Oleh: Rida Nurdiani
Hampir dua tahun dunia diguncang Pandemi Covid 19. Derita dan nestapa belum sirna. Perubahan peradaban panca Covid-19 juga kan terjadi. Pola kehidupan dan kebiasaan akan tumbuh seiring waktu. Ani adalah seorang guru ASN di SMPN 20 Kota Hujan, tentu merasakan kesedihan tatkala membaca WA jafri murid-muridnya keluhan sekitar belajar. Murid hanya belajar secara daring tentunya tidak maksimal.
Hanya bagi Ani yang merangkap Kepala Perpustakaan SMPN yang tentunya masih bisa datang ke sekolah karena sebagai Kepala Perpustakaan sekolah. Banyak orang tua atau wali murid karena mengembalikan buku paket yang dipinjam siswa-siswi.
“Bagiku tidak menjadi beban datang ke sekolah setiap hari, karena tugas dan fungsinya. Jujur kalau bicara sibuk di rumah karena menambag dua cucu sekaligus alias punya si kembar”, gumamnya tak kala tidak ada guru yang menemani.
Seperti biasanya pulang pukul 15.00 atau jelang magrib jika pekerjaan perpustakaan belum selesai. “Semuanya ku lakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah. Mencari pahala tidak melulu ada dalam mesjid atau musholla bekerja rutinitas ketika dilakukan dengan cinta dan ikhlas juga Allah SWT akan menilainya”, ujar Ani sambil mempersiapkan mengambil mukena karena sudah tiba waktu sholat Johor.
Seperti biasa ketika tidak ada petugas lain atau guru maupun staf TU yang membantu pintu perpustakaan dikunci karena takut ada hal-hal yang tidak diinginkan. Lain halnya ketika ada orang sholat Johor bisa bergantian dan satu orang yang biasa disuruh untuk membeli nasi untuk makan siang. Kebersamaan mempunyai nilai yang amat positif terutama dari segi pekerjaan. Bisa cepat selesai dan mengerjakan tugas lainnya.





