Janganlah Kultuskan Bung Karno

0
Bung Karno
Bung Karno (Presiden RI Pertama)

Oleh: Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, MSi

Menanggapi ada tulisan di WAG PPSN Intelektual, saya tergerak untuk sharing opini guna “mengoreksi” sejumlah pesan yg menarasikan mengenai Sang Proklamator Soekarno sebagai seorang ideolog, yang dianggap sebagai pencetus Pancasila.. apa iya? Coba kita telusuri sejarah lahirnya Pancasila yg sebenarnya bgm?.

Tapi ingat Pancasila yg sekarang yg telah menjadi dasar dan falsafah bangsa serta ideologi negara NKRI adalah hasil kesepakatan/konsensus nasional pada tgl 18/8-1945 dimana disyahkannya UUD 1945 di sidang PPKI yg kemudian menjadi konstitusi negara Indonesia; satu hari setelah proklamasi Kemerdekaan RI yg dibacakan Dekritnya atas nama bangsa Indonesia: Soekarno-Hatta di Jln Pengangsaan Timur Jkt pada hari Jumat 17 Agustus 1945.

Lihat saja 5 sila dalam Pancasila tsb berasal dari dokumen autentik Piagam Jakarta (yg kemudian telah dicoret 7 kata yg merupakan pengorbanan/jiwa besar para tokoh ummat Islam Indonesia ketika itu, demi terwujudnya NKRI). Dokumen Piagam Jakarta merupakan hasil kerja Team 9 yg dipimpin bpk Soekarno. Jadi Sila2 dalam Pancasila bukan karya Soekarno secara personal, sebagaimana dirujuk pidato Soekarno di Sidang ke 2 BPUPKI (yg sebelumnya didahului pidato Prof.Muh Yamin SH, pakar hukum pada sidang BPUPKI pertama). Soekarno memang menyebutkan sila-sila sbg dasar negara (yg diberi nama Pancasila) yg disampaikan Bung Karno waktu itu, pun isinya dan urutannya agak jauh berbeda (tidak sama) dgn rumusan hasil Team 9 yg menghasilkan Piagam Jakarta, yg merupakan hasil konsensus para tokoh nasional dari berbagai aliran paham dan agama yaitu Ir.Soekarno, Drs.Muhammad Hatta, Mr.AA Maramis, Abi Koesno Tjokroseojoso, Abdul Kahar Muzakir, Haji Agus Salim, Mr.Ahmad Soebardjo, KH. Wachid Hasjim dan Mr. Muhammad Yamin. Sila2 Pancasila yg kita anut sekarang yang diadopsi dari Piagam Jakarta, yang kemudian dimasukkan kedalam Pembukaan (Periambel) UUD 1945, sila-sila tersebut adalah:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa;
2. Kemanusiaan Yang Adil Beradab;
3. Persatuan Indonesia;
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ dan Perwakilan; dan
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Sila-sila tersebut diatas adalah hasil konsensus dan kesepakatan para pendiri negara (the faunding father) yang sangat cerdas (genuin) yang persis sama (copy-faste) dari Piagam Jakarta, setelah dicabut 7 (tujuh) kata yaitu: “dengan Kewajiban Menjalankan Syariah Islam bagi para pemeluk-pemeluknya”. Ini fakta sejarah yang sebenarnya tidak bisa dibelokkan. Ini wajib kita pahami dan taati serta amalkan dalam kehidupan sosial berbangsa dan bernegara. Memang dalam perjalanan kehidupan bernegara, sesuai dinamika politik nasional, Indonesia perbah memiliki UUD spt Konstitusi RIS, UUDS 1950 dan terjadi pasang surut (krisis) politik, akhirnya Presiden RI Ir.Soekarno membuat keputusan bersejarah untuk menyelamatkan NKRI berupa Dektrit Presiden 5 Juli 1959 untuk kembali memberlakukan UUD 1945 (asli, yg disyahkan tgl 18/8-1945) dalam praktek hukum nasional dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemudian Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dilegalisasi dengan dikukuhkan secara aklamasi oleh DPR pada tanggal 22 Juli 1959. Dan sila-sila Pancasila yg disebutkan tersebut diatas adalah Pancasila yg tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 (yang ruhnya salah satu: Piagam Jakarta) yang sah dan benar, yang berlaku hingga sekarang, insyaAllah untuk masa depan secara berkelanjutan (sustainable state) untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kita tidak boleh lupa dan atau berpura-pura lupa ingatan akan keputusan yg bersejarah tersebut yang dibuat pemimpin besar revolusi YM alm.Bung Karno.

Baca :  Pelurusan Sejarah Kuansing

Jadi ada klaim lahirnya Pancasila tgl 1 Juni 1945 sepatutnya kita pertanyakan?. Itu namanya ‘pembelokan’ dan ‘pemalsuan’ serta pengingkaran sejarah, karena tidak sesuai fakta2 dan dokumen (hasil sidang2 BPUPKI dan PPKI) yang sebenarnya. Jangan sampailah hasil kerja kolektif (team work) yang merupakan hasil ijtihat dan ijmak dari 9 org tokoh nasional, para pendiri bangsa tsb, digeser dan diplintir menjadi produk perorangan (private), yg ingin atau bermaksud untuk mengkultuskan YM bapak Ir.H. Soekarno. Hal ini tidak perlu terjadi, apabila kita jujur memahami sejarah nasional Indonesia moderen. Kejujuran sejarah kata kunci untuk menjamin semangat Persatuan dan Kesatuan Bangsa agar NKRI tetap lestari.

Selain itu, para ahli sejarah konstitusi haruslah jujur melihat perkembangan kehidupan bernegara akhir2 ini, dimana sdh ada Kepres RI yg keliru bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila jatuh pada tgl 1 Juni. Kemudian kita harus jujur pula berpendapat bahwa ada fakta ideologi komunisme (ateis, nonreligius) mulai bangkit lagi di tanah air pada akhir2 ini. Dan kita tahu dan paham bahwa ajaran/isme tidak bertuhan (ateisme) ini tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia asli (social-religius), dan bahkan sangat bertentangan dgn sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa (teis, religius). Kemudian kita juga mengerti, dalam sejarah baik pra-Proklamasi (era kolonial Hindia Belanda) dan maupun post- Proklamasi Kemerdekaan RI (era Orde Lama, dgn produk Nasakomnya Soekarno) mesin politik dan gerakan Komunisme tumbuh subur di masa itu dan menjadi 4 Partai terbesar meraih suara dalam Pemilu pertama thn 1950, dan yg menjelma menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI) yg kuat, memiliki berbagai Ormas berafiliasi PKI. Dalam catatan sejarah PKI beberapa kali memberontak dan berkhianat dengan cara membunuh dan menghabisi lawan2 dan musuh2 politiknya (sebut saja antara lain: 7 Jenderal TNI (peristiwa Lubang Buaya) dan para Kiyai dan ulama NU (di Madiun etc) dan Muhammadyah dll.

Mereka yg beraliran komunisme ini sangat kejam sekali, dan telah berbuat tidak berkemanusiaan (perilaku biadab) sikap- berperilakunya bertentangan dengan Sila kedua Pancasila: Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

Dalam kajian sejarah gerakan kemerdekaan (titik kulminasinya Proklamasi RI tgl 17/8-1945) PKI, menurut para sejarawan tidak memiliki andil (tidak terlibat) dalam mendorong dan mendukung Kemerdekaan Bangsa Indonesia, agar terlepas dari penjajahan Belanda dan Jepang (itu menurut catatan para ahli sejarah, lihat slide Bangkitnya PKI yang telah viral di medsos).

Yang Mulia (YM) Bapak alm. Ir.H. Soekarno sebagai Pemimpin bangsa dan Proklamator RI bersama Drs.Muhammad Hatta, begitu besar jasanya dalam menghalau dan mengusir penjajahan Belanda dari bumi Indonesia yaitu 3,5 abad menjajah Indonesia, dan 3,5 tahun dijajah Jepang, sangat lama. Almarhum telah berhasil membebaskan rakyat dari penindasan kaum penjajahan (zholimun) yang telah membuat rakyat menjadi sangat sengsara dan menderita (yg kita kenal jargonnya Ampera). Ini harus kita akui dan appresiasi maha karya Bung Karno, jika kita sebagai WNI yang baik dan waras. Bapak Soekarnolah sbg tokoh penggerak dan pemersatu bangsa. Bapak Ir.H. Soekarno dengan semangat perlawanan, dengan berpidato yang berapi-api menggelorakan semangat rakyat untuk merdeka di masa itu. Akibatnya beliau almarhum keluar-masuk penjara oleh kaum penjajah Hindia Belanda yaitu dikurung di penjara Sukamiskin Bandung, dan juga diasingkan di Ende NTT, dan Bengkulu-Sumatera, etc. Kita tentunya terus ingat akan bukti sejarah ini, dalam pelajaran sejarah ada pembelaan (pledoi) Ir Soekarno yang sangat patriotik dibacakan di Pengadilan di Kota Bandung (kira2 thn 1928 ?) Bung Karno menuntut Indonesia Merdeka, anti kapitalis dan anti penjajah, anti kolonialisme seperti yg dimuat dalam pledoinya, yang telah dibukukan berjudul “Indonesia Menggugat”. Hal ini fakta sejarah kita akui secara jujur begitulah jasa2 sbg pemimpin besar revolusi YM Bpk Ir. Soekarno, dan kita wajib menghormati dan memuliakan almarhum sbg seorang Pahlawan Bangsa. Mari kita bacakan Al Quran surah Al Fatihah untuk dihadiahkan kepada almarhum pak Karno, semoga beliau ditempatkan sebaik-baik disisiNya: damai dan berbahagia di Surgajannatunnaim.

Baca :  Renungan Pagi: Nikmatnya Kasih Sayang Ibu

Tapi harus diingat dan jujur kita berpendapat bahwa ‘kebesaran’ Ir. Soekarno bukanlah dia Malaikat dan atau Nabi, tetapi beliau Sang Proklamator ini hanyalah seorang Manusia biasa (makhluk ciptaan Tuhan) yg mempunyai kelebihan dan juga memiliki berbagai kelemahan dan keterbatasan2 dalam menjalani hidup, diantara diakhir kekuasaannya sbg Presiden RI pertama, beliau “terjebak dan berkongsi”, berkalaborasi dengan Partai Komunis Indonesia/PKI (dibawa kepemimpinan Aidit dan Nyoto dkk) untuk mewujudkan ambisi konsep Nasakom dan gerakan revolusionernya, yg bergaya otoriter, dan salah satunya berhasil membubarkan Masyumi, Partai Murba, PSI etc yg dianggap kontrarevolusioner. Dan ada sejumlah para ulama yang difitnah spt Prof. Buya Hamka, Ustadz Dr. Muh Nasir, KH Soleh Iskandar, KH Isya Anshori, KH Zainal Muttaqin, KH Yunan Nasution, dan lain-lain, yang kemudian mereka dimasukan ke penjara (sebagai tahanan negara) oleh rezim Soekarno tanpa adanya proses persidangan di pengadilan. Ada perbuatan kesewenangan dan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) atas fitnah PKI. Sedangkan upaya membubarkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Jakarta juga terjadi, HMI difitnah sbg elemen yg kontra revolusioner, tetapi gagal dilakukan. Alhamdulillah, ternyata Allah SWT masih memberikan perlindungan terhadap ormas mhs Islam (HMI) sebagai site effect dari peristiwa G 30 Sept PKI, yg ditumpas oleh TNI AD yang dipimpin oleh bpk Jenderal Soeharto (pemegang mandat Supersemar, dan kemudian menjadi Presiden RI kedua selama lk 32 thn berkuasa), bapak Harto sangat besar jasanya dalam menumpas gerakan PKI, dan didukung oleh banyak Elemen2 di masyarakat (Ormas) Pront Pembela dan Pendukung Pancasila. Soekarno diakhir khayatnya “tidak bisa” mempertanggungjawabkan adanya prahara penghianatan PKI pada sidang MPRS RI yg digelar awal Orde Baru. Oleh karena itu keluarlah Tap MPRS RI yang melarang ideologi Komunisme/PKI, Marzisme dan Leninisme di NKRI.

Jadi adanya Pancasila diperas menjadi Trisila kemudian bermetamorposis dan menjelma menjadi Ekasila (Gotong Royong) itu adalah pemikiran besar yg bersifat pribadi dari bpk Ir. H.Soekarno yg disampaikan dalam pidato kenegaraan sbg Presiden RI, dan belum pernah dan atau bahkan tidak ada persetujuan menjadi konsensus nasional. Misalnya ditetapkan Badan Konstituante RIS, DPR, dan atau sejenis Lembaga Negara MPR RI, sepengetahuan kita tentang hal ini belum pernah terjadi pembahasan apalagi penetapannya sbg produk hukum di negeri ini. Simpulannya jika ada RUU yg berisikan Pancasila menjadi Trisila dan Ekasila (gotong royong) sebagaimana kita temukan dalam RUU tentang Haluan Ideologi Pancasila (HIP) saat ini hasil inisiatif DPR RI sangat wajar banyak ormas Islam yg menentangnya dengan keras (marah) dan menolak tegas RUU HIP seperti ormas MUI, LVRI, NU, Muhammadyah, KAHMI, FPI, Persis, DDI, dll. Ini RUU HIP jelas2 bertentangan.dengan sistem nilai dan norma serta kaidah hukum Pancasila sebagai konsensus nasional; dan juga gejala ini terjadi sbg pertanda dibangkitkannya kembali eksistensi PKI di dalam wadah negara NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Ini harus diwaspadai, ditangkal dan ditolak jangan sampai RUU HIP menjadi sebuah UU yg sah…gawat NKRI bisa ‘ambiyar’ (bubar) meminjam istilah seniman campursari alm.Didi Kempot.

Baca :  Kesan Terhadap Budayawan Besar MH Ainun Najib

Jika RUU HIP berhasil disyahkan DPR RI, dan kemudan dijalankan akan menabrak Sila ketiga Pancasila; Persatuan Indonesia, konflik sosial terbuka karena faktor perbedaan ideologi akan terjadi Sebab dalam pasal2 RUU HIP yg diusulkan Fraksi PDIP di DPR RI didalamnya tidak terdapat TAP MPRS RI tentang Pelarangan Ideologi Komunisme/PKI di NKRI, yang dijadikan sebagai dasar pertimbangan RUU HIP tsb. Sementara beberapa tahun terakhir kepemimpinan era Presiden RI bpk Jokowi ada banyak isu2 dan pemberitaan2 (terutama menyebar di Media Sosial) ada sejumlah fakta bahwa ada gejala kader2 dan anak2 PKI bangkit kembali menyuarakan aspirasinya dengan mengelabui/merubah sejarah G 30 S PKI bukanlah penghianat kpd bangsa dan negara, dan opininya dibelokkan dengan makna sebaliknya yaitu justru PKI yg dikhianati. Hal ini merupakan sebuah sikap dari kader2 PKI yg bersifat bias sejarah (ahistoris), dan kemudian mereka menuntut Negara agar meminta maaf kepada PKI. Ini sesuatu permintaan yg sangat berlebihan dan melampaui batas. Meminjam istilah Ustadz Habib Riziq (Ketum FPI) yg disampaikan dalam sebuah forum simposium.nasional di Jakarta, kata beliau seharusnya anak2 keturunan orang PKI tsb seharusnya banyak2 berterima kasih kpd ummat Islam dan bersyukur kpd Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT bahwa mereka telah diberi hak (kenikmatan) yg sama dalam pemerintahan, berusaha dan hak2 sosial lainnya, sama dengan warga negara Indonesia lainnya. Mereka tidak diganggu oleh ummat Islam, sepanjang tidak merongrong ideologi Pancasila dan membangkitkan paham komunisme/PKI.

Dan banyak lagi fenomena2 dan indikator2 sosial pertanda akan bangkitnya PKI yg sungguh mencemaskan rakyat Indonesia yg traumatik terhadap kejahatan PKI, kasus2 pembunuhan para tokoh politik dan ulama yg berseberangan denga paham komunis, yg pernah terjadi di Madiun, Jakarta dan kota2 besar lainnya di seluruh Indonesia.

Simpulannya tentang Gotong Royong adalah sesuatu pola budaya bangsa Indonesia yg sdh lama eksis di masyarakat Indonesia, dan dapat dikatakan itu bukan pemikiran asli Soekarno sendiri, akan tetapi itu adalah produk kolektif dari puncak2 kebudayaan nasional kita bangsa Indonesia yang agung. Menurut pendapat saya tidak perlu kita melebih-lebihkan atau menyanjung-nyanjung seperti ada tulisan di WAG PPSN Intelektual : “Menggambarkan Seorang Soekarno seperti kita menggambarkan seorang manusia dalan beberapa bentuk”. Terus terang saya tidak sependapat dgn statemen ini dengan alasan seperti yg saya uraikan diatas.

Semoga tulisan ini.bisa menyadarkan ummat dan bangsa terhadap sudah adanya fenomena2 sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yg berwajah “anomali” dan “paradoks” yg harus diwaspadai oleh segenap elemen2 masyarakat pro- Pancasila dan NKRI berdasarkan Pancasila (versi tgl 18/8-1945) dan UUD 1945 yang asli (bukan yg UUD 1945 produk Amandemen pasca Reformasi) adalah final dan NKRI harga mati.

Semoga Allah SWT selalu melindungi dan menolong.hamba2Nya yg soleh agar terhindar dari bencana dan malapetaka bangkitnya PKI di negara kita Indonesia yg kita cintai. Amin3 YRA. Wassalam.

Penulisa adalah Dosen, Konsultan dan Aktivis Ormas di Bogor 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here