan, dan mentradisikan politik transaksional yang jauh dari norma. Bahkan saat ini sebagian orang menganggap aneh jika ada orang, calon elit, penyelenggara, dan partai yang jujur.

Pada pilkada dan setiap fasenya, seluruh elemen Depok diuji kejujurannya. Kejujuran tersebut akan menentukan layakkah kota Depok sebagai Kota beradab? layakkah kota Depok sebagai kota bermoral? Seluruh jawabannya ditentukan oleh kita semua sebagai elit dan masyarakat sipil kota Depok.

Wallahu a’lam

Penulis adalah Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kota Depok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here