Melupakan Al Qur’an, Pandemi Covid 19 pun Mengancam

0
Apendi Arsyad, Pengamat, Koperasi, Dosen, Universitas Djuanda
Dr. H. Apendi Arsyad (Pengamat Koperasi, Dosen Universitas Djuanda Bogor)

Oleh: Dr.H. Apendi Arsyad

Bismillahir Rahmanir Rahiem

Assalamu’alaikum… Terima kasih respon sahabatku Syahrizal (di Rengat, Inhu Prov.Riau) atas tulisan saya yang dikirim via media sosial dengan WA Japri, yang berjudul “Bertadharus Al Qur’an menjadi Kebutuhan Dasar Hidup Manusia (Human Basic Need)”, alhamdulillah diappresiasi. Menurut pendapat saya, kita sepakat, begitulah pentingnya peran dan fungsi Al Qur’an untuk menjamin keselamatan kehidupan ummat manusia di dunia dan juga kehidupan akhirats. Dan barangtentu diharapkan fungsinya dapat mewarnai kebaikan, kemaslahatan segala aspek kehidupan ummat manusia baik secara individu maupun kolektif (social-life) di lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, kita harus membaca Al Qur’an, dengan tekun dan bersungguh-sungguh secara rutin dan terus-menerus (sustainability) setiap saat. Kemudian pahami arti dan maknanya secara baik dan benar, dan khayati dengab meresapkan di relung hati (qalbu) kita yang dalam. Terakhir yang teramat penting, berikhtiar mengamalkannya secara konsisten (istiqomah) dari sejumlah ajaran2, yang difirmankan Allah SWT dalam kitab suci Al Qur’annulkariem dalam keseharian kita. InsyaAllah kita akan bisa membentuk pola berperilaku manusia yg mulia (akhlaqul karimah) sebagai hamba dan khalifahtullah di bumi. Konsekwensi terakhirnya, dengan rajinnya bertadharus Al Quran juga akan memunculkan sikap pembelaan terhadap agama yg kita anut Islam (Dinnulislam). Dengan Dinnulislam, pola berperilaku akan gemar mengajak manusia lain untuk berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran (“beramal makruf-nahi mungkar”). Sikap pembelaan terhadap Dinnulislam itu, kita kenal sebagai amal- perbuatan “jihad-fisabillah”. Kehidupan jiwa raga kita hendaknya sudah menyatu dengan Dinnulislam, ikhlas dan rela berkorban untuk menegakkan dan menjaga agama Allah dengan niat beribadah semata-mata karena Allah SWT.

Dalam aqidah-Islamiyah, kita meyakini bahwa apabila kita menjalankan proses aktivitas ibadah secara konsisten (istiqomah), akan mengantarkan kita manusia ke jalan keselamatan baik semasa hidup dunia maupun di akhirats kelak setelah kita berpulang kerahmatullah, bila ajalnya tiba. Ingat!, setiap makhluk bernyawa akan menemui kematian, dan kita wajib percaya akan adanya kehidupan akhirat yg waktu sangat lama dibanding waktu di dunia (satu hari diakhirats, seribu hari waktunya di dunia). Kepercayaan terhadap hari akhirat ini sebagaimana banyak dijelaskan dalam ayat2 di Al Quran akan mendorong manusia yang beriman dan bertaqwa untuk senantiasa berbuat kebajikan dan berakhlaq baik dan mulia.

Al Quran itu sebagaimana kita sama2 ketahui adalah kumpulan seperangkat ajaran kebenaran (the true: wahyu) dari Tuhan-Allah SWT (Dinnuiislam) dan fungsinya sebagai petunjuk hidup manusia (hudallinnas). Al Qur’an secara fitrawi bukan saja menuntun pola berperilaku seluruh ummat manusia termasuk non-muslim, dan terlebih bagi kaum mukminin yg telah beriman dan bertaqwa (bersahadat) kepada Allah SWT semata, dengan budaya Bertauhidnya, kitab suci Al Quran wajib kita pedomani, dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari !.

Bang Rizal…dalam rangka kita “beramar makruf” kepada antar sesama (hablumminnas). Dipersilakan saja dishare, disosialisasikan artikel tersebut kepada para Sahabat kita, dan lingkungan sosial lainnya. InsyaAllah budaya bertadharus Al Qur’an bisa berkembang di kalangan Ummat Muslim khususnya, dalam rangka untuk meraih jalan hidup (way of life) yang berkeselamatan guna mendapatkan ketentraman, kebahagiaan dan keselamatan hidup di dunia, dan juga meraih pahala bekal kehidupan kita di akhirats untuk menuju Surga-jannatun-naim. Amin3 YRA.

Ketentraman, kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan (4- K) hidup ummat manusia, terutama kaum muslimin di dunia belakangan ini, seolah-olah sangat sulit kita dapatkan dan raih bersama. Hal ini dibuktikan dan ditandai terjadinya berbagai masalah sosial dan penyakit sosial, serta berbagai bentuk bencana, yang kian marak bermunculan di tengah kehidupan kita, sehingga menggerus dan mereduksi berbagai kenikmatan hidup seperti 4- K diatas. Masalah2 sosial yg masih mendera ummat manusia antara lain sebut saja antara lain: peristiwa kemiskinan, kemelaratan dan keterbelakangan sebagian besar ummat manusia, serta ketimpangan sosial yg semakin menganga, akibat ketidakadilan sosial yang terus dilakukan oleh para penjahat (orang2 zholim). Sedangkan penyakit sosial juga begitu banyak mengitari hidup kita, sebut saja: Semakin maraknya perbuatan korupsi dan perilaku illegal. Perbuatan kriminal tsb berupa perampasan dengan memakan haq2 orang lain, menggeser hak kepemilikan SDA/barang publik menjadi milik pribadi, mencemari lingkungan (environment pollutions) yang merugikan publik; degradasi fungsi2 ekosistem alam akibat overexploitasi, etc); berkembang- biaknya perbuatan maksiat LGBT/lesbiyan-sodomi, perzinaan, perselingkuhan, broken-home, etc). Maraknya perbuatan pidana dalam berbagai pola dan bentuknya (termasuk penyalahgunaan narkoba); peperangan dan konflik sosial memperebutkan pengaruh kekuasaan dan perebutan sumberdaya alam dan jasa2 lingkungan; kenakalan remaja (tawuran pelajar, narkoba, pergaulan bebas-kumpul kebo/perkawinan diluar nikah, aborsi, etc); dan berkembangnya pola berekonomi dan perbankan ribawi (manusia terjerat hutang-piutang, dengan bunga (rente) mencekik rakyat dan bangsa, semakin jauh dari kehidupan jual-beli halalan toyiban dan kehidupan saling menolong, etc); dan berperilaku lainnya yang bertentangan dengan nilai2 kemanusiaan (dehumanisasi) seperti upah buruh dan karyawan yg rendah dibawah UMR, perbudakan nelayan di kapal asing; penjajahan ekonomi “neokapitalisme”, keserakahan, eksternalitas negatif, abuse of power, etc). Selain itu, juga muncul perlombaan senjata nuklear sebagai peralatan perang; dan ditemukannya teknologi senjata pemusnah kimia dan mikrobiologi yang bisa menghancurkan kehidupan antar bangsa; serta yg lebih tragis munculnya perbuatan terrorisme dan radikalisme yang menggunakan jargon2 agama untuk berbuat kekerasan dengan menggunakan bahan peledak/ bom bunuh diri, etc. Itulah sederet perbuatan maksiat manusia “moderen” yang dimurkai Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT.

Baca :  Paguyuban Batacigor Tetap Jalin Silaturrahim di tengah Pandemi

Dugaan saya begitu banyaknya bencana alam yang mendera ummat manusia hingga kini, yang menjadikan hidup susah-sengsara sebagai dampak-balik (kick-off) dari berbagai perbuatan maksiat (durjana) tsb, yg barangtentu dilakukan oleh para kafirun, fasikun, munafikun dan musrikun (para dajjal) sebagaimana disebutkan diatas.

Dalam perspektif Al Qur’an adanya “dampak-balik” tsb dapat kita jelaskan bahwa dengan merajalelanya perbuatan maksiat dan kejahatan di suatu negeri di dunia ini, maka Allah SWT turunkan dan datangkan berupa azab dan laknatNya terhadap manusia yg zholim tsb. Dalam Al Qur’an, Allah berfirman bahwa bencana alam yang terjadi itu akibat ulah-perbuatan manusia itu sendiri, yang kemudian menzholomi dirinya sendiri, dan atau ulah para ‘dajjal’. Sehingga Tuhan-Allah SWT memberikan azab dan laknatNya yang sebenarnya, dan itu bukan kejadian saat ini saja, melainkan sudah pernah terjadi pada masa2 ummat2 terdahulu, beribu-ribu tahun yang lalu seperti peristiwa bencana banjir besar, gempa bumi, gunung meletus, hujan batu, kekeringan, angin topan, berjangkit hama, penularan wabah penyakit, dan tanah longsor lain-lain yang menimpa ummat manusia (kaum), yang ketika itu menolak perintah2 Allah SWT yang pernah disampaikan para Nabi dan Rasul (Ibrahim, Musa,Yakub, Nuh, Lut, Syuaib, Ilyas, Zakaria, Isya, dll, dan terakhir nabi dan rasul Muhammad SAW), tetapi kaum di kala itu menolak dan mengingkarinya seruan2 para Nabi dan Rasul tsb untuk menyembah Allah SWT semata. Mereka kaum nabi2 terdahulu tetap berbuat maksiat dan menyembah berhala2 buatan tangannya sendiri (musrik).

Baca :  Paradox dan Anomali Sektor Pertanian

Apabila kita rajin bertadharus Al Al Qur’an dan membaca terjemahannya, serta memahami makna ayat2Nya, maka kita akan bisa menjelas berbagai gejala dan bencana alam yang terjadi di sekitar kita di abad ini, sebagai azab dan laknat dari Tuhan-Allah SWT.

Kesimpulan inilah yg amat jarang, dan bahkan nihil yang hinggap dalam benak para pemimpin kita baik Umaroh (Ulil Amri) maupun sebagian besar para ilmuan sekuler yg menguasai opini publik.
Coba kita lihat berita di media massa amat jarang kita mendengar bahwa kasus menyebarnya wabah virus baru Corona di tahun 2019 (Covid 19) ini; bencana tanah longsor menghilangkan banyak nyawa dan menghancurkan pemukiman (Bogor dan Lebak Banten dll), Peristiwa Gunung berapi meletus; terjadi gempa bumi secara bertubi-tubi (di Sumatera, Jawa Barat, Jogyakarta, NTB, Bali, Palu, Ambon dll); bencana tsunani Aceh Desember 2004 yg menelan banyak korban nyawa dan harta. Itu semua merupakan pelajaran (iktibar), peringatan, dan sekaligus azab dan bahkan kemungkinan laknat dari Allah SWT karena ingkar pada Sunnatullah.

Buktinya, dalam merespon peristiwa2 bencana tersebut, pada umumnya orang2 banyak berbicara, terutama kalangan para birokrat dan pejabat, dan terutama para ilmuwan yg bekerja di BMKG menjelaskan bahwa kejadian2 gempa bumi itu akibat bergesernya “lempengan bumi”. Dan jarang sekali kita mendengar pendapat para pakar dan atau keterangan resmi dari Pemerintah bahwa bencana alam tersebut akibat ulah manusia yg gemar berbuat dosa-maksiat, dan selalu berbuat zholim antar sesamanya, termasuk zholim terhadap lingkungan alam dan sosialnya.

Mereka, rakyat dan ummat, bangsa bahkan para pemimpin di negeri ini sudah terlalu jauh berperilaku menyimpang (sesat dan menyesatkan) dari ajaran agama Islam yg berlandaskan Al Qur’an, melupakan Kitab suci dan Sunnahrasulullah (QnS). Hal ini terjadi kemungkinan akibat kurang pahamnya tentang isi kandungan firman2 (ayat2) Allah dalam Al Quran, karena memang Al Quran sebagai kitab suci jarang, dan bahkan tidak pernah dibaca dengan baik dan bersungguh-sungguh (khusuk dan tawadhuak) dan atau tidak pernah disentuh.

Maaf, pada umumnya dari gejala yang tampak dalam kehidupan sosial kita saat ini, Al Qur’an hanya dijadikan sebagai pajangan, jimat2 penolak bala, perlombaan MTQ, ritual sesat lainnya, dan bahkan yg sangat menyesatkan adalah ayat2 Al Qur’an hanya dipakai untuk ‘dijual’ untuk meraih dukungan suara (dalam pemilu). Ada juga yg berkedok agama untuk menumpuk-numpuk harta dengan korupsi ketika berkuasa untuk hidup bermega-megahan (hedonistic). Keserakahan mengeksploitasi sumberdaya alam berlebihan tanpa mengindahkan daya dukung lingkungan, nir-conservation juga menjadi-jadi, dan menghalalkan segala cara dalam proses merebut kekuasaan/tahta melalui suap menyuap dan berperilaku zholim ketika berkuasa yaitu otoriter, berbuat semena-mena (abuse of power), karena sistem organisasi dan manajemen dibangun tanpa kontrol dan demokrasi mati suri. Sehingga kita tidak heran (kaget) bermunculannya berbagai penyakit dan wabah 4-K berupa kesengsaraan kolektif, yg menimpa kebanyakan nasib ummat Muslim di era milenial seperti sekarang ini, karena ketidakkonsistensi (nir-istiqomah) dalam menjalan ajaran Agamanya. Bahkan semakin banyak mengingkari ayat2 dan firman Allah (Al Quranulkarim) dalam kehidupannya.

Ya… akibat beginilah nasib ummat dan bangsa ini, kita banyak diberikan berbagai musibah dan ujian/cobaan2 oleh Allah SWT. Oleh karena itu, mulai saat ini seharusnya kita sadar atas berbagai bencana alam (azab dan laknatullah) tsb, dengan merubah pola perilaku kita yg selalu ingat akan perintah2 Allah dan sekaligus menjauhi larangan2 Allah SWT (dengan zikrullaah) dan minta ampun (astaghfirullaah- halaziem) serta bertaubat sesungguh-sungguhnya (toubatan-nasuha) kepada Allah SWT agar tidak berbuat maksiat lagi, hijrah (good by) dari kemaksiatan.

Baca :  Dompet Dhuafa Launching Pelajar Berjuang Belajar di tengah Pandemi

InsyaAllah dengan membudayakan bertadharus Al Qur’an yang telah menjadi kebutuhan dasar hidup kita sebagai manusia (our human basic needs). Bertadarus itu merupakan cara dan solusi terbaik (best practices), berzikrullah untuk bisa meraih ketentraman hati (sakinah), berkasih sayang (mawaddah warohmah), kebahagiaan (happines) bagi manusia dan kesejahteraan sosial (social walfare).

Dengan rajin beribadah bertadharus Al Qur’an kita akan bisa meraih keselamatan, sebab doa2 yg dibaca, akan mencegah dan insyaAllah bisa menolak bala: Kemurkaan, azab dan laknat dari Allah SWT. Oleh karena itu seharusnyalah kita meminta kepada Allah SWT setiap saat, agar kita terhindar dari pandemi Covid 19, yg amat mencemaskan dalam kehidupan kita ummat manusia di abad ini.

Selaku Dosen, adanya peristiwa demi peristiwa bencana alam (musibah) yang menyesengsarakan kita ini. Saya selalu mengingatkan para mahasiswa dalam kesempatan waktu perkuliahan, diingatkan bahwa bencana seperti pandemi Covid 19 ini bukan fenomena alam semata, akan tetapi musibah ini merupakan peringatan, teguran keras, azab yang pedih dan bahkan mungkin ini merupakan laknat dari Allah SWT sebagai dampak-balik (kick-off) meningkatnya perilaku sesat dan jahat yg diperbuat oleh kaum kafirun, munafikun, fasikun dan musrikun, serta sekuler lainnya yang populasi “para dajjal” ini dapat dikatakan kian membesar populasinya di muka bumi pada era abad 21 (millenial era) sekarang ini.

Ulah perbuatan mereka, ekosistem alam sudah banyak yang rusak fungsi2 ekologisnya, karena keserakahan dari segelintir orang, yg mengeksploitasi sampai menipis (deplation) stoknya dan bahkan ada yg punah organ2 dan komponen ekosistem alam, baik berupa sumberdaya hayati maupun non-hayati, serta lingkungan hidup pun dicemari. Akibatnya keseimbangan alam pun terganggu dan terjadilah bencana alam yang menimpa dan merugikan ummat manusia tidak terelakan di muka bumi ini. Dengan kejadian bencana alam tersebut, kebanyakan manusia “moderen sekuler” pada umumnya kurang atau belum menyadari hakekat dan makna yang sebenarnya Siapa Yg Membuat semuanya itu (bencana alam), yaitu Tuhan Yang Mahakuasa, Allah SWT. Lemahnya kesadaran tsb, maka dari waktu ke waktu tidak ada perubahan pola berperilaku ke arah yg lebih baik (beradab) dari manusia. Dengan kata lain tidak adanya sikap pertaubatan atas kesalahan yang mereka telah perbuat selama ini. Akhirnya Tuhan Allah SWT pun memperingatkan dengan menurunkan ‘azabnya’ di muka bumi seperti kasus pandemi Covid 19 yang tengah alami ini, dimana sebagian ummat manusia dihampir semua negara terpapar pandemi Covid 19 dan jutaan jiwa meninggal dunia.

Sekian dan terima kasih atas perhatiannya. Mudah2an dari apa dan bagaimana pentingnya bertadharus Al Qur’an dampaknya terhadap berperilaku baik, yang saya narasikan ini. Harapannya membawa manfaat bagi para pembaca sekalian. Tak lupa saya memohon maaf, apabila ada hal2 yang kurang berkenan di hati.
Semoga Allah SWT memberikan Rahmat, Karunia dan HidayahNya kepada kita para pemerhati sosial, Amin3 YRA. Sukron, barakallah.

Wabillahit taufiq walhidayah Wr Wb

Dr.Ir.H.Apendi Arsyad.MSi (Penulis adalah Pendiri-Dosen-Assosiate Profesor pada Program Studi Agribisnis Faperta Universitas Djuanda Bogor; konsultan dan Aktifis di beberapa Ormas di Bogor).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here