Setelah sholat Magrib teringat ada sisa makanan yang tak sempat dimakan karena banyak tamu di perpustakaan. Meraih kantong plastik tadi dalam tas ransel warna merah marun. Melangkah kan kaki menuju kandang ayam di luar terpisah dengan rumah. Tentu saja di hati Ani terasa dosa memberikan makanan ke ayam dari nasi yang sudah basi, namun minta keridoan pada Tuhan, agar tetap ayam peliharaannya tidak apa-apa. Tidak sakit dan tidak mati. Sudah sering diberi makan seperti itu.
Senja sudah semakin temaram. Di luar sana gelap, apalagi menatap gunung Salak terasa gelap dan awan semakin menebal. Mungkin terasa akan hujan malam.
Hidup rutinitas dilakukan setiap hari. Malam terasa lelah dan letih, namun tidak bagi nenek baru bercucu tiga dari anak pertama. Malam hari bangun karena cucu menangis ingin meminta air susu. Dibuatkan walau jam menunjukkan pukul 02.00 pagi. Ada baiknya akhirnya sholat malam yaitu Tahajud malam. Meminta pada Allah SWT selepas solat zikir. Utamanya meminta kesehatan untuk bisa bekerja dengan baik dan tetap semangat.
“Niat tulus dan ikhlas bekerja karena Allah SWT “, gumamnya dengan rendah dalam kalbunya.
Esok masih tetap bisa melakukan aktivitas dengan penuh cinta dan ketulusan.
Rutinitas di sekolah hingga pensiun tentunya. Banyak hal yang bisa dilakukan menabung amal untuk bekal esok.
“Patut kita bekerja dengan mendekatkan diri pada-Nya”, gumamnya penuh keihlasan.
Berkarya pun tetap dilakukan dengan cinta dan ikhlas karena ada yang harus kita simpan jejak itu. Iya teringat dengan kalimat uga yang bijak terpampang di bangunan indah samping tugu Kujang yakni bangun hadiah kota Bogor sebagai kota Pusaka. “Di nu kiwari ngancik nu Bihari seja ayeuna sampeueren jaga “, ungkapnya penuh makna dan filosofis orang Sunda. Sembari meraih kunci motor untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Makna kalimat tadi kurang lebih, “Apa yang kita nikmati hari ini ada yang menargetkan sebelumnya dan apa yang kita kerjakan hari ini untuk anak cucu akan datang”.
Bogor sebagai kota Pusaka yang tentunya jejak raja termashur yaitu Prabu Siliwangi oleh karena banyak peninggalan sejarah di Tatar Sunda ini untuk kita renungkan dan diambil hikmah dan pelajaran.
Penulis adalah pegiat literasi di Kota Bogor. Email: ridanurdiani67@gmail.com, Hp/WA: 087874255991





