Dalam pikiran bu Ani makan siang akan dilanjutkan setelah tamu pulang, namun malah tidak bisa melanjutkan makan karena tamu orang tua murid pada datang.
“Waduh..kok malah ramai ya..”, cetusnya sembari tetap tersenyum dan tenang seakan tidak terjadi apa-apa. Ternyata sampai pukul 15.00 tamu baru berhenti yang datang memang setiap hari begitu. Lagi pula bekerja sendiri.
Mencoba iseng menggamitkan tangan meraih tempat nasi dan membukanya. Tidak langsung menyantapnya walau terasa lapar dan kelelahan seharian bekerja di perpustakaan. Dicium terlebih dahulu naai yang sudah diaduk lauk pauk tetalan daging dan sayur sawi serta ditambah ikan teri. Pikirnya masih enak, namun sudah berubah rasa dan aromanya. Walaupun terasa lapar, tidak jadi makan dan akhirnya keluar ruangan untuk mencari kucing yang setiap hari ada di luar menunggu sisa makanan.
Hari itu tidak seperti biasanya kucing yang tengah hamil tua tidak ada di luar.
“Kemana ya si putih endut”, ujarnya sambil mencari kucing itu atau jika ada yang lain akan diberikan. Hari itu tidak nampak satu pun kucing di depan pintu perpustakaan.
“Aneh..Kemana ya.., wah dia lahir kali ya dimana? ujarnya ada rasa penasaran. Terasa sayang nasi dan ikan yang sudah diadukan jika dibuang begitu saja. Ia suka teringat ucapan orang tua.
“Bisa menangis nasi atau makanan apa pun dibuang begitu saja”, renungnya.





